Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Juli 2026 15:57 3:57 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Juli 2026 16:00
Bagikan
Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi
Bagikan

Oleh: Ahmad Rohim

Di zaman digital saat ini, informasi mengalir tanpa batas. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses jutaan data, opini, video, dan berbagai bentuk pengetahuan dari seluruh penjuru dunia.
Kemudahan ini membawa manfaat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan komunikasi manusia. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan serius, terutama bagi keberlangsungan otoritas keilmuan Islam dan penghormatan terhadap warisan ulama.

Fenomena yang kita saksikan hari ini adalah munculnya generasi yang memperoleh pengetahuan agama secara instan. Sebagian orang merasa cukup belajar agama melalui potongan video pendek, kutipan media sosial, atau ceramah yang beredar tanpa mengetahui latar belakang keilmuan penyampainya. Akibatnya, proses belajar yang dahulu menuntut adab, ketekunan, dan bimbingan guru mulai tergeser oleh budaya serba cepat dan serba praktis.

Padahal dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar kumpulan informasi. Ilmu adalah cahaya yang diwariskan melalui proses panjang, melibatkan sanad keilmuan yang terjaga dari generasi ke generasi. Para ulama selama berabad-abad telah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. Mereka meneliti hadis, menafsirkan Al-Qur’an, menyusun kitab, mendidik murid, dan membangun peradaban yang menjadi fondasi umat hingga hari ini.

Karena itu, warisan ulama tidak hanya berupa kitab-kitab yang tersimpan di rak perpustakaan. Warisan ulama adalah cara berpikir, metodologi memahami agama, tradisi keilmuan, adab mencari ilmu, serta keteladanan hidup yang mereka tinggalkan. Jika warisan ini hilang, maka umat berisiko kehilangan kompas (arah tujuan hidup) yang selama berabad-abad membimbing perjalanan mereka.

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Disrupsi informasi menghadirkan tantangan baru yang tidak ringan. Algoritma media sosial sering kali lebih mengutamakan popularitas dibanding kualitas ilmu. Konten yang sensasional lebih mudah viral dibanding kajian yang mendalam. Akibatnya, sebagian masyarakat lebih mengenal figur yang pandai berbicara daripada ulama yang memiliki kedalaman ilmu yang zuhud dan integritas keilmuan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara informasi dan ilmu. Tidak semua yang tersebar di internet dapat dijadikan rujukan. Tidak semua orang yang berbicara tentang agama memiliki kapasitas keilmuan yang memadai. Islam mengajarkan pentingnya tabayyun, verifikasi, dan kehati-hatian dalam menerima berita maupun pengetahuan. Prinsip ini semakin relevan di tengah banjir informasi yang sering kali bercampur antara fakta, opini, dan manipulasi.

Al-Qur’an memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada para ulama. Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa ulama bukan sekadar orang yang banyak mengetahui informasi agama, melainkan mereka yang ilmunya melahirkan ketakwaan dan kedekatan diri kepada Allah. Oleh sebab itu, menjaga warisan ulama berarti menjaga sumber kebijaksanaan yang lahir dari perpaduan antara ilmu dan ketakwaan.

Lebih jauh, sejarah membuktikan bahwa kejayaan peradaban Islam selalu ditopang oleh kekuatan ulama dan lembaga pendidikan. Dari Madinah, Baghdad, Damaskus, Kairo hingga Nusantara, para ulama menjadi penjaga akidah, pembimbing masyarakat, sekaligus motor peradaban. Mereka tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga membangun budaya ilmu, etika sosial, dan semangat kemajuan.

Sayangnya, di era digital sebagian generasi muda lebih akrab dengan tokoh-tokoh media sosial daripada mengenal karya para ulama besar. Nama-nama seperti Imam Al-Ghazali, Imam An-Nawawi, Ibnu Katsir, atau Syekh Nawawi Al-Bantani mulai terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal pemikiran dan karya mereka tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan manusia sepanjang zaman.

Karena itu, menjaga warisan ulama harus menjadi agenda bersama umat Islam. Pertama, memperkuat budaya membaca kitab dan karya ulama. Kedua, menghidupkan kembali majelis ilmu yang mempertemukan murid dengan guru secara langsung. Ketiga, memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkan khazanah keilmuan Islam yang otoritatif. Keempat, menanamkan adab terhadap ulama sejak dini dalam keluarga dan lembaga pendidikan.

Teknologi bukanlah musuh. Justru teknologi dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas akses terhadap warisan keilmuan Islam. Tantangannya adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat tradisi ilmu, bukan menggantikannya. Digitalisasi kitab, perpustakaan daring, kajian virtual, dan platform pendidikan Islam dapat menjadi jembatan antara khazanah klasik dan kebutuhan generasi modern.

Pada akhirnya, masa depan umat tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga akar keilmuan. Umat yang kehilangan hubungan dengan ulama akan mudah terombang-ambing oleh opini yang berubah setiap saat. Sebaliknya, umat yang tetap terhubung dengan warisan ulama akan memiliki pijakan yang kokoh dalam menghadapi perubahan zaman.

Di tengah disrupsi informasi yang terus bergerak cepat, menjaga warisan ulama bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan peradaban. Sebab dari merekalah kita belajar memahami wahyu, menata kehidupan, dan menemukan arah perjalanan hidup (sebenarnya) dalam rangka menuju ridha Allah SWT. Warisan itu adalah cahaya yang tidak boleh padam, karena tanpanya umat akan kehilangan kompas yang menunjukkan jalan kebenaran. Wallahua’lambishawab.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ilmuPilihan Redaksiulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gelombang Serangan ‘Israel’ Paksa Warga Gaza Mengungsi di Tengah Kegelapan Malam
Tulisan selanjutnya INSISTS Camp 2026: Mengalirkan Ilmu dan Menguatkan Benteng Peradaban dari Rumah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hari Pertama Sekolah yang Tak Kunjung Usai, Bocah Palestina Syahid Dibom ‘Israel’

Berita
7 September 2026 14:02
Tidak Bermanfaat Bagi Negara, Kenya Depak Raksasa Kimia India Tata Chemicals
Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
Zionis Terus Targetkan Anak, Serangan ‘Israel’ di Lebanon Tewaskan Hampir 800

Terbaru

  • Balas Sanksi terhadap Permukiman Ilegalnya, ‘Israel’ Ancam Tutup Konsulat Inggris
  • ‘Israel’ Percepat Pembangunan 1000 Rumah untuk Pemukim Ilegal di Tepi Barat
  • Sanksi Inggris Hanya Menarget Pemukiman Ilegal ‘Israel’, Bukan Zionis
  • Al-Azhar Kecam Aksi Penistaan Al-Quran di Gereja New York
  • 11 Negara Eropa dan Kanada Sepakati Larangan Dagang dengan Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Media ‘Israel’: UEA Pernah Peringatkan Zionis Soal Operasi Thufan Al-Aqsha
  • 100 Mahasiswa Palestina Di-DO karena Kritisi Perang Genosida di Gaza
  • Suriah Rangkul Faksi Bersenjata untuk Pastikan Monopoli Senjata
  • Qatar: Negara Teluk Jangan Hanya Andalkan Perlindungan AS
  • Zionis Terus Targetkan Anak, Serangan ‘Israel’ di Lebanon Tewaskan Hampir 800

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?