Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Homoseksual dan Kehancuran Peradaban di Barat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Juli 2013 09:16 9:16 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Juli 2013 09:16
Bagikan
Bisa diprediksi, kekacauan hebat akan menimpa Barat, jika pendapat sang Paus benar-benar akan diikuti kaum Katolik sedunia
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

DALAM Paus Benediktus XVI mengeluarkan pernyataan kontroversial di kalangan gereja, bahwa kaum Gay harus diberi hak setara dengan manusia lainnya. Dalam pernyataan terbaru ia mengatakan, “Tidak seharusnya kelompok gay terpinggirkan. Mereka justru harus diintegrasikan dengan masyarakat,” demikian kata Paus Fransiskus seperti dikutip tempo.com pada 29 Juli 2013.

Menurut Paus Fransiskus, tidak ada otoritas yang berhak menghakimi perilaku kaum gay, otoritas Gereja sekalipun.

Melihat pernyataan pemimpin umat Katolik sedunia ini, setidaknya menunjukkan, peradaban bangsa Barat saat ini makin terancam. Yang lebih mengenaaskan, penyakit homoseksual dan lesbian justru mendapat legitimasi langsung dari pemimpin agama nomor satu di Katolik.

Ada kabar, bahwa kaum gay telah melakukan lobi-lobi kepada Vatikan. Setelah sekian lama melobi otoritas tertinggi kaum Katolik seduania itu, kaum gay akhirnya mendatkan angin dari Paus Fransiskus. Fransiskus cenderung berpikir sekular. Karena itu, ia merasa tidak memiliki hak untuk menilai kaum gay. Jika seseorang berorientasi gay, mencari Allah, dan memiliki niat baik, apa saya punya hak untuk menghakimi mereka,” tuturnya lagi.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Tentu saja, sikap resmi Paus Fransiskus diprediksi akan mengubah paradigma Gereja Katolik sedunia yang selama ini belum sepakat mengenai hukum homoseks. Beberapa waktu lalu pendeta di AS dan Eropa menyatakan diri sebagai penganut gay. Paus Benediktus VXI menyatakan perkawinan sejenis pendeta terlarang. Namu kini diprediksi keadaan akan lain. Ironi kalangan pendeta Katolik liberal sedang dimainkan. Ternyata mereka memilih kumpul kebo dengan pasangan sejenis, daripada nikah secara agama. Sebab, otoritas Gereja ‘mengharamkan’ abdi gerja itu untuk menikah. Menikah  dengan pasangan lain jenis‘haram’, tapi homoseks ‘halal’. Begitulah kira-kira pikiran Paus.

Padahal, Paus Benediktus menandatangani sebuah dokumen pada tahun 2005 yang mengatakan pria dengan kecenderungan homoseksual tidak boleh menjadi imam. Namun, Paus Franciskus mengatakan, pendeta gay harus diampuni dosanya. Mereka juga berhak menjadi imam.

Selama ini otoritas Gereja dianggap penghalang bagi kaum gay. Namun kini di era Paus Franciskus, sekularisasi di lingkungan gereja diprediksi akan berada pada tingkat akut.

Di kalangan ilmuan Barat sendiri, penyakit homo dan lesbi pernah diperdebatkan. Perdebatan dimulai pada tahun 1970. dengan terbitnya tulisan Dr. Simon LeVay’s dalam majalah science. Artikel ini mendapat publikasi yang luar biasa karena ia menulis tentang asal usul biologi (teori genetik) homoseksual, sehingga menutupi kajian-kajian lainnya yang menafikannya.

Jeffrey Satinover dalam bukunya Homosexuality and the Politics of Truth, menyebutkan 3 hujah pendukung “gay politics”. Homoseksual adalah diturunkan secara biologis, homoseksual tidak dapat diubah secara psikologi, homoseksual adalah hal yang normal secara sosiologi.

Melalui lobi sosio-politik akhirnya mereka berhasil mendesak dan mempengaruhi APA (American Psychiatric Association) agar membuang homoseksual DSM (Dianostic and Statistical Manual of Mental Disorders) yang menyebutkan bahwa homoseksual adalah penyakit yang dapat dirawat oleh psikiatris.

Kajian dua ilmuan itulah yang menyebabkan makin tersebarnya penganut gay dan lesbian. Karena mereka merasa ‘save’ bahwa perilaku mereka dianggap normal oleh ilmuan, maka sejak tahun delapan puluhan perilaku gay dan lesbi mulai marak di Barat.

Para pemuda-pemudinya enggan nikah secara normal. Mereka cukup mencari kepuasan seksual dengan pasangan sejenis. Fenomena ini mengakibatkan menurunnya jumlah kelahiran di Negara-negara Barat.  Tentu saja, fenomena ini merupakan ancaman bagi peradaban modern.

Teori Satinover itu kemudian dibantah para saintis Barat. Dalam penelitian terbaru ternyata mereka menemukan bahwa gay dan lesbi adalah penyakit. C. Mann dalam artikel mengenai “Genes and Behavior” dalam majalah Science bahwa faktor utama Homoseksual adalah faktor lingkungan dan data-data yang digunakan untuk mengukuhkan teori genetik juga menunjukan betapa besarnya faktor yang bukan genetik.  Byne, seorang psikiatris yang memiliki ijazah kedokteran dalam Biologi, dan Parson pada tahun 1993 menganalisa segala kajian biologi terhadap homoseksual dan menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung teori genetik tersebut.

Terlepas dari perdebatan para ilmuan Barat, ternyata kajian mereka sepertinya ditutup oleh pemikiran liberal Paus Fransiskus. Bisa diprediksi, kekacauan hebat akan menimpa Barat, jika pendapat sang Paus benar-benar akan diikuti kaum Katolik sedunia. Disamping akan tersebarnya penyakit seksual, berhentinya regenerasi manusia akan menghancurkan peradaban sekuler Barat.

Mohammad Asad (Leopold Weiss) telah mengingatkan terhadap gaya peradaban Barat yang bersifat destruktif itu ancaman manusia. Ia menyatakan bahwa bahaya terbesar bagi eksistensi umat manusia, baik Muslim mapun sekular, adalah kecenderungan pola pikir Barat yang anti-Tuhan, membuang agama, dan materialistis.

Menurut Asad, karakteristik Barat yang tidak mengenal pertimbangan akhirat, semangat berpikirnya menundukkan agama dalam dinamika sejarah, meniadakan nilai tetap, dan semua nilai harus tunduk kepada dinamika budaya manusia inilah yang faktor utama yang menghancurkan peradaban manusia. Pernyataan Paus Fransiskus yang berupa larangan menghakimi kaum gay tidak lain adalah produk dari paradigma pemikiran anti-nilai, bebas dari aturan agama.

Dalam Islam, perilaku gay dan lesbi diatur agar manusia terhindar dari bencana dan penyakit itu. Perilaku tersebut dikutuk dan merupakan dosa besar. Hukum ini tetap, tidak akan berubah sampai hari kiamat. Rasulullah Salallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth.”(HR. Ibnu Majah). Dalam hadis yang lain, Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali).” (HR: Nasa’i).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya; ‘Kenapa kalian melakukan perbuatan keji itu sedang kalian bisa berpikir? Mengapa kalian berhubungan dengan sesama lelaki untuk melampiaskan syahwat dan menelantarkan perempuan? Sebenarnya kalian adalah kaum yang bodoh’.” (QS.Al-Naml: 55).*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, aktiv di InPAS Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:gereja katolikhomoseksuallesbianpausperadaban baratvatikan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Imam Syafi’i dan Para Lawan Debatnya
Tulisan selanjutnya Sepuluh Malam Terakhir jadi “Wisata Spiritual”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?