Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Mari Sikapi “Islam Nusantara” Secara Adil [3]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Juni 2015 16:05 4:05 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Juni 2015 17:10
Bagikan
Salah satu ritual 1 Suro, hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura (Suro) yang bertepatan dengan 1 Muharram (Tahun Baru Islam) dalam kalender hijriyah
Bagikan

Sambungan atikel KEDUA

Oleh: Adif Fahrizal

Pentingnya Tabayyun dan Silaturahim

Di satu sisi timbulnya anggapan yang demikian sebenarnya wajar saja karena memang istilah “Islam Nusantara” itu sendiri masih terdengar rancu di telinga banyak orang. Justru di sinilah letak kewajiban para pengusung wacana ini dari kalangan intelektual pesantren untuk menjelaskan “Islam Nusantara” kepada khalayak umat Islam Indonesia secara luas sehingga syubhat bahwa “Islam Nusantara” adalah kedok liberalisasi dapat ditepis. Terkait dengan hal ini, menurut hemat penulis akan lebih baik jika para intelektual pesantren yang mengusung “Islam Nusantara” menggunakan istilah yang lebih jelas maknanya misalnya “kebudayaan Islam Nusantara”, “peradaban Islam Nusantara”, atau “khazanah keilmuan ulama Nusantara” agar terhindar dari kerancuan pemahaman dan su`uzhon dari sebagian umat Islam.

Di sisi lain penting pula bagi umat Islam yang terlanjur mengambil sikap kontra terhadap wacana “Islam Nusantara” untuk melakukan tabayyun atas wacana ini. Hendaknya kita tidak terburu-buru mengambil kesimpulan apalagi memvonis suatu wacana tanpa memahami duduk persoalan yang sebenarnya. Adanya kritik tentu sah-sah saja namun sudah seharusnya bila penilaian dan penyikapan atas wacana “Islam Nusantara” dilandasi sikap adil, obyektif, dan pikiran yang jernih. Untuk itu silaturahim antara pihak-pihak yang selama ini kontra terhadap “Islam Nusantara” dengan kalangan intelektual pesantren yang mengusungnya juga menjadi penting. Lagi-lagi menurut hemat penulis kontroversi di seputar wacana “Islam Nusantara” ini sesungguhnya terjadi karena salah paham dan gagal paham di antara kedua belah pihak yang hanya bisa diselesaikan dengan duduk bersama dalam semangat ukhuwwah.

Baca Juga

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka

Menyambung Kembali Hubungan Islam dan Kebudayaan Nusantara

Terlepas dari kontroversi yang meliputinya, sepanjang dipahami secara tepat wacana “Islam Nusantara” sejatinya bisa menjadi sarana untuk menyambung kembali hubungan Islam dan kebudayaan Nusantara yang selama ini terputus atau sengaja hendak diputus oleh segelintir orang. Selama ini para orientalis kerap menganggap bahwa Islam hanyalah lapisan tipis di atas kebudayaan Nusantara yang intisarinya adalah animisme, dinamisme, Hinduisme, dan Buddhisme. Seolah-olah Islam yang dianut sebagai agama mayoritas penduduk kepulauan ini tidak mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan masyarakatnya.

Dalam wacana kebudayaan nasional khazanah kebudayaan Islam ditutupi oleh penonjolan warisan zaman Hindu-Buddha. Peninggalan-peninggalan Hindu-Buddha seperti candi dan naskah-naskah kuno dari masa itu ditampilkan sebagai representasi kebudayaan Nusantara sementara sekian banyak masjid, kitab-kitab ulama dalam bahasa lokal, dan karya-karya sastra bernuansa Islam yang begitu melimpah seolah dikesampingkan begitu saja. Tanpa harus menafikan adanya sisa-sisa pengaruh atau kesinambungan budaya dari masa pra-Islam, sikap menafikan pengaruh Islam dalam kebudayaan Nusantara jelas merupakan sikap yang tidak adil dan ahistoris.

Dalam konteks ini maka kehadiran wacana “Islam Nusantara” menjadi suatu hal yang tepat untuk menunjukkan bahwa Islam mempunyai sumbangsih yang besar bagi pembentukan kebudayaan Nusantara bahkan boleh dikatakan Islam adalah ruh dari kebudayaan sebagian besar masyarakat Nusantara. Diperlukan upaya serius untuk menggali kekayaan budaya Islam di Nusantara ini dan bila perlu merevitalisasinya untuk menjawab tantangan yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia umumnya hari ini. Untuk itu kerja-kerja intelektual dan kerja-kerja kebudayaan lainnya yang lebih luas menjadi sebuah keniscayaan. Di sinilah potensi sumber daya umat Islam perlu disalurkan. Sangat sayang jika energi umat dihabiskan untuk memperdebatkan suatu wacana namun kita lupa akan pokok permasalahan sesungguhnya yang perlu dijawab. Wallahu a’lam bish shawab.*

 

Penulis adalah mahasiswa S2 Sejarah Universitas Gajah Mada

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ArabindonesiaislamIslam Nusantaraislamisasinusantara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya TV Belanda Nekad Tayangkan Kartun Nabi Muhammad
Tulisan selanjutnya Referendum Konstitusi Australia untuk Akui Aborigin sebagai Penduduk Pertama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

600 Aktivis Wahdah Islamiyah Ikuti Standardisasi Dai MUI

Berita
27 Agustus 2026 12:13
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

18 April 2026 09:01
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?