Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Di PLN Pusat, Empat Remaja Asmat Bersyahadat

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 16 Januari 2016 06:44 6:44 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 16 Januari 2016 06:44
Bagikan
Yopi (kanan) bersyahadat dengan bimbingan Syamsurijal Munif, Ketua Lazis PLN.
Bagikan

YANCE menghambur senyumnya sesemringah mungkin. Barisan gigi putih kekuningan tampak dari balik kedua bibir pria berkulit hitam itu. Ia tengah duduk lesehan bersama 3 orang sebayanya.

Keempat remaja asli suku Asmat, Papua, itu dikelilingi 500-an pria. Tapi bukan di kampung mereka. Melainkan di lantai dua Masjid at-Taqwa, kantor pusat PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Jl Trunojoyo, Jakarta.

Kamis, 4 Rabiuts Tsani 1437 H (14/01/2016) itu menjadi hari istimewa. Baju koko-peci putih dan sarung yang mereka kenakan menjadi saksi. Ini adalah momentum bersejarah atas perpindahan keyakinan mereka.

Ya! Siang itu, secara berurutan, Yance (18), Yopi (16), Gerry (15), dan Hilman (15) mengucapkan dua kalimat syahadat. Satu persatu, mereka dibimbing oleh 4 orang pengurus PLN dan Lembaga Amil Zakat (Lazis)-nya.

Prosesi ini berlangsung usai shalat Zuhur, disaksikan para jamaah yang kebanyakan karyawan BUMN itu. Pengamatan hidayatullah.com, suasana haru campur bahagia menyelimuti masjid tersebut. Beberapa kali pekikan takbir jamaah memenuhi ruangan.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Pengislaman ini diprakarsai dan didampingi oleh Ketua Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Ustadz Fadlan Garamatan, serta Kepala Suku Asmat Besar, Umar Abdullah Kayimter.

“Asyhadu alla ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah,” ujar Yance yang bersyahadat cukup lancar, dibimbing oleh Helmi Najamuddin, Kepala Keselamatan dan Kesehatan Kerja PLN.

Menyusul kemudian Yopi, ia bersyahadat dengan bimbingan Syamsurijal Munif, Ketua Lazis PLN. Lalu Gerry oleh Herry Hasanuddin (Ketua Bidang Koordinasi dan Kerjasama Strategis Lazis PLN).

Sementara Hilman dipandu Heru Sri Widodo, General Manager PLN UIP 1 Medan yang sedang ada urusan di Jakarta.

Usai itu, atas permintaan Fadlan, keempat pengurus PLN tersebut memberi nama sesuai keinginannya kepada masing-masing mualaf yang dibimbingnya.

Di Balik Nama Baru

Selepas pemberian nama, tuan rumah memberikan hadiah dan bingkisan perlengkapan Muslim kepada para mualaf. Lazis PLN mengagendakan memberikan mereka beasiswa pada Jumat (15/01/2016) siang.

“Untuk anak-anakku ini, dari Lazis PLN menyampaikan hadiah Rp 5 juta. (Penyebutan) ini bagian dari transparansi (penggunaan dana),” ujar Syamsurijal.

Para mualaf (bawa bingkisan) foto bersama Fadlan, Umar, serta para pengurus PLN. [Foto: Syakur]
Para mualaf (bawa bingkisan) foto bersama Fadlan, Umar, serta para pengurus PLN. [Foto: Syakur]
Para jamaah pun menghadiahkan mereka dengan salaman, pelukan, dan cipika-cipiki. Terlihat pula seorang karyawan memberikan mereka uang tunai ratusan ribu rupiah.

Siang itu, diiringi doa para jamaah, Yance berganti nama menjadi Muhammad Yusuf, Yopi jadi Muhammad Ismail, Gerry jadi Muhammad Iqbal, dan Hilman jadi Muhammad Hanif.

Nama baru Yance dan Yopi mengambil spirit dari nama Nabi Yusuf dan Nabi Ismail. Sedangkan nama Iqbal, kata pemberinya, dipilih sebagai doa agar sang pemilik menjadi orang yang cerdas.

“Saya suka nama Nabi Ismail. Dia berkurban, kemudian dia orang yang taat kepada orangtuanya, orang yang teguh. Jadi saya harapkan Yopi seperti Nabi Ismail,” ujar Syamsurijal.

Seakan menguji, ia lantas bertanya kepada Yopi, “Siapa namanya?”

“Muhammad Ismail,” jawab Yopi alias Ismail dengan mantap tapi agak pelan.

Sementara Heru punya alasan tersendiri. Kata dia, karena nama Hilman dan nama Heru sama-sama berawalan H, maka dia memberi mualaf yang dibimbingnya itu nama Hanif.

“Hanif seperti (nama) anak saya yang pertama,” ujarnya sedikit berguyon disambut tawa kecil sebagian hadirin.

Setiap selesai pemberian masing-masing nama itu, jamaah berbarengan mendoakannya dengan bacaan Surat al-Fatihah.

Selama ini, keempat remaja itu hanyalah lulusan Sekolah Dasar. Di tempat asal, Kampung Peer, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, mereka tak tentu profesi. Kadang melaut, kadang menganggur. Tak heran jika mereka belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Seorang reporter media online yang hendak mewawancarai mereka saat itu sempat menceletuk, “Saya menanyakan umurnya aja susah banget dijawab.” Fadlan pun menjadi juru bicara ke wartawan.

Didukung Keluarga Nasrani

Fadlan menjelaskan, para santrinya itu baru tiba di Jakarta, Selasa (12/01/2016) lalu. Dalam proses pembinaan sebagai mualaf, mereka dimasukkan ke Pondok Pesantren Nuu Waar di Bekasi, Jawa Barat, yang dikelola AFKN.

Lembaga dakwah khusus anak-anak Papua ini memang memiliki kerjasama dengan Lazis PLN, yang telah cukup perhatian terhadap para santri Nuu Waar. “Lazis PLN telah memberikan beasiswa 76 santri Irian selama tahun 2016 ini,” ujarnya mencontohkan kepada hidayatullah.com usai acara.

Nantinya, setamat dari pesantren, Fadlan menargetkan, mereka dipulangkan untuk menghidupkan kampungnya dengan sosok dan jiwa baru, bersama cita-cita masing-masing.

“Harapannya ke depan mereka ini akan tampil menjadi anak bangsa yang gagah, pintar, cerdas, dan hebat. Sehingga memahami Islam yang ada dengan kuat dan menjaga NKRI di belakang sana (Papua. Red)” ujarnya.

Para remaja berlatar keluarga Nasrani itu tentunya masuk Islam karena hidayah Allah Subhanahu Wata’ala. Selain tanpa paksaan, kata Fadlan, juga didukung keluarga mereka.

Berdoa untuk kebaikan para mualaf Asmat, Papua. [Foto: Syakur]
Berdoa untuk kebaikan para mualaf Asmat, Papua. [Foto: Syakur]
Usai bersyahadat, Yusuf, Ismail, Iqbal, dan Hanif bersantap siang bareng di lantai dua ruang kantor masjid. Seorang dari mereka pun mengambil beberapa tangkai buah anggur dari atas meja, lalu menikmatinya.

Kenikmatan hidangan yang dirasakan itu, akan jauh lebih dahsyat, jika mereka mampu mencicipi Islam dengan keistiqomahan. Sebagaimana harapan Syamsurijal dalam doanya saat di masjid; “Mudah-mudahan diberikan keberkahan yang melimpah, kemudian bersama-sama (kita) masuk ke syurga. Aamiin!.”*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BUMNdakwahhidayahIrian JayamualafNuu WarPapuaPondok Pesantren Nuu Waar
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gereja Anglikan Beri Sanksi Cabangnya di Amerika Serikat karena Dukung Perkawinan Homoseksual
Tulisan selanjutnya Soal Aliran Gafatar, Komisi VIII Meminta MUI Mengkaji Secara Mendalam dan Menfatwakan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?