Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Teladan Salaf dalam Berinteraksi dengan Ramadhan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Juni 2016 09:58 9:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Juni 2016 09:58
Bagikan
Bagikan

MERUPAKAN sebuah kelaziman jika momen Ramadhan bisa merubah secara drastis intensitas dan kuantitas ibadah kebanyakan orang Islam. Fenomena ini bisa dilihat dari ramainya shalat berjama`ah di masjid, semaraknya khataman al-Qur`an, semakin meningkatnya sedekah, demikian juga amal-amal lainnya. Tentu –secara hukum- tidak ada yang salah dengan hal ini.

Hanya saja, selama ini cara kita berinteraksi dengan Ramadhan,  sudahkah sesuai dengan teladan para salaf?

Ibnu Rajab Al-Hanbali pernah menceritakan bagaimana persepsi sebagian ulama salaf mengenai Ramadhan, “Puasalah –selama- di dunia! Jadikan (waktu) hari rayamu adalah kematian. Seluruh –waktu- di dunia adalah bulan puasa(Ramadhan) bagi orang yang bertakwa. Mereka berpuasa di dalamnya dari berbagai syahwat serta hal yang haram. Ketika maut datang menjemput, maka berakhirlah masa puasa mereka, lalu mereka mengawali hari raya idul fitri mereka.”(Lathâif al-Ma`ârif, 147).

Kata-kata tersebut sungguh melecut kesadaran kalbu. Bila pada umumnya orang menganggap bahwa puasa Ramadhan dan Idul Fithri adalah ibadah tahunan, justru ulama salaf menganggap lebih esensial bahwa kehidupan di dunia ini pada dasarnya berpuasa. Dalam arti, menahan diri dari berbagai syahwat, maksiat, dan segala yang haram. Masa berbuka, masa hari rayanya adalah setelah ajal tiba menuju kehidupan yang lebih hakiki.

Kalau persepsi salaf itu dijadikan sebagai cermin, maka kira-kira Ramdhan kita sekarang ini sudah sejauh mana kualitasnya? Masing-masing individu tentu bisa mengukurnya. Yang menjadi persoalan kemudian ialah: bagaimana kita meneladani jejak para salaf dalam berinteraksi dengan Ramadhan, sehingga bisa memanfaatkannya secara maksimal?

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

Pertama, memperbaiki persepsi tentang Ramadhan. Memang benar Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat untuk mengerahkan segenap tenaga untuk beramal. Akan tetapi, menjadi persepsi yang salah kaprah jika Ramadhan hanya dijadikan momentum tahunan saja. Mereka para salaf –sebagaimana riwayat tadi- tidak pernah membeda-bedakan antara bulan Ramadhan dengan bulan yang lainnya, dalam arti: tetap beramal secara maksimal baik di dalam maupun di luar Ramadhan.

Sebagai contoh kecil, kalau kita jeli membaca perintah puasa di bulan Ramadhan, dalam Surah Al-Baqarah: 183, maka harus diingat bahwa goal terakhirnya adalah:

{ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ } [البقرة: 183]

Yaitu, “Agar kalian bertakwa.” Nah, takwa ini, tentu saja senantiasa terus diupayakan sepanjang hayat. Maka, Ramadhan justru dijadikan momentum untuk menularkan kebaikan-kebaikan yang dilakukan di dalamnya kepada bulan-bulan lainnya.

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menceritakan: Ada seorang budak perempuan yang dijual oleh salaf. Waktu itu, tuan barunya lagi sibuk menyiapkan makanan, minuman dan lain sebagainya untuk menyambut Ramadhan.

Buda itu pun berkomentar, “Kalian tidak puasa, melainkan saat Ramadhan. Dulu, aku bersama tuan yang semua waktunya adalah Ramdhan. Kembalikanlah aku kepadanya!”(Nidâu al-Rayyân, 163).

Bagi mereka, Ramadhan adalah sepanjang usia, sehingga tidak ada bulan lain yang sia-sia.

Kedua, jadikanlah ini seolah-olah sebagai Ramadhan terakhirmu. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa akan menjumpai Ramadhan selanjutnya. Jika kesadaran ini tumbuh, maka tidak akan membeda-bedakan amal baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Kalau setiap orang tahu bahwa ajal sudah dekat, pasti akan berusaha beramal semaksimal mungkin.

Kesadaran akan datangnya ajal ini, sangat efektif dalam meningkatkan kepekaan seseorang dalam beramal. Dalam al-Qur`an kita bisa melihat bagaimana kematian bisa menjadi pelecut kesadaran:

وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٠

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?.”(QS. Al-Munafiqun[63]: 10).

Jika ini dikaitkan dengan Ramadhan, kira-kira bahasanya demikian, “Jika ini Ramadhan terakhirku, maka aku akan berusaha semaksimal mungkin beramal dan menjadi bagian penting dari orang-orang yang shalih.” Intinya, mengingat ajal atau kematian bisa menjadi sarana efektif agar kita selalu sadar beramal –sebagaimana para salaf- baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan.

Tidak berlebihan jika Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sering mengingatkan:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat yang bisa memutus kelezatan.” (HR. Tirmidzi).

Maksudnya adalah memperbanyak mengingat kematian. Para salaf menjadikan kematian sebagai pemicu kesadaran agar konsisten beramal di sepanjang tahun.

Ketiga, memperlakukan Ramadhan dan segenap ibadah di dalamnya dalam bingkai ihsan. Sebagaimana sabda nabi ketika ditanya tentang ihsan, beliau menjawab:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihatNya. Sedangkan jika kamu tidak bisa melihatNya, maka sungguh Dia melihatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya, ketika kita menjalani Ramadhan, yang dijadikan acuan adalah pengawasan Allah. Pengawasan Allah itu ada di sepanjang bulan. Orang memperlakukan Ramadhan dengan kesadaran ihsan, maka akan berusaha maksimal, intens beribadah, selalu merasa diawasi Allah sepanjang waktu. Sehingga nilai-nilai Ramadhan bisa tetap terlaksana di bulan lainnya.

Sebagai penutup, dapat disimpulkan, cara agar kita bisa meneladani salaf dalam memperlakukan Ramadhan adalah: memperbaiki persepsi tentang Ramadhan, menjadikan kematian sebagai pelecut kesadaran di bulan Ramadhan, serta memperlakukan Ramadhan dalam bingkai ihsan. Wallâhu a`lam.*/Mahmud Budi Setiawan

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:PuasaRamadhanRamadhan 1437 Hulama salaf
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Komnas HAM Soroti Pembatalan Perda Oleh Kemendagri
Tulisan selanjutnya 9 Tahun Berkarir, Kini Aku Bahagia jadi Ibu Rumah Tangga

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?