Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Mendudukkan Gelar ‘Gus’

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 Desember 2024 06:39 6:39 am
Ahmad
Dipublikasikan 9 Desember 2024 07:35
Bagikan
Bagikan

Gelar “Gus” bukanlah sesuatu yang pantas dibanggakan secara pribadi, sebaliknya, panggilan tersebut seharusnya menjadi pengingat kebesaran orang tua, bukan prestasi sendiri

Oleh: Kholid A.Harras

Hidayatullah.com | PANGGILAN “Gus” kembali menjadi bahan perbincangan setelah video viral yang menunjukkan tindakan  Miftah Maulana Habiburrahman, dianggap “menghina” seorang pedagang es teh.

Insiden ini memunculkan kritik tajam karena tindakan tersebut dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai yang melekat pada gelar “Gus.”

Sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama, tindakan Miftah seharusnya mencerminkan akhlak yang baik dan penghormatan terhadap sesama, terutama mengingat statusnya sebagai seorang penceramah yang dikenal publik.

Baca Juga

Keadilan dan Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi
Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace

Gelar “Gus” memiliki makna yang mendalam dalam tradisi pesantren, khususnya di Jawa Timur. Dalam wawancara yang dimuat oleh NU Online, Gus Kautsar, putra dari KH Abdurrahman Al-Kautsar, Pengasuh Pesantren Al Falah Ploso, menjelaskan bahwa panggilan “Gus” diberikan sebagai bentuk penghormatan masyarakat, bukan kepada si anak, melainkan kepada orang tuanya.

“Gelar ini sama sekali bukan untuk membanggakan dirinya, tetapi menghormati jasa-jasa orang tuanya,” tegas Gus Kautsar.

Dengan demikian, yang luar biasa dan dihormati bukanlah si “Gus,” melainkan orang tua mereka, yakni para kiai yang telah memberikan kontribusi besar dalam ilmu dan pembinaan umat.

“Gus” dalam Tradisi Pesantren

Di lingkungan pesantren, panggilan “Gus” biasanya diberikan kepada putra seorang kiai. Ini bukan sekadar gelar kehormatan, tetapi juga sebuah amanah besar yang membawa tanggung jawab moral untuk menjaga martabat keluarga, pesantren, dan masyarakat yang memberikan penghormatan tersebut.

Gelar ini mengisyaratkan harapan bahwa si anak mampu meneruskan tradisi keilmuan, akhlak, dan kepemimpinan yang telah dirintis oleh orang tuanya.

Namun, Gus Kautsar mengingatkan bahwa gelar “Gus” bukanlah sesuatu yang pantas dibanggakan secara pribadi. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa panggilan tersebut seharusnya menjadi pengingat akan kebesaran orang tua, bukan prestasi anak itu sendiri.

Jika seorang “Gus” gagal menjaga amanah ini, ia tidak hanya mencoreng nama keluarganya tetapi juga melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap makna luhur gelar tersebut.

Insiden yang melibatkan Miftah menjadi contoh nyata bagaimana gelar “Gus” dapat kehilangan makna ketika tidak disertai perilaku yang mencerminkan nilai-nilai luhur.

Sebagai seorang tokoh agama sekaligus pejabat negara, tindakannya yang menghina pedagang kecil di depan publik menunjukkan ketidakpekaan terhadap martabat manusia dan tidak mencerminkan akhlak mulia yang seharusnya melekat pada seorang yang bergelar “Gus.”

Panggilan “Gus” mengandung ekspektasi besar dari masyarakat, bahwa penyandangnya akan menunjukkan keteladanan dalam setiap tindakan.

Ketika gelar tersebut digunakan tanpa memahami tanggung jawab moral yang menyertainya, maka gelar itu kehilangan nilainya dan hanya menjadi simbol kosong yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Sebagai bentuk penghormatan masyarakat, gelar “Gus” seharusnya dipahami sebagai amanah besar yang mengharuskan pemiliknya menjaga sikap dan perilaku.

Dalam tradisi pesantren, kehebatan bukan terletak pada si anak yang bergelar “Gus,” tetapi pada keilmuan, akhlak, dan jasa besar orang tuanya yang dihormati. Oleh karena itu, gelar ini bukan untuk dibanggakan atau dijadikan alasan merasa lebih tinggi dari orang lain.

Sebaliknya, gelar “Gus” adalah pengingat bahwa pemiliknya harus menjaga martabat orang tuanya. Jika tindakan seorang “Gus” bertentangan dengan nilai-nilai agama dan tradisi pesantren, ia tidak hanya mencoreng nama baik keluarga, tetapi juga mengkhianati amanah yang diberikan oleh masyarakat.

Menyelamatkan Makna “Gus”

Kasus Miftah memberikan pelajaran penting tentang pentingnya mendudukkan kembali makna gelar “Gus” sesuai dengan tradisinya.

Gelar ini bukan untuk menonjolkan diri, melainkan untuk melanjutkan tradisi keilmuan dan kepemimpinan moral yang diwariskan oleh para ulama.

Setiap penyandang gelar “Gus” memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik keluarga dan lembaga yang mereka wakili, serta menjadi teladan bagi masyarakat.

Dalam konteks ini, tindakan Miftah seharusnya menjadi pengingat bahwa gelar “Gus” bukanlah sekadar simbol, melainkan panggilan untuk menjaga akhlak dan martabat dalam kehidupan sehari-hari.

Gelar ini hanya akan bernilai ketika pemiliknya mampu mencerminkan nilai-nilai luhur yang diharapkan oleh masyarakat.

Mendudukkan gelar “Gus” dengan benar berarti memahami bahwa penghormatan ini tidak diberikan untuk kebanggaan pribadi, tetapi sebagai penghargaan atas kebesaran orang tua dan tanggung jawab besar yang harus dijalankan.

Dalam setiap langkah dan tindakannya, seorang “Gus” diharapkan menjadi cerminan dari tradisi keilmuan dan akhlak yang luhur, bukan sekadar nama tanpa makna.**

Penulis dosen UPI, Bandung

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:GelarGelar GusGusGus MiftahHeadlineorang tuaprestasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Palestina gaza Tanpa Tempat Bernaung yang Layak, Musim Dingin Mengancam Warga Palestina di Gaza
Tulisan selanjutnya Anis Matta Terpilih Kembali jadi Ketua Partai Gelora

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Berita
17 Oktober 2026 21:46
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

7 Agustus 2026 17:00
Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?