Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Catatan Suara Umat untuk Presiden Jokowi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 September 2018 11:08 11:08 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 September 2018 10:40
Bagikan
Presiden Joko Widodo
Bagikan

oleh: Nissa Soewardjono

 

MENJELANG tahun politik, aliran politik identitas bukan lagi hal yang tabu disematkan oleh bakal calon peserta Pilpres.

Pada awalnya istilah politik identitas mempunyai arti yang tendensius, namun akhirnya serangan menggunakan politik identitas adalah keniscayaan yang harus siap mereka hadapi. Rezim menyadari betul akan hal ini, mengaca pada Pilkada DKI.

Karenanya, pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang selama ini oleh sebagian masyarakat, distigmakan sebagaian masyarakat ‘sering berkonfrontasi dengan kepentingan umat Islam’, secara tiba-tiba menggandeng Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amien  menjadi calon wakil presiden (cawapres), dengan menyingkirkan bakal calon  lain.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Seketika umat  dibuat bingung, dan tak sedikit yang menyambut dengan eforia,  melupakan ‘dosa-dosa penguasa’ kepada umat Islam. Terlebih pihak oposisi tidak jadi mengangkat ulama sebagai cawapres. Dari sini, umat Islam harus menyikapi dengan kritis terhadap pilihan calon di Pilpres nanti.

Ada beberapa kemungkinan alasan mengapa sebagian umat Islam tetap tidak akan memilih Jokowi di Pilpres 2019. Namun sebelumnya, perlu saya sampaikan bahwa  dasar persepsi saya tentang dua paslon peserta Pilpres adalah kaidah fiqh: Idhaa ta’aarodho dhororooni daf’u akhfahuma (jika ada dua pilihan maka pilihlah yang paling ringan mudharatnya).

Baca: Alumni dan Mahasiswa UI Bantah Dukung Jokowi 

Pertama, Jokowi diusung oleh partai yang dinilai sebagian orang ‘tidak bersahabat’ dengan umat Islam. Hal ini sangat penting, karena merekalah pembisiknya nanti terhadap kebijakan yang  terkait dengan kepentingan umat.

Sudah jadi rahasia umum, partai-partai pendukung yang sering disebut kelompok ‘penista agama’ ada di pihak mereka. Catatan tentang PDIP di parlemen sebagai partai yang tidak mengakomodir kepentingan umat, menjadi sejarah yang tidak terlupakan oleh sebagaian umat.

Kedua, sudah bisa diraba sinyalnya, ijtima’ ulama tidak mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Keputusan ijtima’ ulama setidaknya pendapat banyak perwakilan umat Islam Indonesia. Meskipun Jokowi berpasangan dengan seorang ulama, tapi keputusan perwakilan ulama dan tokoh Islam dalam ijtima’ punya kedudukkanya dari keputusan ulama per orangan atau kelompok kecil.

Ketiga, pemerintahan Jokowi menerbitkan  Perppu Ormas yang secara substansial dianggap merugikan sebagian umat Islam,  karena Perppu itu akan dianggap membatasi dan mengekang dakwah Islam.

Keempat,   dalam satu periode masa pemerintahan Jokowi, penistaan agama sangat sulit diproses  hukum sesuai azas keadilan. Rezim  tidak serius menangani pelanggaran hukum ini, bahkan terkesan menjadikan tersangka penista sebagai korban.

Contoh yang paling nyata adalah kasus penistaan agama oleh mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Begitu lambannya sikap Presiden Jokowi menjadikan Ahok tersangka, sehingga umat harus turun ke jalan.

Baca: Jokowi Serukan Relawannya Siap Berkelahi.

Kelima, adanya sejumlah catatan kriminalisasi ulama sepanjang masa kepemimpinan Presiden Jokowi. Dari ‘kriminalisasi’ pemimpin FPI Habib Rizieq, Shihab penahanan Ustadz Alfian Tanjung, sampai pemanggilan Ustadz Zulkifli Muhammad Ali dan usaha-usaha yang dirasakan umat Islam sebagai ‘kriminalisasi dai dan ulama’.

Keenam, dengan adanya pembiaran persekusi para dai dan dakwah Islam, mengindikasikan Pemerintahan di bawah Presiden Jokowi  dianggap tidak membawa semangat  persatuan umat, tapi  memperuncing perpecahan.

Ketujuh, Presiden Jokowi membiarkan keresahan umat, dengan wacana “Islam Nusantara”. Dimana sebagian umat menilai, ‘Islam Nusantara’ adalah sebuah ‘proyek liberalisasi ajaran Islam’, yang diharamkan dalam Fatwa MUI tahun 2005.

Kedelapan, di saat umat Islam sedang berduka karena ribuan masjid di Lombok hancur diterjang gempa, Menteri Agama bukannya memikirkan bagaimana membangun kembali masjid tersebut dengan segera, malah mengurusi masalah toa masjid.

Kesembilan, dua tahun yang lalu, tepatnya bulan Agustus 2016, CNN merilis berita tentang kebijakan rezim yang  mengakui keberadaan agama Yahudi di Indonesia dan mereka bebas menjalankan ajaran agamanya. Meskipun tidak menjadi agama resmi, tapi wacana pengakuan tersebut sangat menyakiti perasaan umat Islam.

Baca: Komnas HAM: Persekusi #2019GantiPresiden Melanggar HAM

Kesepuluh, penggunaan dana haji untuk pembangunan infrastruktur oleh pemerintahan Jokowi, di mana pemiliknya tidak mengetahui bagaimana pertanggungjawabannya.

Kesebelas, Presiden Jokowi memaklumi beredarnya kaos berlambang palu arit, sementara kaos lambang kalimat tauhid, kaos tagar #2019GantiPresiden dipermasalahkan dan diintimidasi.

Duabelas,  Fatwa MUI tahun 2015  mengharamkan pemimpin yang mengingkari janji saat kampanye. Jokowi dianggap tidak  menepati janji-janji kampanye pada Pilpres 2014.

Sejumlah catatan di atas kemungkinan menjadi alasan mengapa umat Islam akan mencukupkan Jokowi hanya satu periode saja masa pemerintahannya. Sekali lagi, itulah di antara suara-suara riak umat yang sering saya dengar di tetangga, pasar, tokoh dan lingkungan sekitar. Semoga hal ini menjadi catatan.*

Penulis, emak dengan lima anak, tinggal di Semarang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:#2019GantiPresidencalon presidencapresIslam NusantaraJoko widodoJokowikriminalisasi ulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya BPJPH Akui Belum Dapat Berfungsi, Bantah Tidak Bekerja
Tulisan selanjutnya pendidikan adab RUU Pesantren Jadi Usul Inisiatif DPR

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Berita
17 Juli 2026 15:23
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?