Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Khatib Kritik Pemerintah Sebuah Masalah?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Mei 2016 13:12 1:12 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Mei 2016 13:30
Bagikan
AM Fatwa saat di penjara rezim Orde Baru 1980
Bagikan

Oleh: Muhammad Cheng Ho

 

DI negara yang katanya demokratis ini, rupanya masih ada yang mengatur-atur, menghukum-hukum, dan melarang-larang orang yang mengkritik penguasa.

Yang mengejutkan, yang melakukan itu bukan pemerintah, melainkan warga. Baru-baru ini di Kelurahan Arenjaya, Bekasi, warga setempat sempat mengusir seorang ustadz berinisal W hanya karena mengkritik Densus 88.

W menempel pamflet di Mading masjid yang berisi berita tentang kematian Siyono di tangan Densus 88. Selain itu, W dituduh selalu mengkritik Densus 88 dan pemerintah melalui khutbah Jum’at-nya (Tempo.co, 7/5/2016).

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Belakangan W tidak jadi diusir setelah memberi penjelasan ke warga. Tapi W diminta membuat surat pernyataan yang isinya tidak memberi khutbah yang menyinggung pemerintah, Densus 88, dan agama lain (Kompas.com, 8/5/2016).

Sungguh mengherankan sikap warga ini! Di saat Ormas Islam, wakil rakyat, mahasiswa, dan masyarakat gencar mengkritisi Densus 88 atas kematian Siyono, mereka malah tersinggung dengan kritik W. Ada apa ini?

Jika kita membaca sejarah, sikap warga ini mirip dengan rezim Orde Baru. Kala itu, seperti diceritakan majalah Tempo (23/8/1980), penguasa memberi syarat kepada dua orang yang akan menjadi khatib shalat Idul Fitri, yaitu Sjafruddin Prawiranegara dan A.M. Fatwa, agar menyerahkan teks khutbahnya kepada panitia untuk dicek sebelum disampaikan.

Tentu agar isi khutbah sesuai dengan selera penguasa. Lucu juga khatib diceramahi penguasa.

Awalnya Sjafruddin tidak mau menyerahkan teks khutbanya, namun setelah diminta berkali-kali, ia mengalah. Setelah dicek, khutbahnya yang berjudul “Kembali kepada Pancasila dan UUD 1945” dianggap menyinggung masalah Pancasila dan UUD 1945 oleh Kolonel Agus, Asisten Intelijen Kodam V Jaya. Dan menurut Menteri Agama Alamsyah, isi khutbahnya 80 %  soal-soal politik. Pihak Pelaksana Khusus Daerah (Laksusda) lalu memintanya menghapus masalah-masalah politik. Namun Sjafruddin menolak. Akibatnya ia dilarang menjadi khatib. Memang melarang khatib bicara politik itu bukan politik?

Berbeda dengan Sjafruddin, A.M. Fatwa sejak awal menolak menyerahkan teks khutbahnya yang berjudul “Tegakkan Pancasila dalam Wajah Manusia, bukan dalam Wajah Hantu”.

Akhirnya panitia menggeser tugasnya dari khatib menjadi imam. Sementara tugas khatib digantikan oleh Kosim Nurseha Notowardoyo dari Dinas Pembinaan Mental TNI-AD. A.M. Fatwa jelas tidak suka. Sebelum mengimami shalat, ia sampaikan kepada jamaah bahwa dirinya batal menjadi khatib karena dilarang pihak yang berwajib. Selesai shalat, Kosim ceramah. Tak disangka keributan pecah!

Begitu Kosim naik mimbar, teriak-teriakan mulai terdengar menyuruh ia turun dan A.M. Fatwa naik. Tapi Kosim tak terpengaruh. Khutbahnya jalan terus. Sebagian jamaah yang ditaksir berjumlah18 ribu orang itu berusaha mendekati mimbar. Namun dicegah para petugas keamanan dengan tembakan ke atas, “Dor!”

Sebagai buntut dari keributan itu, A.M. Fatwa ditahan pada tanggal 12 Agustus 1980. Namun pada 14 Agustus 1980 ia dibebaskan dengan status tahanan kota melalui Surat Izin Jalan Komando Operasi Pemulihan dan Keamanan Daerah (Kopkamtibda) Jaya. Surat ini menurut Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, tak dikenal dalam prosedur dan proses hukum acara di Indonesia. Andai penguasa tidak ikut campur dan melarang A.M. Fatwa jadi khatib, mungkin kejadiannya akan lain, tak akan ada keributan yang kita sesalkan itu dan tak akan ada duka di hari raya.

Tahun lalu A.M. Fatwa juga sempat ditahan beberapa hari lantaran khutbahnya yang berjudul “Para Pemimpin Sadar dan Istighfarlah” dianggap terlalu keras mengecam pemerintah. Akibatnya, ia juga dipecat sebagai karyawan DKI.

Setelah insiden di hari raya itu, berkumpullah Menteri Agama Alamsyah, Ketua MUI Hamka, Ketua MUI Jakarta Abdullah Syafi’ie, dan Laksusda Jaya di gedung Departemen Agama. “Prak prak prak!” Tiga kali Hamka memukul meja. Alamsyah dan Syafi’ie yang duduk di sampingnya sampai terkejut. “Saya tidak setuju kesempatan berhari raya Idul Fitri dan Idul Ada dijadikan medan politik,” tegas Hamka.

Menurut HAMKA, kedua hari raya itu  adalah hari suci, hari perdamaian, dan hari gembira. “Sayang masih ada rekan-rekan yang menggunakan kesempatan itu untuk mengungkapkan ketidakpuasan politiknya,” tambahnya.

Soal pengecekan teks khutbah, HAMKA juga tidak suka. “Kalau semua khatib, khutbahnya harus diperiksa dulu, saya berhenti saja jadi khatib,” tandasnya.

Timbulnya keresahan, keributan dan kegaduhan akibat politik penguasa Orde Baru yang mencurigai dakwah Islam dengan mempersempit gerak khatib ini, sepatutnya menjadi pelajaran berharga bagi kita. Bahwa mengatur-atur, menghukum-hukum, dan melarang-larang khatib mengkritik pemerintah bukanlah sikap yang dewasa. Sudah menjadi kewajiban para khatib menasihati pemerintah baik diminta ataupun tidak. Maka alangkah bijaksananya bila warga Kelurahan Arenjaya, Bekasi, batal meminta W membuat surat pernyataan tersebut.*

Penulis pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AM Fatwadaidakwahdensus 88HamkakhatibOrde Barupancasila
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ada Kepentingan Kapitalis dalam Penggusuran Pasar Ikan?
Tulisan selanjutnya Akhlak Menahan Amarah dan Suka Memaafkan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?