Hidayatullah.com– Suatu malam di hari Jumat di Santiago, ibu kota Chile, satu kelompok terdiri dari 15 orang duduk mengelilingi sebuah meja. Mereka berbagi satu botol minuman anggur, sementara bau menyengat tembakau dan kemenyan memenuhi ruangan.
Lilin-lilin hitam dibakar di atas sebuah altar dengan dekorasi gelas-gelas piala dan beberapa pisau. Anggota Kuil Setan akan segera memulai ritualnya.
Lima tahun setelah Satanic Temple of the United States muncul di kepala-kepala banyak media lokal dan internasional – dan menimbulkan kehebohan – ketika ditetapkan sebagai sebuah gereja, sebuah organisasi serupa mengajukan permohonan supaya secara legal diakui sebagai asosiasi keagamaan kepada pemerintah di Chile, sebuah negara konservatif yang setengah dari 18 juta penduduknya mengklaim sebagai penganut Katolik.
Para cendekiawan, penganut agama dan penduduk yang dimintai pendapat oleh Associated Press mencatat bahwa Chile, yang sepanjang usia negara itu memiliki tradisi Katolik yang memainkan peran penting dalam berbagai diskusi publik, sedang mengalami krisis kepercayaan, menyusul terungkapnya berbagai skandal pelecehan seksual di lingkungan gereja Katolik yang berlangsung selama puluhan tahun.
“Organisasi sejenis ini (satanis, red) sekarang merasa bahwa mereka memiliki dukungan yang lebih besar untuk menantang apa yang sebelumnya hampir mustahil,” kata Luis Bahamondes, seorang profesor di Center for Judaic Studies di Universitas Chile.
Menurut Bahamondes hal itu disebabkan selama ini Gereja Katolik memiliki kekuasaan yang sangat luas, mereka memiliki opini tentang segala hal, termasuk di bidang politik, ekonomi, geopolitik, masalah seksualitas, dan pendidikan, lansir Associated Press (8/11/2024).
Meskipun namanya The Temple of Satan: Satanists and Luciferians of Chile, konan para pengikutnya tidak melakukan upacara pengorbanan atau meminta jemaatnya untuk menyembah iblis.
Di antara 100 anggotanya, terdapat orang-orang yang bekerja di bidang humas, sebagai petugas pemadam kebakaran, polisi, pengacara dan psikolog, yang merasa menemukan cara untuk menentang norma-norma moral, dogma dan ajaran agama (gereja) melalui organisasi tersebut.
Meskipun mereka menggunakan istilah satanis, mereka mengaku tidak beriman kepada setan. Sebaliknya, mereka justru memuja rasionalitas, individualisme, kesenangan dan kehidupan duniawi. Alih-alih memuja Tuhan, mereka justru mengagungkan manusia atau diri mereka sendiri.
“Kamu adalah pemilik masa kini dan masa depanmu sendiri, tidak ada Tuhan yang membuat keputusan untukmu,” kata Haborym, seorang juru bicara kelompok itu, sambil berjalan menyusuri makam-makan dan mausoleum di Pemakaman Umum Santiago. Dia menggarisbawahi bahwa sosok setan murni simbolis, dan ritual yang mereka lakukan adalah “untuk memunculkan emosi dan mengesampingkan intelektual.”*