Hidayatullah.com– Polisi dikabarkan menangkap tibuan pendukung Imran Khan yang melakukan unjuk rasa di Islamabad hari Ahad (24/11/2024).
Ibu kota dikunci, jalan-jalan menuju Islamabad diblokir menjelang aksi demontrasi besar pendukung mantan perdana menteri Imran Khan yang menuntut pembebasannya dari penjara, menuntut dilepaskannya para anggota partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI), serta pengunduran diri pemerintahan saat ini karena dibentuk berdasarkan hasil pemilu yang dipenuhi kecurangan.
Mengutip sumber pejabat keamanan, Associated Press melaporkan bahwa polisi menangkap ribuan pendukung Khan, termasuk lima anggota parlemen.
Menjelang aksi protes, layanan komunikasi seluler dan internet di sejumlah yang dianggap “rawan” dimatikan.
Jalan-jalan menuju Islamabad yang diperkirakan akan dilalui oleh pendukung PTI dari provinsi Punjab dan Khyber Pakhtunkhwa diblokir.
Di kota Lahore, polisi menangkapi anggota PTI, sementara pengguna jalan berusaha menerobos blokade.
Kepolisian setempat dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa kerumunan dalam bentuk apapun dilarang berdasarkan ketentuan hukum.
Pemerintah Pakistan mengambil langkah serupa menjelang aksi demonstrasi pendukung Khan pada bulan Oktober. Ketika itu tindakan represif aparat dan kemarahan demonstran menyulut kerusuhan.
Ali Amin Gandapur, kepala menteri provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang merupakan sekutu politik Imran Khan, mengimbau orang-orang supaya berkumpul di dekat pintu masuk kota Islamabad yang dikenal dengan sebutan “D Chowk.”
“Khan meminta kami bertahan di sana sampai semua tuntutan kami dipenuhi,” kata Gandapur seperti terlihat dalam rekaman video.
Khan digulingkan dari kekuasaan melalui mosi tidak percaya di parlemen pada April 2022. Sejak 2023 dia menjalani hukuman penjara tiga tahun untuk berbagai tuduhan yang didakwakan kepadanya.
Meskipun menghadapi sekitar 150 kasus pidana, termasuk tuduhan korupsi dan penghasutan kekerasan, ia tetap populer dalam kancah politik Pakistan. Para pendukungnya mengatakan semua tuduhan yang dialamatkan kepada Khan bermotif politik.
Khan diberikan pembebasan bersyarat Desember lalu, tetapi ia tetap berada di balik jeruji besi karena berbagai dakwaan hukum lain yang dihadapinya sejak ia digulingkan pada tahun 2022.*