Hidayatullah.com– Menyambut bulan suci Ramadhan 1440 H, lembaga kemanusiaan Dompet Sosial Madani (DSM) dan Komunitas Sahabat Subuh Bali mengadakan kegiatan Talkshow Ramah Lingkungan bertema “Masjid Ramah Lingkungan dan Kesehatan Keluarga”.
Kegiatan talkshow ini diselenggarakan di Masjid Muhammad berlokasi di Jalan Imam Bonjol No 335 Denpasar, Bali, baru-baru ini. Kegiatan ini mengahadirkan pembicara-pembicara yang ahli dalam bidangnya seperti KH Mustafid Amna (MUI Bali), Nur Asyur Konselor Keluarga, dr Fuad Adi Rosyadi (Praktisi Kesehatan), dan Muhammad Nur Sholeh (Manager Dompet Sosial Madani).
Talkshow ini pun berbeda dengan kebanyakan talkshow yang pernah diadakan sebelumnya. Pasalnya setiap jamaah yang hadir diberikan botol minuman isi ulang (tumbler) dan sajian jajan yang dibungkus oleh daun pisang.
Pembicara pertama KH Mustafid Amna memaparkan bahwa menjaga lingkungan baik di rumah maupun di lingkungan pemukiman adalah ikhtiar nyata manusia.
Saat ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali melalui komisi lingkungan memiliki program gaya hidup hijau dengan membagikan bibit daun kelor ke masyarakat di daerah Singaraja. MUI Bali mendukung masyarakat untuk bergaya hidup hijau kendati belum ada fatwa dari MUI Pusat.
“MUI Bali hanya mengimbau dari perkumpulan pengajian dan majelis taklim untuk masyarakat bisa bergaya hidup hijau,” jelasnya.
Ketika ditanya mengenai pemanfaatan limbah air wudhu yang sudah dipakai untuk diolah seperti air bersih untuk digunakan kembali masyarakat, KH Mustafid Amna berpendapat belum ada teknologi seperti yang ditanyakan.
“Untuk teknologi seperti pengelolaan air limbah pemakaian wudhu menjadi air bersih belum ada. Mudah-mudahan ke depan ada. Limbah air wudhu saat ini kebanyakan digunakan untuk menyiran tanaman saja,” tambahnya.
Berlanjut ke pembicara kedua, Nur Asyur menungkapkan bahwa ada kriteria yang membuat hidup menjadi bahagia. Salah satunya adalah lingkungan yang baik. Lingkungan yang baik penunjang kehidupan.
“Tidak akan bahagia jika tidak memiliki lingkungan yang baik. Sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Banyak umat yang terlalu berlebih membeli makanan berbuka sehingga tidak seimbang jumlah anggota keluarga yang menyantap sajian berbuka puasa. Banyak sajian berbuka yang berlebihan hingga dibuang mubazir dan akan menjadi sampah. Maka dari itu, jangan berlebihan membeli sajian berbuka puasa dan menambah sampah untuk dibuang,” paparnya.
Sedangkan pembicara ketiga dr Fuad Adi Rosyadi mengajak para jamaah yang hadir untuk menjaga kebersihan keluarga melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
“PHBS bisa dilakukan dengan selalu mencuci tangan ketika akan menyantap makanan, menguras air bak mandi sehingga tidak ada jentik-jentik nyamuk penyebab demam berdarah, pembuatan jamban untuk buang air kecil dan besar,” tandasnya.
Pembicara terakhir, Muhammad Nur Soleh mempresentasikan terkait gaya hidup hijau.
“DSM mengedukasi masyarakat dengan mengajak masyarakat memanfaat lingkungan dan gaya hidup hijau sekitar dengan menanam metode hidroponik,” ungkapnya.
Cara mengedukasi masyarakat lainnya untuk bergaya hidup hijau dan mengurangi limbah plastik yang membuat bahaya banjir adalah dengan kosep 3 AH ala DSM
“CegAH dengan tindakan edukasi dan penyadaran akan bahaya yang ditimbukan dari limbah; pilAH dengan membawa botol minuman sendiri dan tidak membuang makanan yang berlebih; dan terakhir olAH melalui penggunaan kembali bahan–bahan yang berpotensi menjadi limba seperti plastik,” imbuhnya.* Kiriman Herdian Armandhani di Bali