Hidayatullah.com–Menurut pejabat polisi Qatar Haman Ali al-Misnad, nyawa Yandarbiyev tidak tertolong lagi selepas dirawat di rumah sakit Hamad, di ibu kota Doha.
“Nyawanya tak tertolong. Dia telah meninggal,” terang salah seorang polisi
Di rumah sakit itulah Yandarbiyev dilarikan seusai mobilnya terkena ledakan bom. Dua pengawalnya malah tewas seketika dalam insiden tersebut.
Sebelumnya, televisi Al Jazirah melaporkan bahwa mantan presiden Chechnya itu terluka parah dalam insiden ledakan bom. “Zelimkhan Yandarbiyev dilarikan ke rumah sakit di Doha dalam kondisi sangat kritis setelah mobilnya terkena ledakan. Dua orang yang melakukan perjalanan bersamanya tewas,” lapor stasiun televisi Qatar itu. Tak ada keterangan lain. Para pejabat Qatar belum dapat dimintai komentarnya.
Saksi mata melaporkan ledakan tersebut terjadi di daerah pemukiman Al-Dafna pukul 13.00 siang (pukul 17.00 WIB). Kendaraan mantan pemimpin Chechnya tersebut pun terbakar. Dia lalu dilarikan ke RS Hamad. Tak berapa lama anggota keluarganya pun berkumpul untuk membesuk.
Yandarbiyev hidup di pengasingan di ibu kota Qatar itu selama lebih dari tiga tahun. Ia merupakan pemimpin pejuang Chechnya pertama yang masuk daftar PBB soal kelompok dan orang yang diburu AS atas permintaan Rusia.
Moskow berkali-kali mengupayakan ekstradisinya dari Qatar. Rusia menganggap Yandarbiyev sebagai tokoh kunci di balik invasi Chechnya ke Dagestan, negara tetangganya, pada 1999.
Yandarbiyey dianggap sebagai tokoh berbahaya bagi Rusia karena telah penganjur munculnya gerakan Islam Chechnya.
Rusia terus memburu kaum muslimim Checknya yang ingin lepas dari jajahan komunias Rusia dengan cara memberika stigma gerakan sparatis dan radikal.
Yandarbiyev merupakan presiden sementara Chechnya setelah Dzhokhar Dudayev, mantan jenderal AU Soviet yang melancarkan gerakan kemerdekaan Chechnya setelah jatuhnya Soviet. Dudayev tewas di tangan pasukan Rusia pada 1996, dan kemudian digantikan Aslan Maskhadov yang terpilih jadi presiden Chechnya pada 1997. (dari berbagai sumber)