Hidayatullah.com–Dua puluh dua Menteri Luar Negeri negara-negara anggota Liga Arab hari ini Sabtu, (12/3), menggelar rapat mendadak membahas penyelesaian soal krisis di Libya.
Libya sebenarnya mengirimkan wakil untuk menghadiri pertemuan yang berlangsung di Kairo, Mesir, namun kehadirannya ditolak oleh negara-negara anggota Liga Arab.
Pertemuan ini akan membicarakan dukungan pengenaan zona larangan terbang kepada Libya.
Selain itu pertemuan ini juga akan membahas pengakuan terhadap gerakan oposisi yang memerangi rezim penguasa dibawah Kolonel Muammar Qadhafi.
Sebelumnya sikap lebih tegas telah diambil oleh pemimpin negara-negara Uni Eropa.
Dalam pernyataannya kemarin para pemimpin 27 negara anggota Uni Eropa menyerukan agar pemimpin Libya, Muammar Qadhafi menyerahkan kekuasaan.
Meskipun tidak ada yang menginginkan pengerahan kekuatan militer namun sejumlah pemimpin negara Eropa mengatakan pilihan itu bukanlah hal yang sama sekali tertutup.
Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengatakan pesan negara-negara di Eropa sangat jelas dan mereka juga tidak ingin menutup opsi untuk melakukan intervensi militer.
Prancis bersama Inggris dalam pertemuan itu mendesak negara-negara Eropa untuk tidak hanya menerapkan zona larangan terbang saja melainkan juga membantu perjuangan warga Libya yang menentang Qadhafi
Hal yang kurang lebih sama juga disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat , Barack Obama, yang menyatakan dunia memiliki kewajiban untuk mencegah pembunuhan massal atas warga sipil Libya, seperti yang pernah terjadi di Bosnia dan Rwanda pada masa 1990-an.
Sementara itu, campur tangan militer asing di Libya tidak dapat diterima dalam bentuk apapun, demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, Sabtu.
“Campur tangan militer asing harus disingkirkan,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia seperti dikutip RIA Novosti.
Pernyataan kementerian ini bersesuaian dengan resolusi Uni Afrika yang mendukung kedaulatan dan kesatuan kawasan Libya dan mengecam segala campur tangan militer asing.
PernyataanRusia terbaru ini menyusul sikap beberapa Negara Eropa seperti Prancis dan Inggris yang siap melancarkan serangan udara bertarget terhadap tentara pemimpin Libya Muammar Qadhafi. *