Hidayatullah.com—Dewan sekolah di sebuah distrik di California mengakui bahwa meminta anak-anak sekolah menulis sebuah essai mengenai apakah holocaust benar-benar terjadi atau tidak merupakan tindakan yang “sama sekali tidak patut.”
Mengutip laporan koran lokal San Bernardinno Sun kantor berita Associated Press (8/5/2014) melansir, sebanyak 2.000 anak sekolah usia 13-14 tahun di distrik tersebut diminta untuk menulis sebuah essai argumentatif berdasarkan bukti-bukti yang dikutip, apakah mereka percaya holocaust itu peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi atau hanyalah sebuah skema politik guna mempengaruhi emosi publik dan mendulang kekayaan.
Racangan essai tersebut dibuat oleh para guru terkait dengan pelajaran mengenai buku harian Anne Frank, seorang wanita Yahudi yang mati di kamp konsentrasi Bergen-Belsen.
Dalam pertemuan publik hari Rabu kemarin, Joanne Gilbert yang merupakan ketua dari dewan sekolah mengatakan pihaknya bertanggung jawab penuh atas tugas yang diberikan kepada para murid itu.
Tugas sekolah itu dibatalkan dan dinyatakan sebagai kesalahan menyusul protes dari kelompok warga Yahudi.
Gilbert mengatakan, anak-anak sekolah kelas delapan akan menjalani latihan kepekaan di Museum of Tolerance di Los Angeles, yang merupakan sebuah museum peringatan korban holocaust yang didirikan oleh warga Yahudi.
Suzanne Singer, seorang rabi di Temple Beth El di Riverside mengatakan, “Saya tak mengerti mengapa sebuah faksta sejarah menjadi bahan perdebatan.”
Yahudi mengklaim secara sepihak bahwa 6 juta orang Yahudi di Eropa dibantai oleh pasukan Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler antara tahun 1933 hingga 1945. Sebagian negara Eropa memiliki undang-undang yang menghukum para penyangkal holocaust. Meskipun demikian, banyak orang termasuk dari kalangan sejarawan dan akademisi di Eropa dan Amerika yang tidak meyakini tragedi holocaust, dan kalaupun ada pembunuhan terhadap orang Yahudi maka jumlahnya tidak sampai 6 juta seperti klaim Yahudi selama ini.
Sejumlah buku juga telah ditulis oleh banyak penulis untuk membeberkan bukti bahwa holocaust merupakan cerita rekayasa orang-orang Yahudi dan bahkan dijadikan semacam industri guna kepentingan politik dan ekonomi Yahudi di seluruh dunia.
Di Amerika Serikat Yahudi merupakan kelompok minoritas. Meskipun demikian, banyak perusahaan dan bisnis raksasa di negara itu dikuasai oleh orang Yahudi. Pengaruh Yahudi juga sampai ke Gedung Putih dan parlemen AS, Kongres dan Senat. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa orang yang terpilih sebagai presiden Amerika Serikat adalah mereka yang direstui oleh kelompok lobi Yahudi dan Zionis Israel.*