Hidayatullah.com—Diplomat Mesir mantan sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Boutros Boutros Ghali menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Giza pada hari Selasa (16/2/2016) di usia 94 tahun.
Ghali menduduki jabatan tertinggi di PBB dari tahun 1992 hingga 1996 sebagai sekretaris jenderal pertama asal Afrika dan Arab.
Ghali berasal dari keluarga yang memiliki kiprah panjang di dunia diplomatik. Kakeknya, Boutrous Ghali, pernah menjabat sebagai menteri keuangan, menteri luar negeri dan perdana menteri pada tahun 1908 sampai hari pembunuhannya di tahun 1910.
Ghali mengikuti jejak kakeknya meniti karir diplomatik. Dia pernah menjabat sebagai menteri luar negeri dari tahun 1977 sampai 1991.
Dia juga menjadi anggota parlemen pada tahun 1987 dan pengurus Partai Nasional Demokrat dari tahun 1980.
Dari tahun 2003 sampai 2012, Ghali menjabat direktur di Dewan Nasional HAM Mesir.
Selain dikenal sebagai diplomat, Ghali juga populer sebagai penulis lebih dari enam buku, yang kebanyakan membahas politik internasional dan proses perdamaian di Timur Tengah.
Bukunya “Egypt’s Book to Jerusalem” dianggap sebagai salah satu buku terpenting yang memaparkan secara terperinci soal perundingan Camp David antara Mesir dan Israel, dengan detail yang sebelumnya tidak diketahui publik. Ghali merupakan pejabat sementara menteri luar negeri pada tahun 1977 dan kepala tim negosiasi Mesir dalam perundingan Camp David.
Pada tahun 1966, Ghali mendirikan dan memimpin majalah “The International Politics”, media cetak triwulanan berbahasa Arabdari Al-Ahram Institution.
Beberapa hari sebelum wafat, Ghali dirawat di rumah sakit karena patah kaki.
Tidak lama setelah kabar kepergiannya terdengar, Presiden Abdul Fattah Al-Sisi menyampaikan pernyataan resmi belasungkawa atas kepergian diplomat ternama Mesir itu.
“Mendiang Ghali memberikan sejumlah konstribusi dalam hukum internasional, HAM dan bidang sosial berikut pembangunan ekonomi, di samping perannya dalam perundingan Camp David yang berkontribusi pada kembalinya wilayah Sinai kita tercinta ke pangkuan Mesir,” kata Al-Sisi seperti dikutip Ahram Online.
Ghali, seorang penganut Koptik Orthodoks, meninggalkan seorang istri bernama Leia Maria Ghali Nadler.*