Hidayatullah.com—Bagi sebagaian pelajar masjid merupakan tempat ideal untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir. Sebagian lainnya pergi ke kafe-kafe shisha (rokok tradisional Arab) untuk menikmati hiburan sambil belajar.
Meskipun perpustakan memiliki lingkungan yang sangat ideal untuk belajar, tetapi tidak sedikit pelajar yang memilih tempat-tempat bising.
Kafe-kafe shisha lebih banyak digemari oleh pelajar universitas dan sekolah menengah atas, meskipun lingkungan di dalamnya banyak polusi dan berisik sebab memang tempat itu tidak dirancang untuk tempat belajar.
Beberapa pelajar saat ini terlihat mendatangi masjid untuk shalat sambil membawa buku. Setelah shalat mereka biasanya belajar di tempat ibadah itu karena suasananya hening.
“Sekitar 12 tahun lalu, hampir semua masjid dipenuhi pelajar usai shalat maghrib. Para pelajar itu berasal dari berbagai jenjang mulai sekolah dasar hingga menengah. Semua orang di dalam masjid dengan senang hati memberikan suasana yang mendukung untuk belajar, dan para orangtua juga merasa tenang sebab anak-anak mereka belajar di lingkungan yang baik dan layak dalam masjid. Bahkan penduduk sekitar biasa mengulurkan bantuan untuk keperluan itu. Namun sekarang, masjid-masjid nyaris kosong!” kata Muhammad Qasim, seorang imam di salah satu masjid kepada sebuah koran lokal seperti dilansir Arab News Jumat (20/5/2016).
Fahd Al-Dayan, seorang wali murid, berkata, “Di masa lalu kami biasa pergi ke masjid untuk belajar di dalam; kadang kami bahkan tidur di sana. Sekarang para pelajar pergi ke kafe-kafe tanpa ada tanda-tanda belajar, hanya minum kopi dan ngobrol.”
Seorang pelajar bernama Sultan Al-Hasan mengakuinya, “Teman-teman dan saya pergi ke kafe untuk belajar. Biasanya kami memutuskan waktu dua jam untuk belajar. Namun kemudian, kami belajar hanya selama setengah jam dan sisa waktu kami pergunakan untuk ngobrol atau berselancar situs-situs jejaring sosial.”*