Hidayatullah.com—Serangan atas pusat-pusat penampungan pengungsi di Jerman berkurang, ke angka seperti sebelum krisis pengungsi 2015. Namun, angka itu dinilai masih terlalu tinggi.
Menyusul banjir pengungsi asal Suriah, Iraq dan Afghanistan tahun 2015, jumlah serangan xenofobia (ketakutan atau ketidaksukaan atas orang asing) di Jerman meningkat drastis. Meskipun sejak itu jumlah pengungsi pencari suaka yang datang menurun, tetapi serangan terhadap pendatang asing tersebut masih tetap tinggi.
Data teranyar dari pemerintah yang dirilis hari Selasa (9/5/2017), meskipun demikian, menunjukkan frekuensi serangan sekarang mulai menurun, lapor Deutsche Welle.
Polisi mencatat 93 serangan atas pusat-pusat penampungan pengungsi dalam kurun tiga bulan pertama tahun ini, tulis koran Jerman Neue Osnabrücker Zeitung, mengutip tanggapan Kementerian Dalam Negeri atas pertanyaan dari anggota parlemen Partai Kiri.
Angka itu sekarang sama dengan kurun kuartal pertama 2015, sebelum banjir pengungsi mencapai puncaknya di akhir musim panas. Dari bulan Januari sampai Maret tahun itu, tercatat 106 serangan atas penampungan pengungsi.
Di tahun 2015 saja, lebih dari 1.000 serangan dialami oleh tempat penampungan pengungsi. Di tahun 2016, angkanya menurun sedikit menjadi kurang dari seribu.
Serangan atas tempat penampungan pengungsi antara lain berupa pembakaran, serangan dengan bahan peledak, serta serangan yang melukai fisik pengungsi. Total ada 47 orang yang mengalami luka akibat serangan-serangan itu, termasuk dua anak-anak, tulis koran tersebut.
Motif dari serangan kebanyakan masih diilhami oleh ekstrimisme sayap kanan. Dari 93 serangan atas tempat penampungan pengungsi yang terjadi pada kuartal pertama tahun 2017, sebanyak 86 di antaranya memiliki latar belakang ekstrimis sayap kanan, kata kementerian.
Meskipun jumlah serangan itu menurun, politisi Partai Kiri Ulla Jelpke mengatakan tidak ada alasan untuk bersenang hati.
“Kekerasan dan teror setiap hari terhadap pengungsi kelihatan seperti sudah menjadi hal lumrah di Jerman,” kata Jelpke.
“Kita tidak boleh membiarkan diri kita sendiri menjadi terbiasa dengan fakta bahwa pengungsi di negeri ini adalah korban serangan neo-Nazi atau serangan rasis dari hari ke hari,” imbuhnya.*