Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Kamp Migran Kotor dan Pesing, Pemda Paris Diam, Warga Ancam Mogok

Ama Farah
Terakhir diupdate: 13 Desember 2017 19:22 7:22 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 13 Desember 2017 19:22
Bagikan
Para migran tinggal di tenda-tenda di bawah jembatan di Paris, Prancis.
Bagikan

Hidayatullah.com—Warga Paris mulai geram dengan pemandangan buruk yang mereka lihat di sekitar tempat yang dijadikan para migran dan pengungsi berkemah. Sebagian dari mereka mengancam akan melakukan mogok makan, jika pemerintah daerah tidak bertindak membersihkan jalan-jalan yang kotor dan mengenyahkan tenda-tenda pengungsi dari tepi jalan.

Warga di distrik X dan XIX, dekat gereja Katolik Roma yang terkenal Basilique du Sacré-Cœur, mendesak pihak berwenang agar merelokasi tempat pemrosesan aplikasi suaka di bagian utara Paris. Mereka mengkhawatirkan kondisi tidak bersih dan tidak sehat yang menjadi tempat para pengungsi dan migran tinggal.

“Kami terpaksa memasang pagar ini untuk melindungi tempat parkir umum kami dari kotoran dan air seni, dan untuk itu pastinya diperlukan dana. Itu satu-satunya solusi yang bisa kami lakukan, tapi itu saja tidak cukup,” kata Oscar, salah seorang warga kepada RT Selasa (12/12/2017).

Para migran dan pengungsi, frustasi setelah berhari-hari menunggu proses aplikasi suaka dan tidur di jalanan, tidak punya pilihan kecuali mendirikan kemah di sejumlah kawasan di Paris.

“Musim panas atau musim dingin, kami datang tiap pekan untuk memberikan makanan dan obat-obatan kepada tunawisma. Dan dengan banyaknya kedatangan migran, jumlah mereka sekarang bertambah. Kami baru saja membagikan sekitar 100 paket roti isi dan pie, produk kebersihan serta pakaian. Ada sekitar 100 migran di luar sana yang datang dari Afghanistan dan Suriah,” kata Nadia, seorang relawan, kepada RT.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Pemerintah sama sekali tidak berbuat apa-apa,” imbuhnya. “Mereka tidak memberikan dukungan kepada organisasi-organisasi yang membantu. Orang-orang yang ada di sini [menolong migran] semuanya adalah relawan. Kami tidak menerima apa-apa dari pemerintah. Kami meminta perusahaan-perusahaan swasta –toko dan tukang roti misalnya– untuk membantu kami.”

Pierre Vuarin, juru bicara asosiasi warga, mengatakan bahwa untuk mengatasi masalah itu pihak berwenang pertama harus mengubah sistem penampungan sementara bagi para pencari suaka.

“Sistem itu merusak distrik kami, menghancurkan citra para pencari suaka dan mencederai hak mereka. Sistem ini harus diganti dengan sistem yang lebih layak untuk membantu orang-orang tersebut pulang kembali ke negeri asalnya secara normal. Jika hal itu tidak dilakukan sampai akhir tahun ini, kelompok kami akan melakukan mogok makan,” kata Vuarin.

Bulan lalu, Vuarin dan kelompok-kelompok pendukungnya menulis surat terbuka kepada Presiden Emmanuel Macron, memintanya agar bertindak. Mereka mengatakan lebih dari dua tahun terakhir 4.000 warga mengalami malam-malam frustasi ketika harus berjalan menyusuri trotoar sepanjang 100 meter di Boulevard de la Villette. Sekarang ini, ada lebih dari 30 kawasan perkemahan mini yang “muncul dan hilang” mengikuti ada atau tidaknya operasi polisi, kata surat itu.

Sistem permohanan suaka yang ada sekarang ini memaksa ribuan migran dan pengungsi menggelandang di tempat terbuka dalam waktu yang lama, tidak sekedar berhari-hari. Akibatnya, lingkungan menjadi kotor, semrawut dan mudah menyulut pertikaian baik antarmigran dan pengungungsi maupun bentrokan dengan warga setempat.

“Jika tidak ada tindakan yang diambil guna menutup pusat-pusat penampungan pencari suaka sementara sebelum tanggal 1 Januari, kami akan melakukan mogok makan,” kata Vuarin dan sejumlah aktivis lain.

Alexandra Cordebard, kepala distrik X Paris, mengatakan bahwa pemerintah telah berjanji pusat penerimaan pencari suaka itu akan dipindah sebelum akhir tahun ini.

Pada bulan Agustus lalu, hampir 2.500 migran dan pengungsi, yang kebanyakan asal Afrika, dievakuasi dari perkemahan di bagian utara Paris. Mereka direlokasi ke 18 pusat penerimaan pencari suaka dan pengungsi yang tersebar di berbagai lokasi di ibukota Paris.

Awal tahun ini, pemerintahan Presiden Macron mengajukan usulan pendirian lebih dari 12.500 tempat penampungan pencari suaka dan pengungsi sebelum 2019.

Bulan Oktober, Presiden Macron mengatakan bahwa para pendatang tidak berdokumen yang terlibat tindak kriminal akan didepak dari Prancis kembali ke negeri asalnya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tanggapi Pernyataan Trump, Kedubes Saudi: Merupakan Kemunduran Besar
Tulisan selanjutnya Gumpalan Lemak Raksasa dari Selokan akan Dipajang di Museum London

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi

Berita
2 September 2026 20:16
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?