Hidayatullah.com—Mufti Provinsi Damaskus Adnan al-Afiyuni dikabarkan terbunuh hari Kamis (22/10/2020) ketika sebuah bom yang ditempelkan di mobilnya meledak di luar wilayah ibukota Suriah, lapor kantor berita resmi SANA.
Dilansir AFP, kelompok pemantau perang Syrian Observatory for Human Rights mengatakan ulama Muslim (Sunni) berusia 66 tahun itu berperan penting dalam kesepakatan rekonsiliasi dengan kelompok-kelompok bersenjata dalam konflik Suriah.
Afiyuni meninggal dunia akibat alat peledak yang dipasang di mobilnya di kota kecil Qudsaya, sebelah barat laut Damaskus, lapor SANA mengutip Kementerian Wakaf Suriah.
Pada Desember 2016, Syaikh Afiyuni memimpin shalat ied ketika Presiden Bashar Assad, dalam kemunculan publik yang langka, ikut merayakan Idul Adha di daerah Daraya, tidak jauh dari Damaskus, setelah kelompok pemberontak terakhir keluar dari daerah itu pada bulan sebelumnya berdasarkan kesepakatan.
Dia dikenal sebagai tokoh Muslim yang menyerukan agar pihak-pihak yang saling berperang di Suriah segera mengakhiri pertempuran dan berdamai.
Sejak pasukan pemerintah mengusir keluar milisi-milisi terakhir dari ibukota pada 2018, aksi pemboman relatif jarang terjadi.
Dengan dukungan dari Rusia, pasukan rezim Bashar al-Assad sejauh ini berhasil menguasai sekitar 70 persen wilayah Suriah, kata Observatory.
Aksi protes rakyat terhadap kebijakan-kebijakan represif penguasa Suriah pada 2011 berubah menjadi perang sengit dan konflik rumit setelah orang-orang asing dari berbagai penjuru dunia dan militer dari berbagai negara ikut campur dalam urusan domestik wilayah yang juga dikenal sebagai negeri Syam itu.
Menurut Observatory, perang di Suriah itu telah merenggut nyawa lebih dari 380.000 orang dan menyebabkan jutaan orang kehilangan rumah, atau terpaksa meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka.*