Hidayatullah.com–Amerika Serikat menuduh pemerintah Suriah pada Jumat menggunakan senjata kimia terlarang setidaknya 50 kali sejak perang saudara Suriah dimulai tujuh tahun lalu – jauh lebih tinggi dari perkiraan resmi sebelumnya, kutip the New York Times.
Tuduhan, yang dibuat oleh Duta Besar Amerika untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Nikki R. Haley, datang selama debat sengit dengan wakil dari Rusia pada pertemuan Dewan Keamanan PBB, yang berfokus pada dugaan penggunaan serangan senjata kimia di Ghouta Timur, daerah pinggiran Damaskus, minggu lalu. Amerika Serikat dan sekutunya telah menyalahkan serangan kepada rezim keji Suriah, yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad.
Nikki Haley mengungkapkan Washington telah memperkirakan pemerintah Rezim Bashar telah menggunaan senjata di Suriah setidaknya 50 kali dalam konflik tujuh tahun di negara tersebu.
“Mari kita perjelas: penggunaan gas beracun oleh Assad baru-baru ini terhadap masyarakat Douma bukanlah penggunaan senjata kimia pertamanya, kedua, ketiga, atau bahkan ke-49,” kata Haley. “Amerika Serikat memperkirakan bahwa Assad telah menggunakan senjata kimia dalam perang Suriah setidaknya 50 kali. Perkiraan umum di atas 200, ” ujarnya dikutip New York Times.
“Presiden Donald Trump belum memutuskan tindakan terhadap Suriah tetapi apakah AS dan sekutunya harus bertindak? Kami akan setuju jika melibatkan prinsip pertahanan.
“Semua negara dan populasi dunia akan terpengaruh jika kami mengizinkan Bashar menggunakan senjata kimia,” katanya dikutip Reuters.
Namun Haley juga mengatakan negaranya akan menggunakan kekuatan apa pun sebagai respons berbagai serangan kimia yang mereka tuduh dilakukan oleh pasukan Presiden Suriah, Bashar al-Assad tersebut.
“Seluruh bangsa dan masyarakat akan dirugikan bila kita mengizinkan Assad untuk mewajarkan penggunakan sejata kimia,” kata Haley.
Kritiknya terhadap Rusia dan Rezim Suriah juga dikumandangkan utusan Inggris dan Prancis.
Duta Besar Karen Pierce dari Inggris mengatakan bahwa pemerintahnya percaya pasukan Rezi Assad telah menggunakan senjata kimia “secara konsisten, terus-menerus, selama lima tahun terakhir.”
“Penggunaan senjata kimia tidak bisa dibiarkan tidak tertandingi,” kata Pierce.
“Kami tidak akan mengorbankan tatanan internasional yang secara kolektif kami bangun dengan keinginan Rusia untuk melindungi sekutunya dengan segala cara.”
Duta Besar François Delattre dari Perancis, yang telah menegaskan bahwa mereka memiliki bukti penggunaan senjata kimia oleh pasukan militer Suriah, mengatakan pemerintah Assad telah “mencapai titik tanpa harapan” dan bahwa dunia harus memberikan “tanggapan yang kuat, bersatu dan teguh.” ”
Jumlah serangan senjata kimia yang dikonfirmasi dalam konflik Suriah – dan siapa yang bertanggung jawab atas mereka – adalah salah satu masalah yang paling diperdebatkan.
Tahun 2015, 15 anggota Dewan Keamanan PBB sepakat melakukan penyelidikan untuk Larangan Senjata Kimia, yang dikenal sebagai Joint Investigative Mechanism (JIM) dan diperbaharui tahun 2016.
JIM menemukan pemerintah Suriah Bashar al-Assad dipersalahkan atas serangan kimia di Kota Khan Sheikhoun yang menewaskan puluhan orang pada bulan April.
Menggunakan senjata kimia adalah kejahatan perang, dan pemerintah Suriah bukan satu-satunya aktor dalam perang yang dituduh melakukan itu. Yang pasti, negara-negara Muslim selalu menjadi lahan uji coba perang mereka.*