Hidayatullah.com—Aparat keamanan India melonggarkan jam malam di wilayah Kashmir yang bergolak untuk memungkinkan mayoritas Muslim di wilayah itu melakukan shalat Jumat, ketika ketegangan meningkat setelah India mencaplok dan mencabut otonomi khusus di lembah Himalaya ini.
Semua saluran komunikasi di Kashmir ditutup dan diblokir, sampai hari ini belum jelas bagaimana masyarakat Muslim di kawasan itu bereaksi atas janji pemimpin Hindu itu untuk menjalankan pembangunan, menciptakan lapangan kerja dan pemerintahan yang baik.
Kebanyakan warga Kashmir hanya bisa mendengar pidato Perdana Menteri India Narendra Modi lewat radio karena jaringan internet dan televisi kabel masih diblokir.
Terjadi insiden pelemparan batu yang dilaporkan walaupun adanya jam malam yang ketat, ada kekhawatiran aksi-aksi protes yang luas akan meletus dalam hari-hari mendatang. Kemarahan dan kebencian terus berkembang, bukan hanya karena keputusan India mengakhiri status khusus Kashmir yang telah berlangsung 70 tahun, tapi juga karena pemberangusan total saluran komunikasi yang praktis menutup seluruh kawasan itu.
Baca: Kashmir ‘Diserang’
Aparat berseragam anti huru-hara ditempatkan di jalan-jalan di Ibu Kota Srinagar dan halang rintang kawat berduri dipasang di persimpangan jalan utama
Namun masjid di Srinagar, Masjid Jama – yang telah lama diklaim menjadi fokus protes kelompok separatis – tetap ditutup sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengendalikan ketegangan menyusul tindakan kerasnya di kawasan itu, menurut laporan media.
“Warga diizinkan untuk berdoa di lingkungan mereka, tanpa batasan,” kata kepala polisi Kashmir Dilbag Singh kepada AFP.
“Tetapi mereka tidak dapat meninggalkan daerah masing-masing,” katanya melalui telepon.
Baca: PBB: Hampir Tak Ada Informasi yang Keluar dari Kashmir ..
Narendra Modi berjanji pada rakyat Kashmir dimulainya “zaman baru” setelah pemerintah mencaplok dan mencabut status kawasan khusus, dan meletakkan daerah itu langsung di bawah pemerintahan India.
Berbicara lewat radio dan TV, Modi mempertahankan keputusannya mencaplok dan mencabut status khusus Kashmir, alasannya status itu justru menghambat kemajuan, memicu terorisme dan digunakan oleh Pakistan untuk “menghasut rakyat.” India, kata Modi akan menumpas teroris dan terorisme, kutip Voice of America.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi melakukan perjalanan ke Beijing untuk mengadakan pembicaraan darurat dengan rekannya Wang Yi, yang mencerminkan keprihatinan internasional yang dipicu oleh tindakan Perdana Menteri India Narendra Modi untuk memperketat kendali atas Kashmir.
Pakistan, yang juga menuntut bagian dari Kashmir, mengecam keras tindakan India tetapi Qureshi menegaskan bahwa Islamabad tidak menginginkan konflik baru dengan negara tetangganya.
China, yang juga mengendalikan sebagian Kashmir, mengecam India setelah pemerintah New Delhi mengkonfirmasi klaimnya ke seluruh wilayah pekan ini.
Wilayah Kashmir yang dikuasai India telah terputus sejak hari Senin tanpa layanan internet atau telepon dan pembatasan pergerakan setelah India menghapuskan otonomi khusus wilayah Himalaya.
Puluhan ribu pasukan tambahan dikerahkan ke daerah itu untuk melaksanakan sanksi dan mengekang setiap aksi protes.
Baca: 400 Politisi Ditahan India, Kashmir Jadi ‘Penjara Raksasa’
Berdasarkan pernyataan polisi, pemimpin lokal, dan laporan media, sejak pengamanan ketat diberlakukan, New Delhi telah menahan 500 politisi dan kelompok Islam. Alasannya untuk meredam unjuk rasa yang terjadi di seluruh penjuru Kashmir.
Radio pemerintah, All India, melaporkan soal penahanan ini tanpa memerici lebih lanjut. Radio ini juga melaporkan ada saling tembak yang memercik di sektor Rajouri, Kashmir, Rabu malam.
Namun, menurut warga, beberapa peserta aksi protes ditahan dan polisi dilaporkan telah mengejar kelompok pengunjuk rasa.
Langkah untuk mengizinkan shalat Jum’at adalah ujian apakah New Delhi dapat menegakkan keputusan yang dibuat oleh pemerintah nasionalis Hindu Narendra Modi, terutama setelah datangnya Idul Adha hari Senin di Kashmir.*