Hidayatullah.com–Para demonstran dikabarkan telah mengambil alih kontrol beberapa kota di Libya walaupun ada ancaman tindakan kekerasan dari Muammar Qadhafi.
Muammar Qadhafi, penguasa kuat di Libya dilaporkan kehilangan kontrol beberapa kota sebagai lanjutan unjuk rasa anti pemerintah yang melanda Negara kawasan Afrika tersebut.
Pengunjuk rasa di Misurata pada hari Rabu mengatakan jika mereka telah merebut bagian Barat kota tersebut dari kontrol pemerintah. Dalam pengumumannya di internet, petugas keamanan yang di tempatkan di kota berjanji “mendukung penuh para pengunjuk rasa”.
Para pengunjuk rasa terlihat juga mengambil alih kontrol di bagian timur Negara tersebut. Koresponden Al jazeera melaporkan dari kota Tobruk, 140 KM dari batas Mesir jika tidak ada tanda-tanda kehadiran petugas keamanan.
“Dari apa yang saya lihat, saya bisa mengatakan jika orang-orang di Libya Timur telah mengambil alih kota tersebut,” ujar koresponden kami Hoda Abdel-Hamid.
Ia mengatakan jika tidak ada pihak berwenang di perbatasan ketika tim Al Jazeera memasuki Libya.
‘Rakyat Berkuasa’
“Ssepanjang perbatasan, kami tidak melihat satu pun polisi, kami tidak melihat satu pun tentara dan orang-orang di sini memberitahu kami jika [pihak keamanan] telah melarikan diri atau sembunyi dan kini rakyatlah yang berkuasa, mulai dari perbatasan Tobruk hingga Benghazi.
“Orang-orang memberi tahu kami jika di Bayda dan Benghazi cukup tenang. Mereka mgatakan hal itu, walaupun, para ‘militan’ masih menghantui derah tersebut, khusunya malam hari. Mereka mendeskripsikannya sebagai pria Afrika, berbicara dalam bahasa Prancis, sehingga mereka berpikir orang-orang tersebut berasal dari Chad.”
Mayor Jendral Suleiman Mahmoud, komandan keamanan di Tobruk mengatakan jika pasukan yang ia pimpin telah berubah loyalitasnya.
“Kami berada di pihak rakyat,” ujarnya. “dulu saya ada di pihaknya [Qadhafi] tetapi situasi telah berubah- dia sangat kejam.”
Benghazi, kota terbesar kedua, tempat pertama kali adanya revolusi melawan Qadhafi yang telah 42 tahun berkuasa satu minggu yang lalu. Pemberontakan yang tersebar ke kota lain walaupun ada perlawanan keras dari pihak keamanan untuk mengatasi kerusuhan.
Dengan kebijakan ketat pada media, berita-berita dari Libya dikabarkan setengah-setangah. Menurut laporan yang telah disaring, sedikitnya 300 orang tewas dalam tindak kekerasan ini.
Tetapi Franco Frattini, menteri Luar Negeri Itali, mengatakan terdapat laporan yang “dapat dipercaya” jika sedikitnya 1.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut.
Qadhafi Menantang
Di tengah-tengah kekacauan, Qadhafi menantang dan berjanji akan menyelesaikan kerusuhan ini.
Ia menyampaikan pidato yang bertele-tele di televisi pada Selasa malam, mengumumkan jika ia akan “mati syahid” di Libya, dan mengancam menghilangkan lawannya dari “rumah ke rumah” dan “sedikit demi sedikit”.
Dia menyalahkan kerusuhan tersebut pada kelompok “Islamis”, dan memperingatkan jika “emirat Islam” telah di rancang di Bayda dan Derna di mana ia mengancam untuk menggunakan kekerasan ekstrim.
Ia mengajak rakyat Libya untuk turun ke jalan dan menunjukkan dukungan mereka pada pemimpinnya.
Ratusan pendukung pemerintah memenuhi permintaannya di ibu kota Tripoli, pada hari Rabu mengadakan aksi pro Qadhafi di Green Square.
Penembakan terbaru yang dilaporkan terjadi di ibu kota pada hari Rabu, setelah Qadhafi meminta pendukungnya mengambil alih jalanan dari para pengunjuk rasa anti pemerintah.
Tetapi pidato Qadhafi hanya berakibat kecil pada arus yang melawannya.
Diplomat Libya di beberapa Negara telah mengundurkan diri untuk menunjukkan protes atas penggunaan kekerasan dalam melawan rakyat sipil, atau meninggalkan kepemimpinan Qadhafi, mengatakan jika mereka berada di pihak pengunjuk rasa.
Selasa malam, Jendral Abdul-Fatah Younis, menteri Dalam negeri, menjadi orang terakhir yang mundur dari pemerintahan, ia mengatakan jika pengunduran dirinya itu adalah dukungan untuk apa yang ia sebut sebagai “revolusi 17 Februari”.
Ia meminta tentara Libya untuk bergabung dengan rakyat dan “tuntutan sah” mereka.
Pada hari rabu, Youssef Sawani, ajudan senior Saiful Islam Qadhafi, salah satu putra Muammar Qadhafi, mengundurkan diri dari posisinya “untuk menunjukkan kecemasan atas kekerasan yang terjadi”, seperti yang dilaporkan Reuters.
Awalnya, Mustapha Abdeljalil, menteri kehakiman telah mengundurkan diri untuk menunjukkan protes atas “penggunaan kekerasan yang berlebihan” melawan para pengunjuk rasa dan para diplomat untuk misi Libya di PBB meminta tentara Libya untuk membantu dalam menghapus “tirani Muammar Qadhafi”.
Sekelompok perwira militer juga mengeluarkan pernyataan yang meminta para tentara untuk “bergabung dengan rakyat” dan menggulingkan Qadhafi dari pemerintahan. *