Hidayatullah.com — Dakwah menjadi sarana untuk menyebarkan hal-hal baik yang membangun. Dakwah bukan menjadi jalan merobohkan, apalagi meruntuhkan. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud saat memberikan sambutan dalam pembukaan Multaqa Duat Nasional III dan Wisuda akbar Standardisasi Dai angkatan IV sampai X di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Ahad (23/01/2022).
“Dakwah adalah membangun, bukan merobohkan, apalagi meruntuhkan. Dakwah membangun keilmuan, membangun peradaban, bahkan kehidupan, ” ujar Kiai Marsudi seperti dikutip dari laman resmi MUI, Senin 24 Januari 2022.
Kiai Marsudi menyampaikan standardisasi dai MUI dibutuhkan untuk melahirkan koneksi atau keterhubungan antar dai. Apalagi dengan jumlah penduduk muslim yang mayoritas di Indonesia, peran dakwah ini menjadi sangat penting.
Menurut Waketum MUI periode 2020-2025 itu, dakwah dirasa sangat perlu untuk menjaga ajaran agama bahkan kondisi sosial kemasyarakatan. “Pada titik inilah standardisasi dai diperlukan untuk menjaga agama, bangsa, dan negara. Hal itu bisa dimulai dari mengembangkan keilmuan dan metode (cara penyampaian) dakwah,” kata Kiai Marsudi.
Karena posisi dakwah dan dai yang penting di masyarakat, Ia mengingatkan agar para dai semakin cerdik menempatkan diri. Beberapa dai besar kerap dijatuhkan pihak tertentu karena ada perkataannya yang dinilai tidak benar. Terutama pada zaman media sosial seperti sekarang banyak kata yang ditafsirkan bermacam-macam.
Para dai, kata Kiai Marsudi harus mencermati surat Al-Qaf ayat 18. Ayat tersebut menerangkan tidak ada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
Artinya, tanpa merasa diperhatikan manusia yang lain pun, sejatinya para dai harus sadar bahwa mereka sedang diawasi oleh malaikat. Karena itu, setiap apa yang mereka ucapkan harus disampaikan dengan baik dan penuh perhatian. “Untuk kondisi sekarang, yang mencermati tidak hanya malaikat. Ada tambahannya yaitu google,” pungkasnya.*