Hidayatullah.com– Pelayanan medis menjadi hal yang sangat urgen di lokasi pengungsian korban gempa-tsunami di Palu-Sigi-Donggala, Sulawesi Tengah. Kondisi yang kurang kondusif di tenda pengungsian yang terbuka membuat para pengungsi rentan dari berbagai penyakit.
Sahabat Al-Aqsha, bersinergi dengan Islamic Medical Service (IMS) dan Relawan RSI Jombang melakukan pelayanan medis ke posko-posko pengungsian di Palu.
Di posko pengungsian Malino, Taipa, Ginggiri, Palu Utara, tim medis menemukan sejumlah korban gempa-tsunami yang luka-luka tapi belum mendapatkan penanganan sama sekakali sejak hari pertama pasca gempa.
Baca: Anak-anak Pengungsi Palu Mulai Terserang Demam dan Diare
Seorang ibu, 49 tahun, memiliki luka bakar di kedua lengannya dari siku hingga telapak tangan, juga di bagian paha dan kedua lutut kakinya. Saat gempa terjadi Jumat (28/09/2018) lalu, ibu ini ditemani anaknya yang berumur 2 tahun tengah memasak. Saat bencana itu terjadi, belanga di atas kompor tumpah mengenai dia dan anaknya.
“Saya berusaha menyelamatkan anak saya dari air panas. Namun air terkena hampir seluruh tubuhnya, saya bawa ke rumah sakit tapi masih tutup. Sampai menjelang pagi kami cari tim medis yang bisa membantu anak saya. Pas subuh hari dia meninggal,” cerita sang ibu kepada hidayatullah.com, Ahad (07/10/2018) tanpa bisa menyembunyikan raut wajah sedihnya.
Baca: Pelayanan Medis, Relawan Dokter IMS Jangkau Lokasi Tersulit di Palu
Tim medis pun segera melakukan penanganan terhadap sang ibu. Lukanya dibersihkan, diobati, dan ditutup.
“Luka ibu itu sudah dikerumuni lalat karena sudah lebih dari seminggu belum ada penanganan,” ujar Dokter Heriris, relawan Sahabat Al-Aqsha.

Baca: Di Depan JK, Pengungsi Menangis Minta Dipercepat Penanganan Gempa-Tsunami Palu
Dia juga menyampaikan akan terus mengontrol kondisi ibu tersebut.
Selain itu, di posko yang sama tim medis gabungan ini menangani 42 pasien yang kebanyakan terserang ISPA dan diare akut.*/Sirajuddin Muslim
Berita gempa dan tsunami Palu bekerjasama dengan Dompet Dakwah Media