Hidayatullah.com — Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkap telah melakukan investigasi terhadap kasus penembakan Dokter Sunardi, terduga teroris asal Sukoharjo, oleh Densus 88 Antiteror. Hasilnya, Kompolnas menyatakan aksi tembak mati oleh Densus 88 tersebut sesuai dengan standart operational procedure (SOP) yang berlaku.
Sekretaris Kompolnas Benny Jozua Mamoto mengatakan telah mengundang Densus 88 untuk memaparkan rincian kejadian tembak mati itu. Bahkan, dia mengaku telah melihat langsung tempat kejadian untuk mendapatkan gambaran lengkap detik-detik penangkapan Sunardi.
“Dari hasil penyelidikan kami, kami menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan anggota (Densus 88) sudah sesuai dengan SOP dan protap (prosedur tetap),” kata Benny dalam keterangannya, Selasa (15/3/2022).
Benny pun merinci proses penyelidikannya selama beberapa hari ini. Pada Senin (14/3/2022) malam, dirinya datang ke lokasi untuk mengetahui situasi lalu lintas hingga kondisi jalan beserta penerangannya.
“Kemarin malam kami ditemani Pak Kapolres (Sukoharjo) dan anggota Densus 88 secara runut mulai dari awal ketika proses mau menangkap dengan menjebak, kemudian yang bersangkutan mencoba kabur dan terjadi kejar-kejaran sampai dengan terjadi korban di masyarakat, apakah itu mobil yang ditabrak, diserempet dan sebagainya,” ungkapnya.
Dia juga memeriksa beberapa saksi dari masyarakat, antara lain pemilik rumah yang ditabrak mobil hingga pemilik mobil yang sempat diserempet akibat aksi kejar-kejaran antara Densus 88 dengan Sunardi.
“Kami juga mendengar keterangan dari anggota yang melakukan penangkapan, bagaimana prosesnya untuk kami evaluasi, apakah sudah sesuai protap,” ujar Benny.
Dia menjelaskan, anggota Densus 88 sempat naik ke bagian belakang mobil double cabin milik Sunardi dan melepaskan tembakan peringatan. Menurutnya, Sunardi tidak berhenti dan justru mobilnya digoyang-goyangkan sehingga membahayakan aparat.
Dalam kondisi tersebut, kata Benny, petugas bisa saja langsung menembak ke organ vital sehingga langsung meninggal. Namun petugas menembak ke bagian punggung.
“Ketika Densus 88 mau jatuh, dia masih bisa melepaskan tembakan peringatan ke atas dan masih bisa melumpuhkan. Sekali lagi melumpuhkan. Karena kalau ingin menembak kepala bisa. Tapi tidak lewat samping, dan berisiko dia jatuh. Ini yang saya lihat lebih berisiko kepada mereka,” pungkasnya.*