Hidayatullah.com – Hampir 2.000 warga Palestina yang ditahan zionis telah bebas dari penjara-penjara ‘Israel berdasarkan fase pertama perjanjian gencatan senjata Gaza.
Ini menjadi kelegaan bagi sebagian kerabat tahanan Palestina, namun banyak warga Palestina lain yang masih merindukan keluarga mereka ditahan ‘Israel’.
Menurut Addameer, sebuah organisasi hak asasi manusia Palestina yang melacak tahanan politik, jumlah orang yang ditawan ‘Israel’ meningkat dari 5.200 menjadi 11.100 sejak 7 Oktober 2023.
Sebagian besar tahanan ini berasal dari Tepi Barat yang diduduki – 400 di antaranya anak-anak.
Murad Jadallah, seorang peneliti hak asasi manusia dari kelompok hak asasi manusia Palestina Al-Haq.
“Israel mencoba menghancurkan masyarakat Palestina dengan berbagai cara, dan menangkap anak-anak adalah salah satu alat yang digunakannya untuk melakukannya,” ujar Murad kepada Al Jazeera.
Ada dua titik pembebasan warga Palestina, yaitu di Tepi Barat dan di Gaza. Kantor Media Tahanan mengatakan sejumlah bus yang membawa tahanan Palestina dari Penjara Ofer tiba di kota Beitunia di Tepi Barat yang diduduki.
Menurut kantor berita resmi Wafa, ada 250 tahanan politik tingkat tinggi yang dibebaskan. Sekitar 96 tahanan tiba di kota itu dengan dua bus milik Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Sementara 154 lainnya akan dideportasi ke Mesir berdasarkan perjanjian gencatan senjata.
Disebutkan bahwa bus-bus yang membawa lebih dari 1.700 tahanan yang dibebaskan dari Penjara Negev di Israel selatan juga tiba di Gaza.
“Berdasarkan kesepakatan saat ini, 250 tahanan yang menjalani hukuman seumur hidup dan hukuman penjara panjang, serta 1.718 tahanan yang ditangkap dari Gaza setelah 7 Oktober 2023, telah dibebaskan,” kata kantor tersebut dalam sebuah pernyataan.
Layanan Penjara Israel, sementara itu, mengonfirmasi bahwa 1.968 tahanan Palestina telah dibebaskan dari penjara berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Gaza.
Menurut seorang reporter Anadolu, kelompok pertama tahanan yang dibebaskan tiba di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis di Gaza selatan untuk menjalani pemeriksaan medis.
Ribuan warga Palestina berkumpul untuk menyambut para tahanan yang dibebaskan, dengan ratusan orang berkumpul di halaman rumah sakit, sementara yang lain menunggu di luar untuk kedatangan mereka.
Penyerahan Sandera Israel
Pembebasan ini terjadi setelah kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menyerahkan 20 sandera ‘Israel’ yang masih hidup berdasarkan perjanjian gencatan senjata Gaza tahap pertama.
Hamas mengatakan pihaknya juga akan menyerahkan jenazah empat sandera ‘Israel’ pada hari Senin berdasarkan perjanjian gencatan senjata Gaza.
Sebuah pernyataan dari sayap bersenjata kelompok tersebut, Brigade Qassam, mengatakan jasad Guy Illouz, Yossi Sharabi, Bipin Joshi, dan Daniel Perez akan diserahkan.
Perjanjian gencatan senjata Gaza tahap pertama mulai berlaku pada hari Jumat berdasarkan rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang genosida ‘Israel’ yang telah berlangsung selama dua tahun di wilayah tersebut.
Sejak Oktober 2023, serangan ‘Israel’ telah menyebabkan lebih dari 67.800 warga Palestina di Gaza menjadi syuhada, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sehingga wilayah tersebut sebagian besar tidak dapat dihuni.*




