Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Palestina Terkini

Perdana Menteri Otoritas Palestina Lakukan ‘Kunjungan Bersejarah’ ke Gaza

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Oktober 2017 18:31 6:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Oktober 2017 18:31
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Perdana Menteri Otoritas Palestina Rami Hamdallah tiba di Gaza Strip yang terkepung pada Senin, dalam upaya terbaru terkait rekonsiliasi antara Otoritas Palestina (PA) berbasis di Tepi Barat dan Hamas di Gaza.

Dalam konferensi pers di saat kedatangannya, Hamdallah menggambarkan kunjungan itu sebagai sebuah “momen bersejarah” terkait persatuan rakyat Palestina.

“Kami datang atas perintah Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk mengumumkan pada dunia, dari jantung Gaza bahwa negara Palestina tidak bisa tanpa persatuan politik dan geografis antara Tepi Barat dan Gaza.

“Kami tahu bahwa satu-satunya cara mencapai tujuan kita ialah melalui persatuan, dan untuk melindungi sistem politik Palestina,” kata Hamdallah, dikutip Aljazeera. Ia menambahkan pemerintah persatuan nasional akan mulai mengambil tanggungjawab administratifnya atas Gaza.

Perdana menteri itu juga mengumumkan bahwa beberapa komite telah dibentuk untuk mengatasi masalah-masalah seperti penyeberangan perbatasan dan pegawai PA di Gaza.

Baca Juga

Al-Aqsha Ditutup untuk Muslim, Para Rabi Berdoa di Tembok Al-Buraq Picu Sorotan
Gelombang Protes Tolak UU Hukuman Mati Israel bagi Tahanan Palestina
Menteri Penjajah Tuangkan Miras Rayakan Disahkannya Hukuman Mati untuk Warga Palestina Terjajah
Zionis Sahkan Undang-Undang Hukuman Mati bagi Warga Palestina Terjajah, Picu Kritik Internasional
Babak Baru Pendudukan: ‘Israel’ Resmikan Pencaplokan Tepi Barat

Baca: Hamas Segera akan Berunding dengan Fatah

Kunjungan ke Gaza itu merupakan yang pertama bagi Hamdallah dalam dua tahun terakhir.

“Kami berharap untuk membalikkan halaman perpecahan selamanya, dan meraih rekonsiliasi nasional menyeluruh yang akan memperkuat kegigihan rakyat kita dan menjaga hak-hak mereka,” Iyak al-Buzom, juru bicara Kementrian Dalam Negeri di Gaza, mengatakan dalam sebuah pernyataan menjelang kunjungan tersebut.

Hamdallah juga akan mengunjungi pemukiman Shujayea, di aman tentara Israel melakukan pembantaian selama perang 2014 di Gaza.

Seorang delegasi keamanan Mesir yang dipimpin oleh duta besar Mesir untuk Israel, Hazem Khairat, akan mengawasi proses rekonsiliasi tersebut.

Setelah delegasi Hamas bertemu para diplomat Mesir di Kairo pada akhir bulan lalu, Hamas memutuskan akan membubarkan komite administratifnya dan menyatakan keinginannya untuk melakukan rekonsiliasi dengan rivalnya, partai politik Fatah, setelah perpecahan selama sedekade.

“Keputusan Hamas untuk merespon inisiatif Abbas dan untuk membubarkan komite administratifnya merupakan langkah penting yang kami akan bangun diatasnya banyak pekerjaan,” kata Hamdallah pada konferensi pers.

Hamas telah menjadi pemimpin de-facto di Strip Gaza sejak 2007 setelah mengalahkan partai Fatah Presiden Mahmoud Abbas dalam pemungutan suara parlemen.

Baca: Hamas dan Fatah Akan Berunding Lagi di Gaza

Hamas kemudian mendorong keluar Gaza dalam konflik berdarah, ketika Fatah menolak mengakui hasil dari pemungutan suara. Hamas menguasai Strip Gaza dan Fatah menguasai Tepi Barat sejak itu, dan beberapa upaya rekonsiliasi telah gagal karena berbagai alasan.

Upaya rekonsiliasi terakhir pada 2014 gagal ketika Israel melancarkan perang 51 hari melawan Gaza.

Kontrol Hamas atas keamanan dan semacamnya sebagai sebuah gerakan perlawanan bersenjata juga telah menjadi halangan bagi PA, yang bekerja sama dengan Israel dalam masalah yang berhubungan dengan kemanan, sebagaimana yang tercantum dalam Piagam Oslo, ditandatangani pada 1993 dan 1995 antara Organisasi Pembebasan Palestina dan Israel.

Sementara kontrol administratif akan diserahkan, pemerintahan Hamas akan mempertahankan otoritas keamanan, sebuah faktor yang para analis politik katakan akan mengakibatkan kegagalan pemerintah gabungan.

Abdulsatter Qassam, seorang profesor ilmu politik di Universitas an-Najah di Nablus di Tepi Barat yang terjajah, mengatakan hal itu “sangat tidak mungkin akan ada rekonsiliasi yang berlangsung lama”.

“Ini semua hanyalah latihan. PA tidak mempercayai legitimasi di tangan Hamas. Ini berarti bahwa PA ingin mengakhir perlawanan di Gaza dan Hamas menolak itu. Dan jika Fatah menerima perlawanan itu, Israel akan mengambil langkah melawan PA,” Qassem mengatakan pada Aljazeera.

“Ini akan pasti akan mengarah pada kehancuran pemerintah gabungan potensial yang baru. Karena alasan ini, minggu ini, dan untuk beberapa bulan ke depan, Hamas dan Fatah akan berupaya tidak berbicara mengenai Oslo dan isu perlawanan. Setidaknya, tampil sukses di hadapan rakyat Palestina. Tetapi pada akhirnya, Israel tidak akan menerima ini.”

Baca: Studi: Hamas Bisa Kalahkan Fatah dalam Pemilu Palestina

Selama beberapa bulan terakhir, Hamas telah berada di bawah tekanan besar dari langkah Abbas terhadap Gaza, yang bertujuan untuk menekan Hamas agar melepaskan kontrol teritori itu.

Langkah menghukum itu termasuk memotong gaji pegawai PA yang tinggal di Gaza dan meminta Israel untuk mengurangi suplai listrik ke Strip Gaza.

Analis politik di Gaza, Waleed al-Modallal mengatakan bahwa dalam jangka pendek, rakyat mengharapkan keadaan dapat meningkat.

“Terdapat udara positif dan optimisme di jalanan, tetapi rakyat juga dengan hati-hati memperhatikan. Mereka mengharap bahwa langkah ini akan meringankan kesulitan situasi ekonomi di Gaza, penyeberangan perbatasan akan lebih sering dibuka, masalah pegawai PA akan diselesaikan, dan bahwa listrik [akan] dikembalikan,” Modallal mengatakan.

Masalah perlawanan bersenjata Hamas, dia menambahkan, tidak akan didiskusikan setidaknya selama setahun.

“Semua warga Palestina tidak akan menyerah terhadap perlawanan di bawah kondisi apapun, karena kami adalah orang-orang yang berada di bawah penjajahan. PA tidak akan dapat melindungi kami, dan jelas bahwa di Tepi Barat – Israel memasuki pusat-pusat kota dan mereka tidak dapat mempertahankan diri mereka sendiri.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:FatahGerakan Pelawanan Islam di PalestinaHAMASismail haniyahMahmoud AbbasOtorita PalestinapalestinaPemilu Palestina
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Calon Mahasiswa Universitas Islam Madinah Dipesankan agar Menjaga Ukhuwah
Tulisan selanjutnya ”Berjalan pada Rel (Jadi) yang Benar…”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Palestina Terkini

Khaled  Misy’al: Senjata Bagi Hamas adalah Alat Pertahanan Diri dari Penjajahan

10 Februari 2026 06:48
Palestina Terkini

Netanyahu Tegaskan Tak Akan Ada Lagi Palestina dan Gaza

9 Februari 2026 11:14
Palestina Terkini

Serangan Baru ‘Israel” Menunjukkan Penjajah Tak Peduli “Dewan Perdamaian”

1 Februari 2026 18:43
Palestina Terkini

Dosen Fakultas Ushuluddin Ungkap Kesaksian Akademik tentang Abu Ubaidah 

3 Januari 2026 19:52
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?