Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

“Khadimul Haramain” de Sukabumi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Mei 2010 15:16
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Ribuan orang sudah memadati masjid Nabawi, Madinah, 30 menit menjelang dzhuhur tiba. Sebagian yang datang langsung melakukan shalat sunnah dua rakaat, sebagian lain sibuk berdoa atau membaca Al-Quran.

Sementara itu, beberapa orang petugas masjid Nabawi mulai mempersiapkan diri. Petugas di masjid ini biasanya menggunakan seragam resmi berwarna biru. Seorang petugas berkebangsaan Bangladesh sibuk menggunakan penyedot membersihkan debu-debu karpet, sebagian sibuk membersihkan lantai dan mengisi tong-tong air zam-zam yang berderet di areal masjid.

Seorang petugas, menyapa ramah, “Assalamu’alaikum, haji, “ ujarnya.

Jangan keliru, dia bukan orang Arab atau orang Bangladesh. Ia adalah salah seorang petugas masjid asal Indonesia, asli Sukabumi.

Sebut saja namanya Ridwan (30), ia adalah salah petugas yang bekerja membersihkan dan merapikan mushaf Al-Quran di dekat pintu 9, King Ibnu Sa’ud. Pria asal Jawa Barat ini biasanya akan menyapa ramah setiap ada orang asal Indonesia yang melintas atau lewat di depannya.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

“Ya, sekalian hiburan, kangen dengan orang Indo,“ ujarnya kepada hidayatullah.com.

Ridwan bukan satu-satunya warga Indonesia yang menjadi pelayan di masjid tempat Rasulullah (khadimul haramain) ini. Ada puluhan orang asal Indonesia yang “mengabdikan” waktu dan tenaganya di salah satu masjid haram ini.

Wajah mereka mudah dikenali. Umumnya, mereka bertugas merapikan mushaf-mushaf Al-Quran atau menjaga dan membersihkan toilet.

Karena Mulia

Tak ada angka pasti berapa banyak jumlah warga Indonesia menjadi “pelayan umat” di masjid yang sering dikunjungi umat Islam dari seluruh penjuru dunia ini.

Menurut Akram (42), jumlahnya diperkirakan mencapai 40 orang. Menurut pria asal Sumbawa ini, umumnya orang Indonesia itu menjadi pelayan di kantor. Bagi yang melek baca tulis Al-Quran, lebih beruntung, ia bisa ditugaskan sebagai penjaga “Maktabah Masjid Nabawy” (perpustakaan Masjid Nabawi), seperti yang dialami Muhtar (32).

Umumnya pemuda asal Indonesia ini datang karena kondisi ekonomi. Hanya saja, orang-orang seperti Ridwan, Akram, dan Muhtar, mereka mengaku lebih beruntung dibanding teman-temannya yang lain, di saat mereka sama-sama berangkat ke Arab Saudi.

“Ya Alhamdulillah, saya lebih beruntung bisa ditempatkan di masjid suci di mana orang hanya sering mendengar namanya,” aku Akram.

Menurutnya, sebagian besar kawan-kawannya bekerja di luar masjid. Ada yang sebagai supir, ada yang jadi pelayan toko, atau karyawan hotel.

Hanya saja, jangan tanya gaji kepada mereka. Rata-rata mengaku menerima gaji yang tak sebanding dibandingkan dengan kedatangan mereka yang sudah menyeberangi laut dan gugusan pulau-pulau. Umumnya gaji mereka berkisar tak jauh dari SR 500 (sekitar Rp. 1.500.000,-). Sebagian bahkan ada yang dibawah angka itu.

“Untuk orang seperti saya yang sudah punya anak dua, ya sangat tidak cukup, belum dipotong sewa kos,“ ujar Akram.

Hanya saja, meski,mereka mengaku menerima gaji yang tak terlalu besar, ia merasakan banyak keistimewaan yang tak dimiliki banyak orang di Indonesia.

Muhtar, misalnya, meski dia tak mendapat gaji besar, ia gembira sudah bisa haji dan umrah beberapa kali. “Ya senangnya, karena saya bisa haji dan umrah berkali-kali. Jika saya di Indonesia, mana mungkin bisa, “ ujarnya.

“Saya, bahkan tiap hari shalat dan berdoa di Raudhah dan makam Rasulullah,” ujar Ridwan. “Kalau tak ada itu semua, mungkin saya sudah tak kerasan di tempat ini,“ tambah Akram.

Negeri Sendiri

Ridwan, Akram, dan Muhtar, mengaku, kehadirannya sebagai “khadimul haramain” ini diakui sebagai perjalanan yang akan diceritakan ke keluarga dan anak cucu-nya kelak.

“Enak gak enak di negeri orang, tetap enak di Indo mas,“ aku Muhtar yang akan pulang tahun ini.

Senada dengan Muhtar, Ridwan juga mengaku tak akan menghabiskan masa kontraknya yang akan habis setahun ke depan. Baginya, masa dua tahun di negeri orang sudah cukup sebagai pengalaman berharga.

“Ya setidaknya, hampir dua tahun di tempat ini, saya bisa lebih khusuk beribadah dan belajar agama. Mudah-mudahan bisa menjadi bekal nanti di akhirat dan saat pulang ke rumah,“ ujar Akram.

Masjid Nabawi di Madinah, adalah salah satu tempat yang menjadi sasaran kunjungan umat Islam di seluruh dunia setelah Masjidil Haram, Mekah Al Mukarramah.

Sebagaimana diketahui, Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang paling utama untuk dikunjungi umat Islam setelah Masjidil Haram di Mekah. Masjid Nabawi didirikan tahun 622 M (tahun pertama hijriah), setelah Nabi Saw hijrah dari Mekah ke Madinah.

Setelah beberapa bulan tinggal di sana, Nabi Saw mendirikan masjid di atas tanah tersebut. Rasulullah Saw yang meletakkan batu pertama pendirian masjid, diikuti oleh sahabat-sahabat Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Kemudian pengerjaan masjid dilakukan dengan gotong royong sampai selesai. Pagarnya dari batu tanah, tiang-tiangnya dari batang kurma, sedangkan atapnya pelepah daun kurma.

Dalam perkembangannya, Masjid Nabawi mengalami beberapa kali perombakan. Perubahan pertama adalah membangun mihrab setelah memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram di Mekah tahun 2 H setelah Rasulullah Saw menerima perintah memindahkan arah kiblat. Setelah itu dilakukan beberapa kali pembesaran masjid untuk dapat menampung jamaah yang semakin bertambah besar.

Hal yang menarik dan paling banyak menjadi sasaran jamaah jika datang ke Masjid Nabawi adalah di area makam Nabi dan Raudhah. Tempat ini ditandai tiang-tiang putih dan letaknya adalah antara rumah Nabi Saw (sekarang makam Rasulullah Saw) sampai mimbar.

Raudhah adalah tempat yang paling makbul untuk berdoa, seperti sabda Rasulullah Saw, “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surge.”

Banyak hadits Nabi Saw yang menguraikan keutamaan Masjid Nabawi serta ganjaran shalat di masjid ini. Di antaranya hadits yang diriwayatkan Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim yang berbunyi, “Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1.000 kali dibanding shalat di masjid lainnya.“

Menurut penanggungjawab dua masjid suci Syeikh Sholeh Al Husain, lebih dari 4000 orang bertugas di Masjid Nabawi. Mereka adalah tenaga-tenaga yang secara marathon dikerahkan siang-malam untuk “berhidmad” melayani umat dari seluruh penjuru dunia. [cholis akbar/hidayatullah.com]

foto: hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hasyim Muzadi Ragu Teroris Incar Presiden
Tulisan selanjutnya Zakat untuk Biaya Pernikahan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Berita
20 Juli 2026 05:00
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?