SAPTA dan kedua temannya ketiban sial kemarin. Maksud hati hanya beli kopi, mereka malah dipukuli oleh orang-orang tak dikenal. Mereka juga tak mengerti salahnya apa.
“Enggak tahu kenapa mereka menyerang kami,” kata Sapta saat ditemui hidayatullah.com, Selasa sore (18/04/2017).
Sapta, 16 tahun, adalah murid dari Ketua Tanfidz DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta, Buya Abdul Majid. Selasa malam dinihari kemarin, kediaman Buya Majid di Kramat Lontar, Senen, Jakarta Pusat, diserang ratusan massa tak dikenal. Buya Majid menyebut mereka para preman dan massa berseragam Banser.
Pada kericuhan yang rangkaiannya terjadi sejak Senin (17/04/2017) itu, sejumlah warga setempat jadi korban pemukulan oleh massa tersebut.
Baca: Rumah Ketua FPI Jakarta Diserang Ratusan Orang Berseragam Banser
Baca: Rumahnya Diserang, Ketua FPI Jakarta: Para Preman Acungkan Senjata Tajam, Teriak “Mana Kiai?”
Sapta dipukul pada Selasa dini hari, jam setengah dua, di warkop dekat rumah gurunya, Jalan Kramat Lontar. Kebetulan saat itu, anak-anak pengajian sedang kumpul-kumpul, santai-santai, ngobrol-ngobrol, dan istirahat di rumah itu.
Mereka dan Buya Majid baru saja pulang dari tabligh akbar di Pasar Minggu. Mengetahui ada murid-muridnya, Buya Majid menyuruh Sapta dan dua muridnya membeli kopi, untuk diseruput bareng-bareng.
Berangkatlah Sapta dan kedua temannya ke warkop. Sampai di warkop, mereka dihampiri oleh sekitar lima orang berbadan besar, berparas Ambon, dan berbaju putih.
Sapta ditanya oleh mereka,
“Lu ngapain di sini?”
“Beli kopi,” jawab Sapta.
“KTP lu mana?”
“Kaga ada.”
“Boong lu, boong lu.”
Tanpa banyak cincong lagi, mereka langsung memukul punggung, kepala, dan leher Sapta dengan tangannya. Sapta sempat menangkis.
Namun karena dahsyatnya mungkin pukulan itu, Sapta jatuh. Sapta berusaha bangun. Ia jongkok dengan kepala menunduk. Dua teman yang menemaninya juga dihajar di bagian pipi dan perut.
Tak hanya memukul, mereka juga menarik-narik kaos Sapta, sampai bagian lehernya robek. Sapta disuruh keluar warkop.
“Ke kantor, ke kantor!” perintah mereka pada Sapta.
Tapi Sapta tidak tahu kantor mana. Ia akhirnya hanya disuruh duduk di depan warkop. Tapi entah mengapa, mereka menyuruh Sapta masuk lagi ke warkop.
Dari dalam warkop, Sapta melihat mereka maju menyerang ke arah rumah gurunya. Sapta melihat warga setempat dan teman-temannya melawan. Pecahlah keributan! Massa tak dikenal itu pun kocar-kacir. Sapta lalu lari dari warkop itu. Meski begitu, ia mengaku,”Nyerinya masih terasa.”* Andi