Hidayatullah.com– Saat menginjakkan kaki di Bangladesh, saya sangat jarang melihat orang yang merokok. Saya berpikir, mungkin hanya di sebagian tempat saja yang tidak ada orang merokok.
Namun, di tempat lain saya juga jarang melihat rokok, baik di jalan, restoran, atau tempat umum. Begitu saya ke Cox’s Bazar, juga demikian, warga sangat jarang yang merokok. Baik remaja maupun orang dewasa. Jika ada, itupun hanya satu dua orang.
Salah satu faktornya ternyata, harga rokok di Bangladesh mahal. Daripada untuk merokok, masyarakat memilih untuk membeli yang lain.
Baca: WHO Imbau Naikkan Pajak Tembakau untuk Kurangi Perokok Remaja
“Harga rokok di Bangladesh mencapai 200 taka, dan ini sangat mahal, lebih baik beli makanan,” kata Abdurahim yang pandai bahasa Melayu kepada saya di Bangladesh, Rabu (18/10/2017).
Satu taka bernilai Rp 163, jadi 200 taka Bangladesh senilai sekitar Rp 32.600.
Sebagai pengganti merokok, warga di sini mengunyah pinang dicampur sirih. Harga sirih lengkap dengan pinang hanya 4 taka.
Selain itu, saya juga tidak melihat iklan rokok, baik reklame, poster, atau gambar tempel di warung-warung kelontong.
Termasuk juga saat melihat siaran televisi di tempat saya menginap, tidak ada iklan rokok, baik pada siang dan malam hari, yang ditayangkan. Sungguh pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan di Indonesia.*