Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mereka Memilih Berani

Asa Muslimah Kembali ke Penjara Berdakwah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 April 2020 13:20 1:20 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 April 2020 13:20
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | SALAMINAR baru saja selesai mengajar siang itu. Dia keletihan setelah mengajar full sejak pagi. Rasa ingin istirahat, tidur siang tentu menguasai pikirannya.

Namun dia teringat, bahwa ini hari Selasa. Seperti biasa, tidak ada waktu istirahat siang di hari Selasa. Masih ada amanah lain yang sedang menunggu dan harus ditunaikan, yaitu mengajar Al-Qur’an di Lapas Kelas Tiga Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Di hari Selasa siang, seperti biasa para tahanan wanita di Lapas itu bersiap-siap belajar tahsin bacaan Al-Qur’an bersama Ustadzah Minar, sapaan akrab Muslimah lajang tersebut.

Lapas Kelas III Lhoknga terletak agak jauh dari pusat ibu kota Aceh, Banda Aceh. Sekitar satu jam ke arah barat daya. Tidak jauh dari Lapas itu berdiri Pondok Pesantren Hidayatullah cabang Aceh. Jarak lokasinya dari Lapas hanya lima belas menit jika ditempuh dengan berjalan kaki.

Kedekatan Hidayatullah dengan pengurus Lapas Lhoknga sudah terjalin cukup lama. Saat ini, dalam bentuk kerja sama pelayanan pembinaan spritual dan wawasan keagamaan para tahanan, khususnya tahanan wanita.

Baca Juga

Kisah Dai Pedalaman Membina Iman di Kota Tepian
Membina Iman di Kota Tepian
Jalan Panjang Dai Tempaan Alam
Berpacu melawan Misionaris
Kisah Lulusan Al-Azhar Membina Kader Da’i di Kaki Gunung Penanggungan
Jangan Takut Berdakwah di Wamena

Salaminar pada awalnya sekadar ikut-ikutan dengan ibu-ibu pengajian Muslimat Hidayatullah (Mushida).

Rasa keingintahuan sekaligus ingin cari pengalaman membuatnya mantap untuk turut bertisipasi dalam kegiatan itu, meskipun harus mengorbankan waktu istirahatnya di siang hari.

Kini kegiatan mengajar di Lapas justru menjadi rutinitasnya di setiap hari Selasa.

“Awal cuma ikut ikut para ustadzah dari rombongan Mushida, kemudian dapat instruksi dari penanggung jawab kegiatan untuk mengajar rutin setiap hari Selasa,” tuturnya tersenyum.

Materi yang diajarkan kepada para tahanan adalah seputar tahsin bacaan Al-Qur’an dan terjemah bacaan shalat.

Bagi Minar, panggilannya, materi yang diajarkan tidak terlalu berat, sebab guru lajang ini sudah hafal 30 juz Al-Qur’an, serta dirinya pernah mengenyam pendidikan Islam di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STIS) Balikpapan.

Baginya yang berat adalah selalu istiqamah agar tidak terputus. Hal ini selalu dia upayakan. Sehingga, jika terkadang tidak ada yang bisa mengantar, dia terpaksa berjalan kaki sendiri ke Lapas selama lima belas menit.

Antusias para tahahan wanita untuk mengikuti kegiatan tahsin nyaris tak pernah kendur, meskipun di antara mereka ada yang sudah lanjut usia.

“Yang paling muda 20 tahun, dan ada juga yang sudah sepuh, berusia 80 tahun,” tuturnya terharu.

“Terkadang sebagian petugas wanita di dalam penjara ikut nimbrung bertanya masalah masalah agama. Bahkan ada juga tahanan laki-laki yang nekat mendekat untuk bertanya masalah agama,” lanjutnya tersipu.

Salaminar menyadari bahwa ilmu yang dimiliki masih sedikit. Dia merasa masih sangat perlu untuk belajar agama lebih dalam lagi.

Rasa keterpanggilan untuk menjalankan amanah mengajar para napi tidak mungkin ditampiknya. Baginya memberikan yang sedikit lebih baik daripada tidak memberi sama sekali.

“Terus terang, saya justru termotivasi dengan semangat ibu-ibu tahanan belajar di penjara. Mereka bahkan minta tambahan satu hari lagi untuk ngajar di penjara,” tuturnya.

Rutinitas harian akhwat kelahiran tahun 1996 ini terbilang padat dan berat. Di samping mengajar di MTs dan MA Al Ikhlas Hidayatullah Aceh, sehari-harinya dia harus menjalankan amanah kepengasuhan untuk santriwati pesantren, dan harus menetap di asrama selama 24 jam.

Hampir setiap malam bakda magrib, diapun harus menerima setoran hafalan para santriwati program tahfizh di pondok itu.

Di masa pandemi Covid-19 hingga April ini bahkan waktu tak menentu, Salaminar terpaksa pulang untuk berdiam diri di kampung halamannya di kawasan Aceh Tengah, Desa Serule, Kecamatan Bintang.
Perjalanan dari Pesantren Hidayatullah ke kampung halaman ditempuh selama 12 jam. Cukup melelahkan.

Meski terpaksa off dulu, masih tersimpan harapan teramat besar di dalam hati sang kader dakwah ini untuk kembali membersamai para santri dan napi tersebut.

“Semangat mereka belajar di tengah keterbatasan membuat saya termotivasi untuk lebih semangat lagi membersamai mereka dalam belajar ilmu agama,” tuturnya.* (Lukman, Dosen STIS Hidayatullah)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AcehAceh Besarcovid-19Dai HidayatullahdaiyahdakwahLapasnapi wanitastis hidayatullah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Negara Eropa Manfaatkan Coronavirus Sebagai Alasan Menolak Kapal Penyelamat Migran Berlabuh
Tulisan selanjutnya Kano Nigeria Lockdown: Istri Baru Melahirkan, Saya Tak Bisa Keluar Mencari Makan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban

Berita
13 Juni 2026 15:11
Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’
Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

Mereka Memilih Berani

Kemewahan di Kampung Mualaf Selat Kongki setelah Kehadiran Laznas Ini

13 Juli 2022 08:33
Mereka Memilih Berani

Kisah Dai Diadang Pedang Terhunus Saat Mau Khutbah Jumat

28 Juni 2022 08:00
Mereka Memilih Berani

Ketika Ustadz Hasyim HS Kaget Ditugaskan KH Abdullah Said

21 Mei 2022 15:00
Mereka Memilih Berani

Dakwah Tak Kenal Lelah “Dai Non-Subsidi”

3 Mei 2022 16:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?