Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Nikmatnya Hidup Bersama Hidayah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Agustus 2016 09:10 9:10 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Agustus 2016 09:10
Bagikan
Seorang pekerja bangunan Indonesia bekerja dengan resiko nyawa. Islam memandang hidup bukan beban, tetapi tanggungjawab
Bagikan

PERNAHKAH berpikir jika hidup adalah nikmat? Bagi seorang yang dilimpahi materi dalam hidupnya, boleh jadi menjawab iya. Hidup di dunia adalah nikmat dan menyenangkan.

Sebaliknya, mereka yang ditakdirkan kekurangan materi, mungkin ada yang berkata tidak. Hidup adalah beban dan penderitaan saja.

Jauhnya manusia dari agama dan rusaknya moral manusia, kerap menjadikan mereka berpikir materialistik.

Menganggap hidup sekadar ajang mengejar materi duniawi. Akibatnya ketika orang itu tak memperoleh keuntungan materi, serta merta ia menganggap hidup ini adalah beban.

Alih-alih berbagi manfaat kepada sesama dan lingkungan, sejak awal dia sudah terkungkung beban pemikirannya yang sempit. Bawaannya hanya stress dan berburuk sangka kepada orang lain.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا * إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا * إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا)

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya [dengan perintah dan larangan], karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” [Surat Al-Insan [76]: 1 – 3]

Dalam ayat di atas, Allah mengutarakan dua nikmat besar yang telah Allah berikan kepada manusia.

Nikmat pertama, penciptaan dan hidup manusia itu sendiri. Ia diciptakan dari yang sebelumnya tak pernah ada. Manusia lahir sedang dulunya tak dikenal sama sekali.

Bahkan tak dikenal oleh sang ibu yang melahirkannya. Dalam urusan penciptaan, manusia sama sekali tak punya andil dan kuasa sedikit pun kecuali hanya wajib mensyukurinya.

Nikmat berikutnya terdapat pada kemurahan Allah dengan diutusnya Rasul (utusan Allah) kepada manusia dan diturunkannya al-Qur’an sebagai pegangan hidup.

Rasul bertugas memberikan penjelasan akan aturan dan rambu-rambu kehidupan di dunia. Suatu pedoman hidup yang telah terangkum lengkap dalam al-Qur’an.

Petunjuk yang mampu mengantarkan mereka kepada kebahagiaan dan ketenangan hidup. Baik di dunia terlebih di akhirat kelak (Tafsir Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, Dar al-Fikr, Beirut 1995).

Bagi yang pandai bersyukur, orang itu senantiasa mampu berpikir positif dalam setiap urusannya

Baginya, jatah hidup berarti kesempatan mensyukuri nikmat yang diberikan. Seolah tak punya waktu untuk berleha-leha dan berbuat sia-sia.

Dirasakan, nikmat yang begitu meruah tak sebanding dengan yang diperbuat selama ini. Jatah umurnya yang terus menyusut tak seimbang dengan pengabdiannya kepada agama.

Alhasil, kehidupan orang yang pandai bersyukur senantiasa aktif dan dinamis. Seluruh urusan dan masalah yang dihadapi jadi lahan subur merefleksikan rasa syukur itu.

Pikirannya fokus dan satu saja. Menebarkan benih kebaikan dan kebenaran sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) bersabda, “Manusia yang paling disenangi Allah Ta’ala adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Hidup adalah pilihan

Hidup adalah pilihan. Ungkapan tersebut sepertinya bisa mewakili keadaan manusia sekarang. Faktanya, karunia petunjuk dan limpahan nikmat materi masih menyisakan ujian.

Manusia dihadapkan dua pilihan.  Apakah mereka mampu bersyukur atas nikmat tersebut atau justru mengingkari nikmat yang terhidang.

Ibarat neraca, dunia dengan pesonanya menjadi alat penimbang kadar kesyukuran atau kekufuran orang tersebut.

Pilihan itu berpulang kepada manusia. Sebab Allah Ta’ala hanya menerangkan jalan menuju surga dan menjelaskan cara menjauhkan diri dari siksa neraka.

Meski menjadi naluri fitrawi diakui dalam alam arwah, tapi hidayah bukanlah garansi yang tak bergerak. Iman adalah perkara yang tak bisa diwariskan. Ia bisa saja lenyap jika tak dirawat dengan ketaatan dan amal shaleh di jalan dakwah.*/Masykur Abu Jaulah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akheratduniahidayahhidup
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah di Chechnya Rekomendasikan Buat TV Islam
Tulisan selanjutnya Ganti Rugi Kebakaran Kilang Iraq Berencana Jual Minyak Melalui Iran Jika Kesepakatan dengan Kurdi Gagal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Mojtaba Khamenei Janji akan Menuntut Balas Kematian Ayahnya
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida

Terbaru

  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?