Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Profil Sahabat Nabi yang Monogami

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Februari 2019 08:32 8:32 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Februari 2019 08:32
Bagikan
Bagikan

TIDAK dipungkiri dalam catatan sejarah mengenai fakta poligami di kalangan sahabat Nabi. Sebagai contoh, empat Khalifah pasca Nabi (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), dikenal beristri lebih dari satu (ta’addud/poligami). Namun, ada juga sahabat-sahabat yang sepanjang hayatnya monogami.

Pertama, Abu Darda. Selama hidupnya, sahabat yang dikenal dengan ahli ibadah ini setia dengan satu istri. Beliau baru nikah lagi pasca wafat istrinya dengan wanita yang digelari sebagai Ummu Darda Sughra.

Di kalangan sahabat, beliau makruf sebagai sosok yang bertakwa, hati-hati, sibuk dengan ilmu dan al-Qur`an. Dulunya, sebelum masuk Islam, beliau adalah seorang saudagar. Kemudian, ketika mendapat hidayah Islam, beliau meninggalkan aktivitas lamanya, untuk kemudian fokus pada ibadah.

Baca:  Bersikap Adil Terhadap Poligami

Kedua, Bilal bin Rabbah. Dalam catatan sejarah, beliau menikah dengan saudari Abdurrahman bin Auf: Halah binti Auf. Meski istrinya tak memiliki anak dari perkawinan ini, Bilal tidak poligami atau mentalaknya. Kondisinya tetap demikian sampai Bilal meninggal dunia saat berjihad di Bumi Syam.

Ketiga, Abu Hurairah. Semasa hidup Nabi, beliau tidak menikah. Aktivitasnya sehari-hari lebih difokuskan pada menuntut ilmu kepada Nabi. Hanya saja, pasca wafatnya Nabi, beliau menikah dengan Surrah binti Ghazwan, saudari Utbah bin Ghazwan. Ini seperti yang dicatat dalam “Siyar A’lam an-Nubala” karya adz-Dzahabi dan “al-Ishaabah” karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Keempat, Ibnu Mas’ud. Selama hidupnya, tidak pernah beristri lain selain Zainab ats-Tsaqafiyah. Di kalangan sahabat, beliau dikenal sebagai ulama yang alim di bidang fikih. Sampai-sampai ada ungkapan, “Carilah ilmu pada empat sahabat: Uwaimir Abi Darda, Salman al-Farasi, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Salam.”

Kelima, Handhalah bin Abi Amir. Beliau menikah dengan Jamilah binti Abdillah bin Ubai bin Salul. Beliau turut serta berjihad di Pertempuran Uhud. Menariknya, saat instuksi jihad dikumandangkan, beliau waktu itu sedang menikmati malam pertama. Belum sempat mandi junub, ia segera bergabung di medan jihad. Akhirnya beliau gugur syahid. Bahkan malaikat pun turut memandikannya karena belum sempat mandi junub.

Dan masih ada yang lainnya, seperti: Julaibib. Bahkan sosok Ali bin Abi Thalib pun, sepanjang hayat Fathimah binti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bermonogami. Demikian juga kalau mau berkaca pada Nabi Muhammad sendiri, yang selama hidup dengan Khadijah tak pernah poligami. Data-data demikian perlu diungkap agar umat bisa adil dalam menilai poligami.

Baca:  MUI: Poligami termasuk Syariat Islam

Pada faktanya, sebelum kedatangan Islam, poligami sudah menjadi tradisi. Islam justru memberikan batas proporsional dan syarat-syarat yang ketat bagi orang yang ingin melakukannya. Persoalannya bukan pada poligami atau tidak, namun syarat ketentuan itu sudah memenuhi atau belum.

Dengan demikian, bagi yang hendak berpoligami tidak menggampangkannya dengan alasan sunnah Nabi dan sahabat (padahal misalnya, alasannya sekadar syahwat). Padahal, ada juga sahabat yang tak berpoligami. Kalaupun berpoligami, tentu syarat dan ketentuan berlaku. Bagi yang menolak poligami pun juga perlu berkaca pada dalil kebolehan poligami dan peristiwa itu, bahwa poligami itu tak terlarang selama bisa menunaikan syarat dan kewajiban.

Bila sikap ini yang menjadi titik tolak, maka orang tak gampang melakukan poligami tanpa alasan yang tepat. Di samping itu, tidak gampang menyalahkan orang yang berpoligami dengan alasan perasaan yang tersakiti. Keduanya perlu diletakkan secara proporsional tanpa mengedepankan kepentingan pribadi dan hawa nafsu.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:menikah lagimonogamipoligamiSahabat Nabita'adud
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mantan Kepala Intel Saudi Ungkap Hubungan Arab Saudi dan ’Israel’
Tulisan selanjutnya Jerman Tidak akan Ekstradisi Warganya ke Inggris Setelah Brexit

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta

Berita
16 Oktober 2026 14:29
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?