Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Sejarah Wabah dalam Dunia Islam

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 7 April 2020 23:50 11:50 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 8 April 2020 08:20
Bagikan
Bagikan

Mahmud Budi Setiawan

 

Hidayatullah.com | Dalam catatan sejarah Islam, banyak diungkap terjadinya wabah. Ibnu Hajar Al-‘Asqalany dalam “Badzlu al-Maa’un fii Fadhli ath-Thaa’un” (361-370) mengemukakan secara ringkas hasil penelitiannya terkait wabah tha’un.

Menyitir perkataan Abu Hasan Al-Mada`iny, Ibnu Hajar menulis bahwa pada masa Islam, ada lima wabah tha’un paling besar: Pertama, tha’un Syirawaih. Wabah ini terjadi di Mada`in (wilayah Persia) saat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.

Kedua, tha’un ‘Amwas. Ini terjadi pada masa Umar bin Khattab (18 H). Lokasi kejadiannya di Syam. Pada saat itu yang meninggal sekitar 25 ribu orang. Itu baru yang meninggal. Bisa dibayangkan betapa banyaknya korban kala itu.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Ketiga, tha’un Jarif. Ini terjadi pada tahun 69 H. Keempat, tha’un al-Fatayaat tahun 87 H. Dinamakan demikian karena pada waktu itu yang banyak meninggal adalah dari kalangan wanita. Kelima, tha’un di Kufah zaman Abu Musa al-Asy’ary tahun 50 H.

Setelah menjelaskan 5 besar wabah tha’un yang terjadi pada masa Islam, beliau kemudian menjelaskan beberapa tha’un yang juga terjadi di negeri-negeri Islam. Di Mesir pada tahun 66 H, menyebar wabah tha’un. Bahkan pada saat wafatnya Abdul Aziz bin Marwan tahun 85 H, juga terjadi wabah ini. Menurut Al-Mada` ini ketika wabah tha’un mengjangkiti Mesir, Abdul Aziz bin Marwan mencoba untuk lari ke desanya. Dan akhirnya meninggal di desa itu.

Wabah tha’un lain yang terekam dalam catatan sejarah adalah tha’un al-Asyraf, tha’un Addi bin Artha’ah pada tahun 100 Hijriah. Disusul kemudian pada tahun 107 Hijriah yang keduanya sama-sama di Syam.

Tha’un yang lain adalah Ghurab yang terjadi pada tahun 127 H. Lalu tha’un Salam bin Qutaibah (131 H) terjadi di Bashrah pada bulan Rajab dan semakin parah pada bulan Ramadhan. Dan mulai berkurang pada bulan Syawal. Pada waktu itu setiap hari yang mati mencapai seribu orang. Semua ini terjadi pada masa Daulah Umawiyah.

Pada masa Daulah Abbasiyah juga terjadi tha’un. Misalnya pada tahun 134 yang menjangkiti wilayah Ray. Kemudian tahun 146 di Baghdad. Pada tahun 221 di Bashrah. Dalam kitab “al-Muntadham” disebutkan bahwa pada waktu itu banyak sekali yang meninggal. Sampai ada kejadian pilu di mana ada orang yang memiliki 7 anak yang mati sekaligus dalam sehari.

Kemudian pada tahun 249 H, terjadi tha’un di Irak. Di susul kemudian tahun 301 H. Berikutnya terjadi tha’un di Ashbahan pada tahun 324 H. Sedangkan pada tahun 340 juga terjadi lagi wabah ini.

Pada saat itu banyak yang mati mendadak. Sampai seorang qadhi (hakim) saat dinas ada terjangkit tha’un dan meninggal dalam kondisi masi berpakaian dinas.

Kemudian pada tahun 406 terjadi lagi tha’un di Bashrah. Pada tahun 420  H terjadi juga tha’un yang besar di India. Kemudian merambat ke Khurasan, Jurjan, Ray, Ashbahan dan di penjuru gunung Helwan sampai Maushil.

Menurut catatan sejarah, pada waktu itu, di Ashbahan saja korbannya mencapai 40 ribu. Kemudian menyebar ke wilayah Bahgdad.

Pada tahun 425 juga terjadi wabah tha’un di Syairaz. Hingga banyak orang yang terkubur dalam rumah karena sedikit sekalit tenaga yang bisa memakamkannya.

Setelah itu meluas ke Wasith, Ahwaz dan Bashrah kemudian Baghdad. Dalam sehari begitu banyak yang mati. Bahkan, dalam jangka waktu yang tidak lama yang meninggal mencapai 70 ribu.

Sedangkan pada tahun 439 H terjadi juga wabah tha’un di Maushil, Al-Jazirah dan Baghdad. Pernah sampai dalam satu kali shalat jenazah, mayat yang dishalatkan mencapai 300 ribu orang.

Tha’un berikutnya terjadi pada tahun 452 Hijriah di Hijaz dan Yaman. Pada waktu itu banyak perkampungan yang hancur dan tak dipulihkan lagi. Bahkan, orang yang memasuki wilayah yang terdampak wabah akan mati seketika.

Pada tahun 455 di Mesir juga terjadi lagi wabah tha’un. Banyak sekali yang meninggal sepanjang 10 bulan. Dalam catatan sejarah, dalam sehari bisa mencapai 1000 jiwa.

Menurut catata Sabth bin Al-Jauzi pada tahun 449 terjadi wabah tha’un. Jumlah yang meninggal cukup mencengangkan. Ribuan bahkan jutaan menurut hitungan saat ini. Kemudian di Azarbaijan, Ahwaz kemudian Bashrah.

Kemudian terjadi di Samarkand. Dalam sehari ada 6 ribu bahkan lebih orang yang meninggal. Masyarakat siang dan malam sibuk memandikan, mengkafani dan memakamkan jenazah. Pada waktu itu rumah yang dikarantina leih dari 2000.

Akhirnya banyak orang taubat, sedekah, mendiami masjid, membaca al-Qur`an dan menumpahkan minuman keras bahkan menghancurkan banyak peralatan.

Saat itu di Samarkand saja yang meninggal 236 ribu. Tha’un ini awalnya dimulai dari Turkistan kemudian ke Kasygar (Sekarang : Xinjiang) dan Farghanah lalu Samarkand.

Pada saat terjadi wabah tha’un di Mesir tahun 445, sultan Mesir saat itu sampai 80 ribu jiwa. Pada tahun 455, di Mesir juga, yang meninggal tiap harinya seribu jiwa.

Selanjutnya di Damaskus pada tahun 469. Penduduknya pada waktu itu berjumlah sekitar 105 ribu orang. Akibat wabah ini, yang tersisa 3.105. Pada tahun 478 wabah tha’un terjadi di Irak kemudian meluas ke seluruh dunia.

Dan masih banyak sekali yang dicatat oleh Ibnu Hajar. Hingga akhirnya catatannya pada tahun 841 terjadi wabah tha’un di Mesir. Dimulai pada bulan Ramadhan. Seusai Ramadhan meningkat menjadi 100, pada bulan Muharram menjadi 1000 kemudian bertambah lagi pada bulan Shafar.

Itulah data singkat mengenai wabah tha’un pada masa Islam. Ini belum catatan tentang wabah pasca zaman Ibnu Hajar, pastinya akan banyak catatan lain yang menunjukkan banyaknya wabah ini.

Dari rentang sejarah yang panjang menganai wabah, umat Islam bisa meneliti, mempelajari pengalaman-pengalaman dari mereka. Sebab sejarah bisanya kembali terulang. Yang beda adalah bentuk dan macam wabahnya. Adapun wabah terus menerus berulang. Bagi muslim itu bisa menjadi rahmat dan kesyahidan, adapun bagi yang lain bisa menjadi azab. Wallahu a’lam.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Uni Afrika Peringati 26 Tahun Genosida Rwanda
Tulisan selanjutnya BMH Yogyakarta Tebar Paket  Sembako Kepada Masyarakat Terdampak Covid-19

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

Berita
18 Juli 2026 10:48
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?