Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Abu Ayyub Al-Anshary dan Kesuksesan  Al-Fatih dalam Pembebasan Konstantinopel

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Juli 2020 12:31 12:31 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Juli 2020 12:31
Bagikan
[Ilustrasi] Pasukan Panglima Muhammad al Fatih melakukan penaklukan benteng Konstantinopel. Gambar ini direpro dari lukisan raksasa di Museum Panorama 1453 Istanbul, Turki
Bagikan

Hidayatullah.com | DUA tokah besar ini memadukan cerita legendaris dalam sejarah umat Islam. Yang satu adalah sahabat mulia yang gugur dalam perjuangan membebaskan tanah yang pernah disabdakan Nabi akan ditaklukkan pasukan terbaik. Sedangkan yang satunya, adalah pahlawan besar Islam yang bisa mewujudkan cita-cita umat Islam –termasuk Abu Ayyub—setelah berabad-abad lamanya dalam membebaskan Konstantinopel.

Nama lengkap sahabat agung ini adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib Al-Anshary. Beliau adalah sahabat yang menjamu Rasulullah saat hijrah ke Madinah, bahkan menginap di rumahnya. Ikut serta dalam perang legendaris Badar Kubro. Meninggal dunia pada tahun 50 H (ada yang mengatakan sebelum itu bahkan sesudahnya) saat dalam kondisi perang (Ash-Shan’any, Subul as-Salam, I/115).

Sahabat Anshar ini, memiliki cita-cita unik di akhir hayatnya. Dalam kitab “Rijaal Haula ar-Rasuul” (2000: 300, 301) dikisahkan bahwa suatu ketika –pada momentum pembebasan Konstatinopel (49 H/669 M)– ia menyampaikan wasiat atau pesan kepada Yazid bin Mu’awiyah, agar ketika meninggal dimakamkan di wilayah musuh.

Sebenarnya, jika ingin hidup mapan, bisa saja Abu Ayyub tetap menetap di Madinah dengan menjadi manusia yang hidup normal atau bisa juga menjadi pejabat. Namun, cita-citanya melampau semua kenyamanan duniawi itu. Beliau ingin dimakamkan di negeri musuh saat gugur syahid. Menariknya, lokasinya di Konstatinopel sebuah wilayah yang jauh-jauh hari sudah dinubuatkan Nabi akan dibebaskan oleh tentara kuat yang dipimpin oleh pemimpin hebat.

Ia mengatakan kepada Yazid, “Kalau aku meninggal, bawalah jenazahku ini jauh…jauh…ke negeri Romawi, kemudian makamkanlah aku di sana!” Kemudian, dalam peperangan itu beliau gugur syahid. Dan keinginannya untuk dimakamkan di negeri musuh, bisa terwujud karena Yazid bin Mu’awiyah benar-benar merealisasikan keinginannya.

Baca Juga

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

Khalid Muhammah Khalid dalam catatan bukunya ini menukil tulisan menarik dari para sejarawan yang menggambarkan rekaman peristiwa itu, “Orang-orang Romawi menjaga makamnya, menziarahinya, dan meminta hujan melaluinya saat terjadi kemarau atau paceklik…”

Pada tahun 1453, Konstantinopel dibebaskan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih. Seorang pemimpin muda, yang dikelilingi oleh ulama-ulama hebat. Seringkali ia diyakinkan oleh para gurunya bahwa inilah saatnya mewujudkan nubuat Nabi itu. Dan Al-Fatih sangat bersemangat untuk membebaskannya. Tentunya, tak lepas dari bimbingan ulama.

Dr. Ali Muhammad Shallaby menggambarkannya dengan sangat menarik peristiwa pembebasan Konstantinopel. Sebelum perang, para ulama berkeliling memberikan motivasi kepada para prajurit atau mujahidin yang hendak membebaskan Konstantinopel. Mereka diingatkan dngan ayat-ayat jihad, kemuliaan mati syahid.

Selain itu, mereka juga diingatkan dengan pahlawan-pahlawan yang telah gugur dalam misi pembebasan Konstantinopel. Di antara yang disebut menjadi pionir adalah Abu Ayyub Al-Anshary.

Para mujahid dibakar semangatnya dengan kata-kata demikian, “Dulu, saat pertama kali hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad singgah di rumah Abi Ayyub Al-Anshary. Di kemudian hari, Abu Ayyub pergi ke daerah ini dan dikebumikian di sini.” Ucapan ini benar-benar membuat para mujahid berkobar semangatnya dan membangkitkan rasa antusias dalam diri mereka.

Siapa yang tak semangat, ketika diceritakan ada sahabat yang pergi jauh dari kampung halaman menuju negeri yang sangat jauh Konstantinopel untuk berjuang sampai tetes darah penghabisan meraih kesyahidan. Sedangkan para prajurit Muhammad Al-Fatih kala itu secara lokasi lebih dekat, dan selangkah lagi sudah bisa membebaskannya.

Singkat cerita, dalam proses pembebasan Konstantinopel, ulama dan guru Muhammad Al-Fatih yang bernama Aq Syamsuddin bisa menemukan makam sahabat agung ini (Abu Ayyub Al-Anshary) di dekat pagar Konstantinopel.

Dalam buku “Tarikh Ibnu Khaldun” (2012: 157) karya Syakib Arsalan juga dibahas mengenai kuburan Abu Ayyub Al-Anshary. Sejak zaman Ibnu Saad, Ibnu Qutaibah kuburan itu sudah disebutkan sampai nanti akhirnya ditemukan kembali oleh maula Aq Syamsuddin.

Muhammad Farid dalam “Tarikh ad-Daulah al-‘Aaliyah al-Utsmaaniyyah”  (1981: 161, 162) menulis bahwa pada saat momen pengepungan, ditemukanlah makam Abi Ayyub Al-Anshary.  Kemudian, pasca pembebasan Konstatinopel, dibangunkan masjid untuk Abu Ayyub Al-Anshary. Masjid itu pun juga dinamakan dengan nama beliau. Bahkan, di kemudian hari ada sebuah tradisi unik di Daulah Utsmaniyah bahwa setiap sultan ketika mengemban amanah, prosesi pengangkatannya di masjid ini.

Kisah Abu Ayyub Radhiyallahu ‘anhu dan Muhammad Al-Fatih ini memberikan pelajaran luar biasa bagi umat Islam. Ketika kita bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah, maka Dia akan memudahkan jalan kesuksesan itu. Meskipun, terkadang kesuksesan itu baru bisa dinikmati oleh generasi yang jauh di era berikutnya. Tapi yang pasti, dalam perjuangan, gugur syahid sudah suatu capaian yang luar biasa, sebagaimana Abu Ayyub Al-Anshari. Atau hidup mulia dalam menggapai kemenangan sebagai mana Muhammad Al-Fatih. Kalau bisa disingkat, mirip suatu ungkapan: hidup mulia atau mati syahid. Itulah gambaran dari kisah dua pahlawan ini.* Mahmud Budi Setiawan

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abu Ayyub Al-AnshariAl FatihIstanbulKonstantinopelMuhammad al FatihNubuatPenaklukkan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Rohingya terombang-ambing di laut Setidaknya 24 Muslim Rohingya Dikhawatirkan Telah Tenggelam di Malaysia
Tulisan selanjutnya dakwah nabi nuh Urgensi Waktu dalam Dakwah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

PBNU Pastikan Pesantren Tambakberas Siap Tampung Lebih dari 3.000 Peserta Muktamar Ke-35 NU

Berita
6 Agustus 2026 13:00
Buku Pemikiran KH Ma’ruf Amin Diluncurkan, Ajak NU Tetap Berpegang pada Fikrah, Manhaj, dan Harakah
Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday yang Diungkap Media
Libanon, Israel Susun Daftar Negara Mana yang Bisa Kirim Pasukan Pantau Perlucutan Senjata Hizbullah
Serangan Houthi Lukai 11 Orang, Koalisi Saudi: Sengaja Targetkan Sipil

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ Sebabkan Ribuan Muslimah Gaza Keguguran
  • Sita Kontainer Tujuan ‘Israel’, Malaysia Tegaskan Larangan Berhubungan dengan Zionis
  • Inilah Lima Poin Utama Pakta Pertahanan Mekkah antara Turki-Arab Saudi dan Pakistan
  • Liga Arab Sambut Pakta Pertahanan Makkah untuk Dunia Islam
  • Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Makkah: “Serang Satu, Hadapi Bertiga” 
  • Peringatan Arbain, Pro-Rezim Iran Bentrok dengan Pendukung Sadiq al-Shirazi
  • Pasukan Keamanan Nigeria Selamatkan 308 Korban Penculikan dari Taman Nasional Danau Kainji
  • Seminar Hidayatullah Bahas Isu LGSP dari Perspektif Psikologi, Keluarga dan Hukum
  • Militer Uganda Beri Penghormatan Abang Benyamin Netanyahu dengan Patung Memorial di Entebbe
  • MUI Tegaskan Pria Berbusana Wanita dalam Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?