Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Roem: Ujung Tombak Diplomasi Perjuangan RI (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 Januari 2021 20:20 8:20 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Januari 2021 12:38
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | Dikenal sebagai diplomat ulung masa prakemerdekaan hingga Indonesia merdeka. Namanya selalu menyertai dalam sidang-sidang diplomasi dengan pemerintah penjajah. Ia begitu getol dalam membela bangsa dan negaranya. Ternyata Mohammad Roem adalah seorang aktifis pergerakan sejak menjadi pemuda pelajar.

Mohammad Roem dilahirkan di Temanggung 16 Mei 1908, wafat di Jakarta 24 September 1983) adalah anak keenam dari pasangan Dulkarnen Djojosasmito dan Siti Tarbijah. Kepala Desa Klewongan, Parakan,Temanggung ini sangat khas dalam memberi nama kepada anak-anaknya.

Dikutip dari buku Mohamad Roem 70 Tahun Pejuang Perunding, disebutkan,  orangtuanya memberi nama anak-anaknya si sulung Muti’ah. Anak kedua dan berikutnya diberi nama  Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Mohamad Roem, dan Siti Chatidjah.

*Pendidikan dan aktifitas Roem*

Urutan nama anak-anaknya itu menunjukkan kepedulian orangtua Roem –Dulkarnaen Djojosasmito, dan Siti Tarbijah– kepada agamanya. Meskipun, pengetahuannya mengenai Islam tidak terlalu tinggi, tetapi apa yang difahami diterapkannya di dalam kehidupan.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Untuk anak-anaknya, Dulkarnaen mendatangkan seorang guru ngaji untuk mengajari anak-anaknya pengetahuan dan pemahaman mengenai Islam. Ayahnya sangat menekankan pendidikan agamanya.

Baca: Mohammad Roem: Penulis dan Diplomat yang Hebat

Roem menempuh pendidikannya di  Sekolah Rakyat (Volksschool), HIS (Hollandsch Inlandsche School), pada 1924 masuk STOVIA (School ter Opleiding voor Indiesche Arts –Sekolah untuk mendidik dokter pribumi) di Jakarta. Pada 1927, setelah selesai pendidikan di bagian persiapan STOVIA; Roem melanjutkan ke AMS (Algemene Middelbare Scool). Lulus AMS pada 1930, Roem masuk Sekolah Tinggi Kedokteran GHS (Geneeskundige Hoge School) di Jakarta. Karena dua kali ujian, gagal, Roem berhenti belajar di GHS, dan beristirahat selama dua tahun. Pada 1932, Roem masuk  RHS (Recht Hooge School), dan meraih gelar Mester in the Rechten.

Dalam catatan Majalah Kiblat, No. 14 Tahun XXX, 5-20 Desember 1982,  halaman 44,  Roem disaat belajar atau sekolah masih bisa memanfaatkan waktunya untuk bergiat dan beraktifitas di dalam Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Roem juga aktif dalam Jong Islamieten Bond (JIB) sekaligus dalam organisasi kepanduannya, Natipij (Nationale Indonesische Padvinderij).

Menurut mantan Menteri Muda Penerangan A.R. Baswedan, Natipij merupakan organisasi yang pertama sekali terang-terangan menyebut dirinya sebagai organisasi (Kepanduan) Nasional Indonesia. “Dua tahun sebelum Sumpah Pemuda, Jong Islamieten Bond sudah mendirikan Nationale Indonesische Padvinderij,” kata kakek Gubernur DKI Jakarta, Anies R Baswedan.

Baca: Saat Roem jadi Mendagri, tak Satupun orang Masyumi yang jadi Gubernur

Aktif di JIB sekaligus di dalam PSII, Roem akrab dengan senior pergerakan Islam seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Abdul Muthalib Sangaji, dan H. Agus Salim. Seperti mendapat mentor yang pas dalam pergerakan kebangsaan dan Negara sekaligus agama.

Sebagaimana  H.M. Soedjono Hardjosoediro, S.H., “Haji Agus Salim dan Partai Penjadar”, dalam Panitia Buku Peringatan Seratus Tahun Haji Agus Salim, halaman 161-168,  dijelaskan bahwa perbedaan sikap politik antara cooperative dan noncooperatif, Salim keluar dari PSII dan mendirikan partai politik Penjadar. Roem saat itu masih mahasiswa RHS dan baru berusia 28 tahun ditunjuk menjadi Ketua Centraal Comite Executif  (Lajnah Tanfidziyah) Partai Penjadar. Adapun Ketua Dewan Partai Penyadar ialah Salim, Sangaji, dan lain-lain. Roem terus bersama Salim di Penjadar sampai datang zaman baru, zaman Indonesia merdeka.

Pemikiran Agus Salim dan H.O.S. Tjokroaminoto selama dalam pergulatan aktifitas sebagai pelajar sekaligus aktifis telah membentuk sikap berpikir Roem, utamanya dalam membentuk pola pikir hukum dan diplomasi.*/Akbar Muzakki (bersambung)

Bahan-bahan dikutip dari buku Mohamad Roem 70 Tahun Pejuang Perunding, Jakarta, Bulan Bintang, 1978, Diplomasi: Ujung Tombak Perjuangan RI

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Diplomasi IndonesiaHaji Agus SalimJong Islamieten BondmasyumiMohammad Roempejuang kemerdekaan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kasus Inses Kembali Mencuat, Presiden Prancis Berjanji Ambil Tindakan
Tulisan selanjutnya PT Pindad Akan Luncurkan Kendaraan Taktis Maung Versi Sipil

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah

Berita
20 Juli 2026 12:51
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Terbaru

  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?