Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
None

Dua Bendera

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Februari 2014 09:21 9:21 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Februari 2014 09:21
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

oleh: Salim A. Fillah 

“Syukurilah kemampuan kalian membalas kejahatan”, demikian kata Sayyidina ‘Ali, “Dengan memaafkan.”

SUATU hari 2 bendera berkibar di gunung Abu Qubais. Di atas untanya Sang Nabi duduk dengan kepala tertunduk, ”Fasabbih bihamdi Rabbika wastaghfirh..” Matanya menitikkan bening yang syahdu. Allah memenangkannya hari ini. Dan kedua bendera itu berkibar.

Di salah satu sayap ada Sa’d ibn ’Ubadah, membusung dada penuh kebanggaan. Tatapan matanya tajam berkilat. Hari ini, dengan keislamannya, ia merasa mulia di hadapan Makkah yang tiba-tiba terasa kecil dan takluk pada wadya Madinah yang dipimpinnya. ”Hari ini adalah hari menangnya kebenaran dan hancurnya kebathilan”, katanya. Bendera yang dihela tangan kanannya mengembang, tegak, dan gagah. Bendera yang berdarah-darah melindungi risalah, membela persaudaraan, dan kini mengantarnya pada sebuah kemenangan, bendera Anshar.

Pada sayap yang lain, Az Zubair ibn Al ’Awwam tegak khidmat di atas kudanya. Berjuta rasa berkecamuk di dadanya. Pada Makkah, kota dengan selaksa kenangan baginya. Bayangan kanak-kanaknya yang penuh tawa berselebat dengan bayangan darah dan air mata saat ia dan sejawatnya menegakkan Islam pertama kali, di sana, di titik itu yang kini sedang ditatapnya dengan berkaca-kaca, di dekat Ka’bah yang mulia. Bendera yang dipegangnya meliuk-liuk rindu, bergetar oleh angin nostalgi yang tak terkatakan. Bendera itu, bendera yang menyertai Nabi sejak mula dia didustakan kaumnya, bendera yang terusir dari tanah yang dicintainya, bendera Muhajirin.

Baca Juga

Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
Cegah Anak Obesitas, Inggris Larang Makanan Manis dan Gorengan di Sekolah
Iran Hujani Israel dengan Rudal Usai Trump Klaim Kemampuannya Melemah
200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang
Jerman Penjarakan Seorang Pria Libanon Anggota Hizbullah

Ketika akhirnya Makkah jatuh, kedua bendera itu menyatu gagah di depan Ka’bah. Sang Rasul berdiri di hadapan warga Quraisy yang harap-harap cemas. Quraisy kalah. Mereka takluk. Getir sekali. Mereka meringkuk dalam tekanan perasaan yang amat pahit. “Wahai segenap orang Quraisy”, ucap Sang Nabi dalam wajah yang amat teduh, “Apa yang akan kulakukan pada kalian menurut sangkaan hati kalian?”

Sejenak bayangan penindasan, penyiksaan, kekejaman, pembunuhan, boikot, pengusiran, caci-maki, penghinaan dan segala luka yang mereka timpakan kepada Muhammad beserta pengikutnya bertahun-tahun lalu berselebat di benak tiap orang Quraisy. Ya, apa yang akan dilakukan Muhammad? Kini dia menang dan mereka semua ada dalam genggamannya.

Hari ini, seperti kata Sa’d ibn ‘Ubadah, bisa menjadi hari dihalalkannya yang haram dan bebasnya pembalasan dendam.

“Tindakan yang baik dalam prasangka baik”, Suhail ibn ‘Amr sang duta Hudaibiyah memberanikan diri menjawab Sang Nabi, “Sebab engkau adalah saudara kami yang mulia, putra saudara kami yang mulia.”

Sang Nabi tersenyum. “Pergilah”, ujarnya syahdu, “Kalian semua bebas.”

“Allah memuliakan para penyeru kebenaran”, demikian Sayyid Quthb menulis dalam Fi Zhilaalil Quran saat menafsir Surat Fushshilat ayat 33, “Dengan menyebut kata-kata mereka sebagai sebaik-baik ucapan. Tentu sebab kata-kata mereka bukanlah isapan jempol belaka, atau basa-basi untuk mempercantik bibir. Sungguh setiap kata yang tertebar dari lisan-lisan suci itu diiringi oleh ‘amal shalih dan persaksian keberserahan diri mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Setelah itu, mungkin sang pemeluk cahaya menghadapi keberpalingan, perilaku buruk, dan keingkaran sebagai imbalan atas ucapannya. Tetapi dia lalu membalasnya dengan kebaikan. Maka jadilah dia berada di tempat yang tinggi.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat: 34)

Memaafkan musuh yang telah bersimpuh, adalah keajaiban.*

twitter @salimafillah, artikel diambil dari web salimafillah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bendera
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mematikan! China Umumkan Virus Flu Burung Strain Baru
Tulisan selanjutnya Menyoal Tulisan di Iklan KB!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah

Berita
16 Oktober 2026 14:56
Pilot Berkewarganegaraan Indonesia, Pesawat Ethiopian Airlines Dilarang Mendarat di ‘Israel’
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad
Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan

Terbaru

  • Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
  • Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaNone

Kurma Israel Beredar di Eropa dengan Label Palsu

20 Februari 2026 07:00
BeritaNone

Video: Pria Disabilitas di Nepal Viral Menjaga Masjid dari Serangan Kelompok Radikal

11 Februari 2026 05:26
None

“Kemunafikan Barat Terbongkar”: Celah Hukum Pernikahan Anak di AS Disorot Aktivis HAM

2 Februari 2026 19:30
None

Tolak Gabung ‘Dewan Perdamaian’, Jerman: Penyimpangan Sistem Internasional

23 Januari 2026 09:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?