TAHUN 2018 bukan hanya pergantian angka di negeriku ini, tetapi sudah memasuki musim pemilihan, sudah seperti musim duren harumnya begitu semerbak menyebarkan aroma-aroma persaingan, perselisihan, tikung sana tikung sini, dan tidak ketinggalan pencitraan-pencitraan.
Menjadi seorang pemimpim sangat penting memiliki VISI dan MISI yang jelas untuk membangun sebuah Negara, tetapi menurut saya jika memang seseorang mampu menjadi seorang pemimpin tidak perlu adanya pencitraan karena seorang Pemimpin itu sudah punya citranya sendiri dan memang sudah terpancar darinya dan umat mengakuinya sendiri.
Tetapi dalam sistem demokrasi sangat berbeda belusukan jadi tren tersendiri, sendal jepitpun tidak kalah ikut andil, ini diakibatkan sistem yang dimana dikatakan bahwa kedaulatan di tangan rakyat akhirnya segala cara ditempuh demi sebuah kursi singgasana.
Sedangkan Kedaulatan dalam Islam berada ditangan syara (as-siyadah li as-syar’i) bahwa yang menjadi pengendali dan penguasa adalah hukum syara bukan akal atau manusia dan semua permasalahan akan dikembalikan kepada hukum syara.
Dan Politik dalam Islam itu adalah Ri’ayah Suunil Ummah “mengurusi urusan ummah” bukan yang penting berkuasa dan memenuhi urusan tertentu. Dalam pentas sejarah umat manusia, nama Umar tidak dapat dipisahkan dengan kejayaan Islam Umar bin khattab adalah seorang yang berkharisma tinggi, dan mempunyai sifat yang adil amat disegani terutama terhadap orang yang mengenalnya. Salah satu bukti atas besarnya kharisma dan keadilan Umar dihadapan pengikutnya adalah kebijaksanaannya ketika memecat Khalid bin Walid yang digelari Rasulullah saw dengan gelar pedang Allah yang amat dikagumi kawan maupun lawan. Pemecatan itu sendiri dilakukan sewaktu umat Islam sangat membutuhkan seorang panglima perang sehebat Khalid bin Walid. Tunduknya Khalid kepada kebijakan Umar itu menunjukkan betapa hebatnya kharisma Umar bin Khattab di mata kaum muslimin.
Umar yang namanya dalam tradisi Islam adalah yang terbesar pada masa awal Islam setelah Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassallam telah menjadi idola para penulis Islam karena keshalehan, keadilan dan kesederhanaannya.
Tidak ketinggalan ‘Umar bin khattab juga memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
Beliau merupakan sosok yang penuh dengan kesederhanaan bukan tiba-tiba sederhana.
Oleh karena itu kita sebagai seorang Muslim jangan mudah terkesima dengan kesederhanaan yang tiba-tiba dan pilihlah Pemimpin yang mengurusi urusan ummat sesuai dengan hukum syara. Wallah a’lam bi ash-shawab.*
Wa’alaikum ssaalam
Indi Lestari