Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Erdogan, Setelah Donald Trump Menarik Pasukan di Suriah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 9 Januari 2019 12:48 12:48 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 9 Januari 2019 12:48
Bagikan
Tentara Turki di Suriah.
Bagikan

oleh: Recep Tayyip Erdogan

 

KEPUTUSAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menarik mundur pasukannya dari Suriah sudah tepat. Namun, langkah itu mesti dilakukan dengan cermat dan dibutuhkan koordinasi dengan pihak-pihak yang tepat guna melindungi kepentingan AS, komunitas internasional, dan rakyat Suriah.

Turki, yang merupakan kekuatan militer terbesar kedua di NATO adalah satu-satunya negara yang mampu dan berkomitmen melakukan tugas itu.

Pada 2016, Turki menjadi negara pertama yang menerjunkan pasukan untuk memerangi ISIS di Suriah. Serbuan militer kami berhasil memutus akses kelompok tersebut ke perbatasan negara-negara NATO dan mencegah terjadinya serangan teror di Turki dan Eropa.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Berbeda halnya dengan pasukan koalisi yang menjalankan operasi militer di Raqqa dan Mosul, di mana serangan udara sangat mendominasi, pasukan Turki dan pejuang Free Syrian Army bergerak dari pintu ke pintu untuk mengusir pemberontak di Al-Bab—wilayah yang menjadi basis pertahanan ISIS.

Baca: Gadis ‘Kaki Kaleng’ Suriah Akhirnya Hidup seperti Anak Lain

Cara yang kami lakukan ini tetap mempertahankan infrastruktur utama di kota tetap utuh dan membuat upaya pemulihan kehidupan warga berangsur normal dalam hitungan hari.

Hari ini, anak-anak kembali ke sekolah, rumah-rumah sakit yang dibiayai Pemerintah Turki beroperasi mengobati para korban luka, dan kami juga membuat proyek-proyek bisnis yang memacu ekonomi warga sehingga terbuka lapangan pekerjaan. Kondisi stabil seperti ini merupakan satu-satunya cara untuk mengatasi masalah terorisme.

Turki sangat berkomitmen untuk memberantas ISIS dan kelompok teror lainnya di Suriah. Sebab, kekerasan ekstrem merupakan masalah yang kerap dihadapi warga Turki. Pada 2003, di waktu saya masih menjabat sebagai Perdana Menteri, serangan (ekstrem) terjadi di Turki yang kemudian diklaim oleh kelompok al-Qaeda.

Dalam beberapa waktu terakhir, ISIS menjadikan warga negara kami sebagai target sasaran. Begitu pula kehidupan kami yang terkenal inklusif, yang khas dengan cara pandang moderat yang merupakan representasi dari peradaban kami.

Beberapa tahun lalu, mereka memanggil saya dengan sebutan “Setan Pengkhianat”. Kami melihat bagaimana kejamnya ISIS ketika ribuan kaum Kristen dan Yazidi melarikan dari mencari perlindungan ke Turki dikarenakan serangan terhadap mereka di Suriah dan Iraq.

Saya perlu tekankan sekali lagi, tidak akan ada kemenangan bagi teroris. Turki akan melakukan apa yang perlu dilakukan untuk memastikan keamanan dalam negeri dan komunitas internasional.

Baca: Turki Tambah Pasukan, Mengirim Tank ke Perbatasan Suriah

Secara militer, ISIS telah dikalahkan di Suriah. Namun kami memiliki kekhawatiran akan adanya pihak asing yang berupaya memanfaatkan sisa-sisa kekuatan ISIS sebagai alasan untuk bermain-main di Suriah.

Kemenangan terhadap kelompok teror barulah langkah awal. Mengambil pelajaran dari Iraq, di mana kelompok teroris ini lahir, adalah bahwa deklarasi kemenangan yang terburu-buru dan langkah sembrono yang cenderung mereka lakukan justru membuat lebih banyak masalah ketimbang yang penyelesaiannya.

Komunitas internasional tidak boleh melakukan kesalahan yang sama hari ini.

Turki telah merancang strategi komprehensif guna menghilangkan akar masalah penyebab radikalisasi. Kami ingin memastikan agar rakyat merasakan kehadiran pemerintah, kelompok teror tidak menjadikan kesedihan warga sebagai target, lalu rakyat pada umumnya bisa memilki masa depan yang stabil.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menciptakan kekuatan stabilitas yang menonjolkan para pejuang dari semua bagian masyarakat Suriah. Hanya badan yang beragam yang dapat melayani semua warga Suriah dan membawa hukum dan ketertiban ke berbagai bagian negara. Dalam hal ini, saya ingin menunjukkan bahwa kita tidak memiliki argumen apapun dengan Kurdi Suriah.

Dalam kondisi masa perang, banyak anak muda Suriah yang tidak memiliki pilihan lain selain bergabung dengan P.Y.D./Y.P.G., Cabang Suriah dari P.K.K., yang Turki dan Amerika Serikat anggap sebagai organisasi teroris. Menurut Human Rights Watch, Y.P.G. militan telah melanggar hukum internasional dengan merekrut anak-anak.

Baca: Turki Tak Akan Tinggalkan Suriah sampai Ada Pemilu 

Usai penarikan Amerika Serikat dari Suriah, kami akan menyelesaikan proses pemeriksaan intensif untuk menyatukan kembali tentara anak-anak dengan keluarga mereka dan mencakup semua pejuang yang tidak memiliki hubungan dengan organisasi teroris dalam pasukan stabilisasi yang baru.

Memastikan perwakilan politik yang memadai untuk semua komunitas adalah prioritas lain. Di bawah pengawasan Turki, wilayah Suriah yang berada di bawah kendali Y.P.G. atau DAESH (ISIS) akan diperintah oleh dewan yang dipilih khalayak. Individu yang tidak memiliki hubungan dengan kelompok teroris akan memenuhi syarat untuk mewakili komunitas mereka di pemerintah daerah.

Dewan lokal di sebagian besar wilayah Kurdi di Suriah utara sebagian besar akan terdiri dari perwakilan komunitas Kurdi sambil memastikan bahwa semua kelompok lain menikmati perwakilan politik yang adil. Pejabat Turki dengan pengalaman yang relevan akan memberi saran kepada mereka tentang urusan kota, pendidikan, perawatan kesehatan dan layanan darurat.

Turki bermaksud untuk bekerja sama dan mengoordinasikan tindakan kita dengan teman dan sekutu kita. Kami telah terlibat erat dalam proses Jenewa dan Astana, dan merupakan satu-satunya pemangku kepentingan yang dapat bekerja secara bersamaan dengan Amerika Serikat dan Rusia. Kami akan membangun kemitraan tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan di Suriah.

Sudah waktunya bagi semua pemangku kepentingan untuk bergabung dengan pasukan untuk mengakhiri teror yang dilepaskan oleh DAESH, musuh Islam dan Muslim di seluruh dunia, dan untuk melestarikan integritas wilayah Suriah. Turki secara sukarela memikul beban berat ini pada masa kritis dalam sejarah. Kami mengandalkan komunitas internasional untuk mendukung kami.*

Penulis Presiden Turki. Artikel dimuat di laman nytimes.com, diterjemahkan oleh Syahrain dan Sirajuddin Muslim

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika SerikatDaeshISISradikalisasisuriahterorTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bank Dunia: 2019 Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat
Tulisan selanjutnya Paket Mencurigakan Terlihat di Kedubes dan Konsulat Asing di Australia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?