Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Sumbangan Utsmaniyah dalam Ilmu Seni Kaligrafi Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Oktober 2018 09:30 9:30 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Oktober 2018 09:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Salah satu era keemasan Kesultanan Utsmaniyah (Kerajaan Ottoman) berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satunya adalah  berkembangnya salah cabang seni kaligrafi Islam atau lebih tepat disebut seni khat Arab, sebuah seni yang sangat dicintai dan dihormati oleh Turki Utsmaniyah, tumbuh subur terutama di Kota Istanbul.

Di antara beragam bentuk seni Islam, penulisan khat Al-Quran adalah salah satu seni  yang sangat dihormati. Ini kerena seni khat menjadi sarana penting melestarikan Al-Quran.

Sejarah mencatat, di masa Kesultanan Turki Utsmani, seni khat mendapat tempat yang terhormat.  Tak hanya para seniman dan pelajar yang menggeluti seni menulis huruf Arab itu, tetapi beberapa sultan pun dikenal sebagai khatath andal.

Semua bermula di abad ke 10, ketika orang orang Turki memutuskan migrasi dan meninggalkan tanah kelahirannya.Mereka menuju wilayah Turkestan, Afghanistan, dan Iran.  Sebelumnya, nilai-nilai Islam telah menjadi pegangan bagi sebagian besar warga di tiga wilayah itu.

Baca: Indahnya Kaligrafi Gaya Dekoratif Mahroji 

Kontak ini kemudian membuat orang-orang Turki secara massal berpindah agama (Islam) dan memutuskan menjadi Muslim. Setelah memeluk Islam, kecintaan mereka terhadap bahasa Arab pun tumbuh.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Secara perlahan, mereka meninggalkan abjad Uighur lama yang sebelumnya digunakan. Bahasa Arab pun mereka gunakan hingga seribu tahun sampai muncul abjad baru Turki pada 1928.

Meski telah memiliki abjad sendiri, kecintaan orang-orang Turki terhadap bahasa dan tulisan Arab tak pernah pudar. Kecintaah inilah yang menumbuhsuburkan perkembangan seni kaligrafi Islam atau khat.

Sebuah naskah Al-Quran dari Afrika Utara . 750-800 M, kombinasi unik dari beberapa aspek gaya kaligrafi Kufi awal

Perkembangan seni tersebut kian mencapai kegemilangannya saat lahir sebuah pemerintahan Islam, Turki Utsmani. Seni khat tak hanya ada di dalam hati warga, tapi pemerintah juga mendorong perkembangan seni kaligrafi tersebut.

Tak heran jika Kota Istanbul, yang merupakan pusat administrasi pemerintahan Turki Usmani, menjadi pusat perkembangan seni khat. Di kota itu, karya-karya kaligrafi yang paling indah dan sangat berkualitas bermunculan.

Meski seni kaligrafi bukanlah asli Turki, bangsa Turki mampu mengadopsi seni kaligrafi dan mengembangkannya menjadi seni khat secara baik. Perkembangan ini diiringi dengan semangat keagamaan dan kesenian yang luar biasa. Termasuk, dukungan dari penguasa.

Saat berkuasa, Sultan Mehmed Sang Penakluk memberikan perhatian besar pada seni murni secara umum dan seni khat pada khususnya. Ini terlihat dengan banyaknya koleksi tulisan khat yang ditulis oleh penulis khat jenius, Syeikh Hamdullah (1429-1520).

Baca: 3 Putra Indonesia Raih Juara dalam Kompetisi Kaligrafi Internasional .

Berawal dari masa kejayaan Syeikh Hamdullah, seni khat era Turki Utsmani terus bertahan dalam rentang waktu yang panjang, yakni lima abad. Seni khat Turki Utsmani mencapai titik keemasannya pada abad ke-19 dan 20.

Meski Syeikh Hamdullah dipuja sebagai bapak kaligrafi Turki, namun ranah khat di negeri itu tak melulu tampil dengan khat Hamdullah. Dalam perkembangannya, muncul khat–khat lain.

Di antaranya ilmu yang bekembang adalah; khat jelî , syikastah, syikastah-amiz, diwani, dan diwani jelî . Syikastah (bentuk patah) adalah biasanya digunakan untuk keperluan praktis.

Sementara khat diwani dikembangkan oleh Ibrahim Munif pada akhir abad ke-15. Khat ini didominasi oleh garis-garis melengkung dan bersusun. Belakangan, khat diwani dikembangkan lagi dan lahirlah khat diwani baru.

Khat diwani baru itu disebut juga dengan diwani jelî  atau humayuni (kerajaan). Khat ini dikembangkan sepenuhnya oleh Hafidz Usman dan murid-muridnya.

Ketika Sultan Bayezid II wafat, kejayaan Syeikh Hamdullah pun meredup. Khatath (penulis khat)yang sepanjang hayatnya telah menulis 47 salinan Al-Quran itu pun memutuskan angkat kaki dari Istanbul dan pulang ke kota asalnya di Anatolia Utara, Turki bagian barat.

Seni Khat ini juga banyak digunakan untuk panel dekoratif prasasti pada bangunan keagamaan, serta arsitektur bangunan-bangunan publik. Khat jelî tersebut juga diterapkan pada buku-buku, seperti penulisan Mushaf Al-Quran.

Baca: IRCICA Hidupkan Kembali Peradaban dan Seni Kaligfari Islam 

Di kemudian hari, khat itu dikombinasikan dengan bentuk-bentuk geometri dan bentuk alam. Secara umum, perkembangan kaligrafi sebagai seni dekoratif disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain, Al-Quran yang memberikan inspirasi.Biasanya, para pakar khat menuliskan ayat-ayat Al-Quran sebagai hiasan sekaligus simbol keagamaan di masjid-masjid. Tujuannya dari penulisan ini sendiri bukan hanya sekadar untuk menciptakan dekorasi yang indah.

Selain kekhasan khat yang berkembang di wilayah Turki Utsmani, ada bebera model khat yang secara umum berkembang di dunia Islam; khat kufi, tsuluts (tsulutsi) dan naskhi. Khat kufi berasal dari Kufah, merupakan sebuah kota yang dikenal dengan banyaknya penulis transkripsi Al-Quran.

Khat Tsuluts pertama kali dibuat pada abad ke-7 pada zaman Khalifah Ummayah akan tetapi baru dikembangkan pada akhir Abad ke-9.

Khat kufi biasanya memiliki bentuk huruf berbentuk panjang sehingga cocok untuk hiasan arsitektur. Sedangkan naskhi, merupakan khat kaligrafi yang lebih tua dibandingkan kufi. Khat kaligrafi ini lebih banyak dikembangkan di dunia Islam.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:diwanijelîkaligrafikhatOttomanSeni Kaligrafi Islamsyikastahsyikastah-amizUtsmaniUtsmaniya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sekjen MUI: Bedakan Antara Bendera Tauhid dan Bendera HTI
Tulisan selanjutnya Persis: Pembakaran “Bendera Tauhid” Tak Bisa Diterima

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?