HANAFI Renhoran terdiam kaku. Di depan lehernya terhunus sebilah pedang besar. Perlahan senjata mengkilap itu semakin dekat. Pria berpeci, berjanggut, dan berbaju serba putih ini pun semakin menajamkan matanya. Dia sama sekali tak takut. Meski tak mampu menahan tangis.
Pria lansia itu bukan sedang terancam. Dia tengah mencermati sebuah pedang yang terhunus di samping sarungnya. Pedang itu milik Utsman bin Affan yang diletakkan dalam sebuah bilik kaca. Hanafi tertunduk mendekat untuk melihat lebih jelas tulisan kaligrafi di mata pedang itu.
Dia adalah satu dari puluhan ribu pengunjung Pameran Pedang Nabi di Ruang Anggrek Lantai 2 Istora Senayan, Jakarta. Di sini di pamerkan 35 koleksi pedang Nabi dan para Sahabat serta benda-benda bersejarah lainnya. Hanafi mengaku sangat terkesan dengan berbagai koleksi tersebut.
“Saya sendiri aja melihat begini aja sampai air mata mengalir,” aku pria 67 tahun ini saat ditemui hidayatullah.com di ruang pameran, Jumat, 5 Jumadil Awal 1435 H (7/3/2014).
Selain pedang-pedang, dipamerkan pula sandal dan tongkat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sandal dan pedang Nabi itulah yang membuat Hanafi tak mampu membendung air matanya. Baginya, benda-benda itu memberi kesan mendalam akan perjuangan Rasulullah 14 abad silam.
“Saya membayangkan fisik beliau yang begitu tangguh tanpa menyerah atau putus asa berjuang. Dengan sandalnya itu seakan-akan mendekatkan diri saya dengan diri Beliau. Dan saya rindu kepadanya,” ungkap pengurus Pondok Pesantren Terpadu Nurul Jadid, Tetoat, Maluku Tenggara ini.
Selain Hanafi, banyak para pengunjung lainnya yang begitu terkesan dengan benda-benda dalam pameran tersebut. Padahal, ke-35 koleksi itu hanyalah replika dari benda aslinya yang saat ini berada di Museum Topkapi, Turki.
Mencari Tiruan Saja Susah
Meski hanya replika, tentu tak mudah mendapatkannya. Sebab harus melibatkan peran antar pemerintah Indonesia-Turki. Koordinator Pameran Pedang Nabi, Didit, mengakui, butuh waktu bertahun-tahun bagi timnya untuk memiliki koleksi tersebut.
“Kita ambil dari berbagai macam informasi yang ada di sekitar, di internet apa segala macam, kita kumpulin, terus kita hunting (berburu. Red) benda-benda ini. (Butuh waktu) sekitar 5 sampai 6 tahun,” ungkap Didit saat ditemui hidayatullah.com di lokasi pameran.
Di bawah Pyramid Communications, tim Pameran Pedang Nabi memburu koleksi-koleksi itu ke berbagai kolektor di berbagai negara, termasuk dalam negeri. Namun kemudian, berbagai koleksi yang telah ditemui itu dianggap kurang pas dengan yang mereka inginkan. Akhirnya, tim memilih untuk membuat sendiri replikanya.
“Semua benda tersebut dibuat di Indonesia dengan seizin Museum Topkapi melalui Kedutaan Besar (Kedubes) Turki. Dan izin diberikan oleh HE Mr Aidyn Evirgen selaku Dubes Turki yang lama,” terang Pemilik Pyramid Communications, Qalam Gladi Mulianda kepada hidayatullah.com secara terpisah, Ahad (09/03/2014).
Pembuatan replika-replika tersebut pun, jelas Qalam, memerlukan waktu satu tahun sejak 2009. Pembuatan ini dengan mencontoh bentuk aslinya yang ada di Topkapi.
“Awalnya yang membuat kami tertarik adalah mengapa seluruh benda peninggalan Rasul ada di Turki? Seharusnya di Makkah, Madinah. Sejarah itu yang awalnya kami cari,” ungkap Qalam.
Dari situ, Qalam dan timnya tergerak untuk mensyiarkan Islam di Indonesia melalui pengoleksian dan pameran benda-benda bersejarah Nabi dan para Sahabat Beliau. Qalam mengaku, dari beberapa kali pameran, hampir 90 persen pengunjung baru mengetahui sejarah dan peninggalan Rasul.
“Terutama yang berkaitan dengan benda pameran tersebut,” imbuh Sarjana Ekonomi yang berdomisili di Beji, Depok, Jawa Barat ini.
Sebenarnya, tak semua benda yang dipamerkan replika. Ada satu koleksi yang benar-benar asli, yaitu batu dari Gunung Uhud. “Batu tersebut memang saya ambil di Jabal (Gunung) Uhud, di depan makam Hamzah (paman Rasulullah. Red). Sebagai catatan sejarah perjuangan Hamzah beserta syuhada lainnya,” ungkapnya.
Karena Generasi Lebih Kenal Peterpan
Pameran Pedang Nabi digelar selama IBF berlangsung, 28 Februari – 9 Maret 2014. Setiap pengunjung dikenakan biaya mulai Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu, tergantung hari kunjungan dan status pengunjung. Dari hasil pameran ini, Qalam mengaku bisa berbuat lebih banyak untuk umat.
“Seperti membantu pembangunan masjid di Tamini Square (Jakarta. Red) seluas 500 meter, menyantuni anak yatim dan dhuafa. Untuk tiket kami buat karena kami tidak ada donatur dan sponsor. Sedangkan biaya operasional pameran besar,” jelasnya.
Hingga kini, menurut Didit, pameran tersebut sudah berkali-kali mereka gelar di berbagai kota. Seperti Cirebon, Pekanbaru, Medan, Jogjakarta, dan Surabaya. Keinginan mereka menghadirkan pameran ini juga timbul karena kerisauan akan kondisi generasi muda Islam saat ini.
“Saya pribadi juga Qalam itu melihat ada timbul kerisauan. Karena kita lihat anak-anak sekarang ini lebih condong kepada tokoh-tokoh kartun gitu, sama artis-artis ya. Kalau ditanya Peterpan, pasti tahu personelnya,” dalihnya.
“Tapi kalau ditanya Sahabat Nabi, mereka nggak tahu gitu loh. Itulah dari awal pemikiran seperti itu, maka timbul. Kami di (Tim Pameran) Pedang Nabi ini timbul bagaimana kita mengangkat lagi sejarah daripada kenabian juga para Sahabat,” lanjut Didit, yang mengaku awalnya kerap mengadakan acara-acara seputar Natal dan di luar keislaman lainnya.
Meski banyak diminati umat Islam, Qalam mengakui pameran ini juga masih memiliki kekurangan. Ke depan, dia akan menambah lebih banyak koleksinya. Seperti baju Ali bin Abi Thalib Radiyallahu’anhu, Fatimah, dan sebagainya yang erat kaitannya dengan sejarah Rasulullah.
“Semoga yang kami lakukan bermanfaat, dan mohon doanya kami akan dakwahkan pameran ini sampai ke pelosok Indonesia,” harap Qalam berjanji.
Nadia, nama samaran bagi pengunjung lainnya, berharap Pameran Pedang Nabi bisa lebih baik lagi dari pameran sejenis lainnya. Sebab siswi SMP ini mengaku sudah pernah menjumpai pameran serupa di Cibinong, Jawa Barat.
Sedangkan Hanif menyarankan, agar pameran ini ke depannya terus diadakan, dengan format dan suasana yang lebih menggiring pengunjung kepada sejarah Rasulullah. Lebih dari sekedar dengan memutar shalawat Nabi di ruang pameran.
Agar, kata dia, “Begitu orang masuk (pameran) dari pertama sampai akhir, itu dengan hal-hal yang menggugah,” harapnya.*