Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 16 April 2023 13:18 1:18 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 16 April 2023 13:17
Bagikan
Zainuddin Musaddad (kiri) bersama istri dan putra sulungnya, Baharun Musaddad.
Bagikan

Sambungan dari artikel pertama

Hidayatullah.com | APA saran ustadz bagi seorang santri, memperbanyak khatam atau mengejar setoran hafalan di bulan Ramadhan?

Ini kembali kepada pemangku kebijakan yang membuat aturan di tempat tersebut. Intinya selama memperbanyak interaksi dengan al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka ada jaminan pahala berkali lipat insyaAllah.

Bagaimana mempertahankan semangat istiqamah jadi penghafal al-Qur’an?

Saya sendiri belum merasa bisa istiqamah. Memang berat. Cuma belajar dari pengalaman saja. Seperti seorang penghafal mau murajaah 3 juz per hari. Hari ini memang mampu tapi belum tentu besoknya bisa. Butuh perjuangan besar dan kesungguhan nyata. Konsisten menghafal ini berat. Dianjurkan melawan malas (futur) minimal pada satu tahun pertama. Agar terjadi pembiasaan yang melekat.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah
Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

Benarkah orang yang suka main game tidak bisa jadi penghafal al-Qur’an?

MasyaAllah murajaah hafalan sambil main game, tidak bisa langsung dikatakan salah. Beberapa anak bisa menghafal karena diperlihatkan video yang latar suaranya hafalan al-Qur’an. Sambil menonton mereka juga mendengar tilawah al-Qur’an.

Cuma ditakutkan kalau jadi kebiasaan sampai besar. Justru yang melekat dan dominan adalah permainan game nanti. Intinya, para orangtua atau guru harus selalu memberi motivasi kepada anak jadi penghafal al-Qur’an. Salah satunya dengan diusap kepalanya selalu.

Bagaimana dengan emak-emak yang ingin jadi penghafal al-Qur’an?

Pertanyaan bagus meski jawabannya berat. Hari ini metode menghafal sudah demikian banyak. Tapi kuncinya adalah istiqamah. Ini yang berat. Yakni menyiapkan waktu khusus dalam sehari untuk menghafal. Dia harus berani membuat tantangan dan komitmen menjalani.

Misalnya, apapun kesibukannya, saya siap meluangkan waktu satu jam satu hari untuk al-Qur’an. Kalau istiqamah, izin Allah urusan ini jadi mudah. Biar sedikit asal konsisten.

Pesoalan sekarang, terkadang ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang semangat di awal tapi pudar kembali. Ketika muncul metode baru semangat lagi tapi setelah itu loyo kembali. Akhirnya dia bilang, sudahlah saya memang tidak bisa menghafal. Ini salah.

Orang lain bisa mengajarkan banyak metode. Tapi soal disiplin mengatur waktu itu tanggung jawab diri sendiri. Kemampuan dan kecerdasan orang berbeda-beda. Tetapi semua orang bisa menghafal asal dia sabar dan istiqamah.

Ustadz lahir dari didikan orangtua yang lembut. Bagaimana bisa kuat dalam proses menghafal?

Ummi dan Abah memang lembut. Keduanya tidak pernah lepas memotivasi. Ini kuncinya juga. Saya sendiri mulai menghafal tahun 2004 dan benar-benar tuntas 30 juz pada tahun 2009. Sebelumnya hanya khatam setoran lepas saja. Setelah itu baru menghafal sedikit-sedikit kembali.

Pesan buat penghafal, hindari mengejar target setoran. Dahulukan muraja’ah. Itu lebih penting. Satu pekan tidak tambah hafalan lebih baik asal setiap hari tidak lepas dari muraja’ah. 90 persen muraja’ah dan 10 persen menambah hafalan. Ini nasihat buat pribadi saya. Jangan fokus ke banyaknya hafalan. Tambah sedikit-sedikit saja. Tetapi kalau ada yang cepat sampai 4 bulan misalnya, itu pemberian Allah.

Apakah boleh memotivasi anak dengan hadiah?

Kalau hadiahnya ada silakan. Asal jangan bohong, janji hadiah padahal tidak ada. Itu tidak boleh. Ummi sendiri sering memotivasi dengan iming-iming hadiah. Ummi pernah kirim uang untuk acara syukuran dan masak-masak waktu khatam hafalan dahulu.

Apa pengalaman paling “pahit” dari menghafal al-Qur’an?

Saya termasuk yang menyelesaikan hafalan agak lama. Mungkin karena terasa berat di permulaan. Tapi kalau boleh katakan, terberat itu ketika menghafalkan salah satu lembaran dari juz keenam surah al-Maidah, “Qalu ya Musa inna lan nadkhulaha abadan ma damu fiha…” sampai ke bawah.

Ini halaman tidak pernah saya lupakan dalam keadaan apapun sekarang. Guru di pesantren sudah begitu baik. Setiap kali tidak bisa menyetor dengan baik, kata ustadz tersebut, ulangi lagi nanti setor jam 08.00.

Tapi karena memang berat, sampai jam yang ditentukan, tetap saja hafalan saya masih kacau di juz enam itu. Akhirnya dihukum menghafal sambil berdiri, istilahnya mardud (hafalan tertolak). Masih dikasi waktu satu jam lagi untuk menghafal sambil berdiri.  Tapi rupanya tetap saja belum bisa. Singkat kata, sebilah bambu lumayan besar sukses menempel di paha waktu itu. Cambukan itu berbekas di paha berbekas di hati juga.

Mungkin bagi yang punya kecerdasan, tidak pernah merasakan pengalaman seperti itu. Artinya, cambukan bambu itu bukan masalah. Karena al-Qur’an memang tidak diraih dengan kecerdasan semata. Tapi dengan keistiqamahan.

Kalau pengalaman yang paling manis?

Pengalaman paling indah yang tak terlupakan terjadi di rumah Ustadz Andi Mappatang Yusuf, guru di Pesantren Darul Huffadh, Bone. Semoga Allah membalas setiap kebaikan guru-guru kami.

Malam itu perut sudah terasa begitu lapar. Sehingga terbayang, kalau setoran bakda Shubuh di rumah ustadz, minimal ada suguhan pisang goreng. Umumnya santri sudah hafal kebiasaan istimewa guru tersebut. Pisangnya tiga atau empat biji ditemani dengan teh manis ala masyarakat Bugis.

Benar saja, Allah menepati janji sesuai prasangka hamba-Nya. Pisang gorengnya bahkan lebih dari biasanya. Bagi santri ini sangat istimewa dan benar-benar membahagiakan. Apalagi memang dalam keadaan lapar. Sebab santri punya sebungkus garam saja sudah dianggap kaya pada masa itu.

Pernah juga, masa kuliah di Madinah, tiba-tiba ada mobil tak dikenal menghampiri dan (orang di dalamnya) langsung ngasih selembar 500 riyal Saudi atau sekitar dua juta rupiah. Intinya, bersama al-Qur’an itu selalu istimewa.* (Abu Jaulah/MCU)

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baharun MusaddadhafizhHeadlinemenghafal al-Quranpenghafal al-QuranRamadhanRamadhan 1444H/2023M
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hidayatullah Masjid Al-Aqsha Penetapan 1 Syawal Hidayatullah Mengikuti Jumhur
Tulisan selanjutnya Pergerakan Advokat: RUU Perampasan Aset Senjata Pamungkas Memberantas Korupsi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT

Berita
13 Juni 2026 11:14
Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
AS-Iran Capai Kesepakatan Final, Trump dan Pezeshkian Resmikan Memorandum
Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi
Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh

Terbaru

  • Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada
  • MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT
  • AS-Iran Capai Kesepakatan Final, Trump dan Pezeshkian Resmikan Memorandum
  • AI Grok Besutan Elon Musk Dipakai dalam Serangan AS Terhadap Iran
  • Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang
  • Hijrah Digital adalah Upaya Memuliakan Waktu di Era Teknologi
  • Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
  • Wakaf Al-Qur’an, Tumbuhkan Generasi Qurani di Cibuntu
  • Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
  • Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

Mungkin Anda Juga Suka

baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Wawancara

Septi Ciptakan Metode Keren Belajar Online

12 April 2021 09:48
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?