Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Bapak Paskibraka Indonesia ternyata Seorang Habib

Tahukah Anda siapa Bapak Paskibraka Indonesia? Habib Husein Mutahar bukti nyata bahwa semangat cinta tanah air dan perjuangan tak mengenal batas

Ahmad
Terakhir diupdate: 17 Agustus 2025 16:14 4:14 pm
Ahmad
Dipublikasikan 17 Agustus 2025 19:00
Bagikan
Habib Muhammad bin Husein al-Mutahar, atau Husein Mutahar merupakan bapak Pakisbraka Indonesia
Bagikan

Hidayatullah.com | TIDAK banyak yang tahu, sosok penggagas upacara pengibaran bendera pusaka dan pendiri Paskibraka ternyata adalah seorang Habib. Dialah Habib Muhammad bin Husein al-Mutahar, atau lebih dikenal dengan nama Husein Mutahar, pria kelahiran Semarang, 5 Agustus 1916, yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri bagi bangsa.

Daftar isi
  • Penggagas Upacara Pengibaran Bendera
  • Karier Diplomasi
  • Penghargaan dan Akhir Hayat
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Mutahar menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), kemudian MULO, hingga Algemene Middelbare School di Yogyakarta. Ia juga sempat mengaji Al-Qur’an dan nyantri, sebelum akhirnya melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum UGM. Namun, masa mudanya segera tersedot ke dalam revolusi kemerdekaan.

Ia turut serta dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang, menjadi sekretaris Panglima Angkatan Laut RI, serta dipercaya membawa bendera pusaka saat agresi Belanda. Untuk menghindari dirampas penjajah, ia menyobek bendera menjadi dua bagian, lalu menjahitnya kembali setelah situasi aman.

Penggagas Upacara Pengibaran Bendera

Pada 1946, di tengah suasana genting, Presiden Soekarno meminta Mutahar merancang upacara pengibaran bendera di Yogyakarta. Mutahar mengusulkan agar pemuda-pemudi dari berbagai daerah yang melaksanakannya, simbol persatuan bangsa.

Kala itu, lima pemuda terpilih—dua laki-laki dan tiga perempuan—bertugas mengibarkan sang saka merah putih.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

“Kelima pemuda yang bertugas… merepresentasikan 5 sila dalam Pancasila,” tulis Detik (2024).

Gagasan inilah yang menjadi embrio Paskibraka. Pada masa Orde Baru, 1967, Presiden Soeharto kembali meminta Mutahar menyempurnakan konsepnya dengan formasi 17-8-45: Pasukan 17 pengiring, Pasukan 8 inti pembawa bendera, dan Pasukan 45 pengawal. Tradisi ini terus berlangsung hingga kini.

Karier Diplomasi

Di luar bidang kepaskibrakaan, Mutahar juga menjabat Duta Besar Indonesia untuk Vatikan (1969–1973) dan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974). Kemampuannya berbahasa asing membuatnya dipercaya dalam diplomasi internasional.

Namun, publik lebih mengenal Mutahar sebagai komponis nasional. Ia menciptakan lagu monumental “Syukur” (1945), “Hari Merdeka” (1946), hingga “Dirgahayu Indonesiaku” (1995). Selain itu, ia juga menggubah “Hymne Pramuka” dan puluhan lagu anak-anak.

Meski dikenal luas, identitas beliau sebagai Habib jarang tersorot. “Masyarakat luas tak tahu kalau beliau Habib (keturunan Nabi Muhammad SAW)…,” tulis Biografi Tokoh Ternama (2019).

Mutahar tidak menikah, tetapi mengangkat delapan anak (enam laki-laki, dua perempuan) yang ia besarkan dengan penuh kasih. Ia juga merupakan paman dari ulama kharismatik Semarang, Habib Umar Mutahar.

Penghargaan dan Akhir Hayat

Atas jasa-jasanya, Mutahar dianugerahi Bintang Gerilya dan Bintang Mahaputra Pratama. Ia wafat di Jakarta, 9 Juni 2004, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bapak Pakisbraka IndonesiaHabib Husein MutaharHeadlinePakisbrakaPilihan Redaksiupacara bendera
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemilihan Israel perdamaian Menerima Tawaran ‘Israel’ Menampung Warga Gaza Bentuk “Kebodohan”
Tulisan selanjutnya Kekurangan Serdadu, ‘Israel’ Rayu Pemuda Yahudi Diaspora Jadi Tentara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza

Berita
2 Juli 2026 19:40
MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial

Terbaru

  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
  • Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
  • Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
  • Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza
  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?