Hidayatullah.com—Setelah disahkannya perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara ‘Israel’ dan faksi-faksi perlawanan Palestina, termasuk Hamas, perhatian kini beralih ke langkah-langkah “hari setelah perang” — sebuah fase yang oleh banyak pengamat disebut sebagai pengakuan diam-diam atas kemenangan keteguhan rakyat Gaza.
Media ‘Israel’ Kanal 14 melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Jumat sore menggelar pertemuan penting dengan pejabat tinggi Amerika Serikat di Washington. Diskusi itu dihadiri utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, serta Komandan Komando Sentral AS Laksamana Brad Cooper.
Dari pihak ‘Israel’ hadir Menteri Pertahanan Y’Israel’ Katz, Menteri Urusan Strategis Ron Dermer, dan Kepala Staf Angkatan Darat Eyal Zamir.
Pertemuan ini disebut-sebut membahas masa depan Gaza pasca-penarikan pasukan penjajah ‘Israel’ dan mekanisme implementasi perjanjian yang dimediasi Qatar, Mesir, dan Turki, dengan dukungan Presiden AS Donald Trump.
Namun, di tengah perbincangan itu, nada kekhawatiran kuat muncul di media ‘Israel’ tentang bagaimana “hari setelah perang” akan diatur — terutama karena faksi-faksi Palestina menegaskan bahwa masa depan Gaza adalah urusan rakyat Palestina sendiri, bukan agenda asing.
‘Israel’ Terpaksa Menerima Gencatan Senjata
Setelah hampir dua tahun genosida dan serangan brutal yang menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan melukai hampir 170.000 orang, ‘Israel’ akhirnya menandatangani kesepakatan yang menghentikan agresi militernya.
Perjanjian yang diumumkan Kamis malam oleh Presiden Trump di Washington mencakup penarikan pasukan ‘Israel’ secara bertahap dari Jalur Gaza, masuknya bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, serta pertukaran tahanan secara bertahap.
Menurut laporan Al Jazeera dan Anadolu Agency, kesepakatan ini merupakan hasil dari empat hari perundingan intensif di Sharm el-Sheikh antara delegasi Hamas dan ‘Israel’ melalui mediasi tidak langsung.
Tel Aviv memperkirakan masih ada 48 tawanan ‘Israel’ di Gaza, termasuk sekitar 20 orang yang masih hidup. Sementara itu, di penjara-penjara ‘Israel’, terdapat lebih dari 11.100 tahanan Palestina, banyak di antaranya mengalami penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis — dengan puluhan di antaranya gugur di balik jeruji, menurut laporan media dan lembaga hak asasi Palestina.
Hari Baru untuk Gaza
Meski Netanyahu mencoba menegaskan bahwa ia “tidak akan mengizinkan Hamas atau Otoritas Palestina memerintah Gaza”, kenyataannya di lapangan menunjukkan hal lain. Ribuan warga Gaza mulai kembali ke rumah-rumah mereka di wilayah utara dan Kota Gaza setelah pasukan ‘Israel’ menarik diri.
“Rakyat Gaza tidak menunggu izin dari siapa pun untuk hidup dengan martabat. Mereka telah membayar harga kemerdekaan dengan darah dan keteguhan, ” kata salah satu pemimpin Hamas kepada Anadolu Agency.
Sejumlah pengamat menyebut pertemuan Netanyahu dan pejabat AS sebagai tanda ‘Israel’ kehilangan kendali atas arah akhir perang. “Diskusi tentang ‘hari setelah’ sesungguhnya adalah pengakuan kekalahan moral dan politik ‘Israel’,” tulis analis Al Jazeera, Marwan Bishara.
“‘Israel’ gagal menghancurkan Hamas, gagal menundukkan rakyat Gaza, dan akhirnya terpaksa menerima kesepakatan yang ditentukan oleh lawannya.”
Kemenangan Moral dan Politik
Perjanjian gencatan senjata ini disambut dengan sorak takbir dan tembakan perayaan di berbagai wilayah Jalur Gaza. Warga membawa bendera Palestina dan poster para syuhada sambil menyalakan obor kemenangan di reruntuhan bangunan.
“Ini bukan sekadar akhir perang, ini awal dari babak kebebasan, ” kata seorang warga Gaza kepada reporter Al Jazeera.
Sementara itu, pejabat-pejabat Hamas menyebut kesepakatan ini sebagai “buah dari keteguhan, kesabaran, dan pengorbanan luar biasa rakyat Gaza selama 733 hari neraka”. *




