Konflik ini membuka kemungkinan melemahnya dominasi Barat, namun belum cukup bukti untuk memastikan bahwa Amerika Serikat benar-benar menuju titik nadirnya.
Oleh: Imam Nawawi
Hidayatullah.com | SERANGAN Amerika Serikat-Israel terhadap Iran menghadirkan situasi yang mengusik nalar publik. Pada awalnya, banyak pihak menduga bahwa Amerika Serikat dan Israel hanya memerlukan waktu singkat untuk melumpuhkan Iran. Namun, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda.
Iran justru mampu merespons secara konsisten setiap serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Padahal, jika melihat data, belanja pertahanan Iran hanya sekitar 15,45 miliar dolar AS, atau setara dengan 1,7 persen dari belanja militer AS. Sementara itu, Israel sebagai sekutu utama AS memiliki anggaran pertahanan sekitar 31 miliar dolar AS. Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Iran justru memaksa Washington dan Tel Aviv bekerja lebih keras dari perkiraan awal.
Fakta ini mendorong sebagian kalangan mempertanyakan: apakah ini sekadar konflik militer biasa, atau justru menjadi indikasi awal pergeseran kekuatan global?
Amerika Serikat selama ini dipahami sebagai simbol dominasi peradaban Barat. Dalam perspektif sejarah, melemahnya suatu peradaban kerap ditandai oleh menurunnya kapasitas inovasi dan keunggulan ilmu pengetahuan.
Indikasi tersebut juga dapat dibaca dari sisi strategi militer. Asisten profesor tamu di Fletcher School, Universitas Tufts, sekaligus peneliti di Middle East Center London School of Economics, Arash Reisinezhad, sebagaimana dikutip Kompas, menilai bahwa Amerika Serikat keliru dalam menerapkan strategi untuk melumpuhkan Iran.
Strategi yang digunakan cenderung monoton, yakni dengan asumsi bahwa menjatuhkan pucuk pimpinan Republik Islam akan membuat negara tersebut runtuh. “Singkirkan kepala Republik Islam, dan negara itu akan runtuh.” Pendekatan seperti ini, menurutnya, tidak efektif dalam konteks Iran.
Pudarnya Kekuatan AS terhadap Sekutu
Selain persoalan strategi, dinamika aliansi global juga menunjukkan gejala yang tidak kalah penting. Kelemahan Amerika Serikat tidak hanya terletak pada kesalahan dalam mengkalkulasi Iran, tetapi juga pada tidak solidnya dukungan dari sekutu-sekutunya.
BBC melaporkan bahwa Inggris, Jerman, Australia, Spanyol, dan Jepang secara tegas menolak ajakan Presiden Donald Trump untuk terlibat lebih jauh dalam konflik dengan Iran, termasuk dalam pengiriman armada militer.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, juga menolak permintaan tersebut dengan mengatakan, “Apa yang diharapkan Trump dari segelintir fregat Eropa yang tidak mampu dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang begitu kuat? Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya.”
Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles, turut menegaskan, “Spanyol tidak akan pernah menerima solusi tambal sulam, karena tujuan utama haruslah mengakhiri perang, dan mengakhirinya sekarang.”
Kondisi ini menunjukkan bahwa solidaritas Barat tidak lagi sepenuhnya solid, terutama dalam menghadapi konflik berisiko tinggi. Perbedaan kepentingan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa semakin terlihat jelas.
Jika dalam situasi perang saja Eropa cenderung menahan diri, maka bukan tidak mungkin jarak politik akan semakin melebar pada fase pascakonflik, terlebih jika hasil perang tidak sesuai harapan Washington. Meski demikian, masih terlalu dini untuk memastikan arah sikap Eropa secara keseluruhan.
Dalam konteks ini, kondisi tersebut dapat dibaca sebagai indikasi melemahnya posisi Amerika Serikat dalam membangun konsensus global.
Menuju Titik Nadir atau Sekadar Transisi?
Pertanyaannya kemudian, apakah semua ini merupakan tanda bahwa Amerika Serikat sedang menuju titik nadir sebagai pemimpin peradaban Barat?
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafi’i Ma’arif, pernah menyatakan bahwa dunia Arab berada di titik nadir peradaban—ditandai dengan ketidakstabilan dan kelemahan internal. Jika menggunakan logika terbalik (mafhum mukhalafah), sebagian pihak menilai bahwa kondisi yang kini dialami AS dan sekutunya dapat dibaca sebagai gejala serupa.
Namun, pendekatan ini tentu tidak bisa diterapkan secara sederhana. Meski demikian, secara konseptual, ketidakstabilan internal memang kerap menjadi indikator awal melemahnya suatu peradaban.
Saat ini, Barat tidak lagi sepenuhnya tunggal. Terdapat perbedaan pendekatan antara Amerika Serikat dan Eropa, bahkan hingga Australia. Dalam sejarah, fenomena serupa pernah terjadi pada peradaban Romawi yang terpecah menjadi Romawi Barat dan Romawi Timur.
Ungkapan bahwa “peradaban besar tidak dibunuh, melainkan mengakhiri dirinya sendiri” menjadi relevan untuk menggambarkan kondisi ini. Di bawah kepemimpinan Donald Trump, sejumlah kebijakan dinilai kontroversial dan kurang mempertimbangkan dinamika politik serta hukum domestik, termasuk keputusan menyerang Iran tanpa melalui mekanisme kongres.
Dalam sejarah peradaban, kepemimpinan yang lemah—baik secara moral maupun dalam penentuan prioritas—sering menjadi faktor utama keruntuhan. Ketika kepentingan pribadi lebih dominan dibanding kepentingan publik, kepercayaan (trust) pun mulai terkikis.
Jika skenario pelemahan ini berlanjut, dampaknya berpotensi meluas hingga ke sistem ekonomi global. Dominasi dolar AS bisa saja melemah, sementara mata uang lain seperti yuan berpotensi menguat, meski belum tentu secara permanen.
Sejumlah faktor internal juga memperkuat tekanan terhadap Amerika Serikat, termasuk penolakan sebagian masyarakat terhadap kebijakan perang. Hal ini menunjukkan adanya problem domestik yang tidak bisa diabaikan.
Dalam bukunya Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed, Jared Diamond menjelaskan bahwa runtuhnya peradaban bukanlah misteri, melainkan konsekuensi dari pilihan manusia dalam mengelola sumber daya dan relasi sosial.
Jika menilik ke belakang, sebelum konflik dengan Iran, kebijakan luar negeri AS juga menuai kontroversi, termasuk terkait Venezuela. Motif perebutan sumber daya, seperti minyak, kerap menjadi benang merah dalam dinamika ini.
Pola semacam ini memiliki kemiripan dengan penyebab runtuhnya peradaban-peradaban besar di masa lalu—yakni perebutan sumber daya yang berujung konflik berkepanjangan.
Meski berbagai indikasi tersebut tampak relevan secara logika, tetap diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan. Namun, sebagaimana ditegaskan Jared Diamond, proses kemunduran peradaban bukanlah sesuatu yang sulit dipahami.*
Pegiat Literasi Hidayatullah




