Hidayatullah.com – Belakangan ini marak pembicaraan di media sosial yang menempatkan Islam sebagai ‘pendatang’ dan membentur-benturkannya dengan ‘budaya Nusantara’. Fenomena demikian adalah latar belakang pemilihan topik untuk kajian daring Tuesday’s Special yang digelar oleh Sekolah Pemikiran Islam (SPI) pada Selasa (04/08) silam, sebagaimana disampaikan oleh narasumbernya, Dr. Akmal Sjafril.
Akmal memulai paparannya dalam kajian bertajuk “Islam, Indonesia dan Budaya Nusantara” itu dengan menunjukkan beberapa kasus Islamofobia yang pernah terjadi di Indonesia.
“Kita tidak bisa melupakan bagaimana seseorang yang diberi amanah sebagai Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila atau BPIP justru mengatakan bahwa agama adalah musuh Pancasila. Padahal di antara para perumus Pancasila itu semuanya beragama, bahkan sebagiannya adalah tokoh agama. Tak ada satupun di antara mereka yang merumuskan Pancasila untuk mengebiri agama atau membatasi kehidupan beragama di Indonesia,” ujar pendiri SPI ini.
Membenturkan Islam dengan ke-Indonesia-an, menurut Akmal, adalah suatu hal yang absurd, mengingat Islam itu sendiri adalah konteks yang sangat penting dalam memahami Indonesia, sebab mayoritas rakyat Indonesia telah memeluk agama Islam sejak berabad-abad lampau.
“Hal semacam itu bukan hanya disebutkan oleh para ulama atau aktivis Muslim, melainkan juga para akademisi Barat. M.C. Ricklefs, sejarawan penulis buku ‘Sejarah Indonesia Modern’, misalnya, memulai bukunya dengan penegasan bahwa penelaahan tentang Indonesia modern haruslah dimulai dari Islamisasi Nusantara, yang menurutnya dimulai sejak abad ke-13,” ujar doktor ilmu sejarah dari Universitas Indonesia (UI) ini.
“Sarjana Barat lainnya seperti George McTurnan Kahin juga terang-terangan menyatakan bahwa homogenitas agama yang dipeluk oleh masyarakat Nusantara adalah salah satu faktor penting yang menguatkan Indonesia pada masa-masa Revolusi dari tahun 1945 hingga 1949. Ketika kemerdekaan diproklamasikan pada tahun 1945, mayoritas rakyat Indonesia telah memeluk Islam. Bahkan ketika bangsa-bangsa Barat berdatangan ke Nusantara pada abad ke-16, mereka telah menemukan peradaban Islam di Nusantara, bukan peradaban animis-dinamis, Hindu, Budha, apalagi Kristen,” ungkap Akmal.
Berdasarkan semua fakta tersebut, sebenarnya dapat dikatakan bahwa kita tak bisa membayangkan Indonesia tanpa Islam. “Islam telah mewarnai kehidupan masyarakat di Nusantara jauh sebelum ada yang mendiskusikan hendak mendirikan sebuah negara kesatuan. Anda tak bisa menghapus Islam dari sejarah Indonesia. Kalau bicara pergerakan, harus menyebut nama Cokroaminoto. Bicara diplomasi harus menyebut nama Haji Agus Salim, bicara perjuangan militer pasti menyebut nama Jendral Sudirman, dan yang mengajukan Mosi Integral untuk meninggalkan bentuk negara federal pasca Konferensi Meja Bundar adalah Mohammad Natsir, mantan pimpinan partai Islam, Masyumi. Bagaimana Anda akan membenturkan Islam dengan ke-Indonesia-an, sedangkan Indonesia itu sendiri dibangun oleh masyarakat Muslim?” ujar Akmal lagi.
Salah satu kesalahan fundamental yang menyebabkan terjadinya keabsurdan ini, menurut Akmal, adalah pemahaman yang keliru tentang kebudayaan. “Mengutip penjelasan pakar antropologi Tanah Air, Prof. Koentjaraningrat, kebudayaan itu adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Dengan kata lain, kebudayaan itu melingkupi pemikiran, pola aktivitas dan hasil karya dari sebuah masyarakat,” papar lelaki berdarah Minang ini.
“Di Indonesia, kita sering mendengar istilah ‘melestarikan budaya nenek moyang’, padahal kebudayaan tidak dipahami secara statis begitu. Tidak ada bangsa yang pemikiran, aktivitas dan karya-karyanya tidak berubah sejak dahulu. Kalaupun ada, kita akan menyebutnya sebagai ‘bangsa yang tertinggal’. Perubahan bukan hanya realita, tapi memang harus terjadi. Dengan adanya globalisasi, pertukaran pemikiran terjadi semakin cepat dan masif, sehingga masyarakat Indonesia juga menerima pengaruh dari kultur lain. Lantas mengapa Islam dianggap sebagai ancaman, padahal ia sudah eksis dan mewarnai pemikiran masyarakat Nusantara sejak dahulu?” tandas Akmal.
Akmal mengaku heran menyaksikan sebagian orang bersikap seolah-olah Islam adalah pendatang yang mesti dimusuhi karena dianggap telah ‘merusak’ budaya Nusantara yang asli. “Pada kenyataannya semua agama yang eksis di Indonesia sekarang ini memang dibawa dari tempat lain. Hindu dan Budha dari India, Konghucu dari Cina, dan Kristen dari Eropa. Sebelum kedatangan agama-agama itu, masyarakat Nusantara memiliki kepercayaan animis dan dinamis. Tapi apa kepercayaan-kepercayaan itu juga asli Nusantara, sedangkan manusianya sendiri juga datang dari tempat lain. Sudah banyak penelitian yang berusaha melacak negeri asal suku-suku bangsa penghuni Nusantara ini. Jadi, yang mana yang benar-benar ‘asli Nusantara’?” pungkas Akmal dengan retorikanya.
SPI adalah lembaga pendidikan non-formal yang program utamanya adalah menyelenggarakan kursus singkat pemikiran Islam. Saat ini, kursus singkat SPI telah digelar di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Informasi lengkap mengenai program dan kegiatan SPI dapat diakses di akun-akun media sosialnya.*/SPI Media Center




