Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Racun Logika Satrio Piningit

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Juli 2023 17:20 5:20 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Juli 2023 17:50
Bagikan
Bagikan

Jangan sampai narasi Ratu Adil dan racun Satrio Piningit meninabobokan rakyat marjinal, sehingga pembodohan lagi menjadi agenda terselubung bagi politisi busuk

Oleh: Mu’min Roup

Hidayatullah.com | SASTRAWAN Sunda, Ajip Rosidi pernah menyatakan bahwa ramalan Siliwangi tak pernah terbukti secara nyata dalam sejarah Indonesia. Jika menilik kebenaran ramalan Jayabaya itu hanya bersumber dari teks-teks yang tertulis beberapa abad sesudahnya.

“Jika pun ramalan tentang Ratu Adil benar adanya, siapapun tak bisa memastikan apakah sosok Ratu Adil itu sudah terjadi ataukah belum?” demikian tegas Ajip Rosidi.

Pada prinsipnya, setiap ramalan akan datangnya Ratu Adil (Satrio Piningit) mengindikasikan adanya harapan yang utopis akan datangnya hidup yang serba makmur, ideal, dan terbebas dari segala cobaan dan ujian. Padahal sejatinya, tak ada kehidupan di dunia ini yang terbebas dari masalah, biarpun sang pemimpin itu seorang wali, santo, bahkan nabi sekalipun.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Dalam sejarah kapanpun dan negeri manapun, nasib peradaban suatu masyarakat dan bangsa, tak ubahnya seperti roda yang terus berputar. Ada musim hujan ada paceklik, ada kemakmuran ada kekurangan pangan, bahkan ada kemenangan dan kekalahan.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri tak sanggup memprediksi apa-apa yang bakal terjadi dengan pasukannya yang luluh-lantak pada saat Perang Uhud. Meskipun, sebelumnya (Perang Badar) pengikutnya telah mengalami kemenangan yang gilang-gemilang. Setiap ramalan (termasuk Jayabaya) tak pernah mengabarkan apa yang terjadi setelahnya, dan siapakah sosok sebenarnya dari sang Ratu Adil tersebut?

Munculnya sikap fatalistik dari para penganut kepercayaan ini, akan menimbulkan sikap skeptis manakala siapa yang menjadi idolanya belum muncul. Mereka bahkan berkorban untuk menyerahkan nasib hidupnya demi untuk menyambut kedatangannya.

Padahal, bukankah kemakmuran dan kejayaan hanya mungkin terjadi, jika setiap elemen masyarakat memiliki kepekaan dan kepedulian untuk berbuat, baik dalam hal yang sederhana sekalipun?

Tidak ada seorangpun yang boleh diam tanpa kontribusi untuk menciptakan perubahan itu sendiri. Sikap skeptis dan fatalistik, justru akan menghambat kemajuan serta merugikan negeri kita sendiri.

Sikap skeptis dengan bergantung pada nasib orang lain, juga akan merugikan perubahan yang ada dalam diri sendiri. Sedangkan, konsep ideal yang diteladani orang-orang bijak, hendaknya perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita.

Setiap individu harus bertanggung jawab melakukan perubahan, dan tak lagi hanya menanti-nanti datangnya sang nasib.

Untuk itu, jangan sampai narasi Ratu Adil dimanfaatkan untuk meninabobokan rakyat marjinal, sehingga pembodohan dan pendangkalan lagi-lagi menjadi agenda terselubung bagi kaum politisi yang berkepentingan menjadi penguasa di negeri ini.

Ramalan Satrio Piningit

Pramoedya Ananta Toer pernah memberi peringatan agar bangsa ini jangan bergantung pada hal-hal yang irrasional dan tak masuk akal. Kepercayaan pada ramalan akan melemahkan daya pikir dan ikhtiar manusia, karena ia cenderung menggantungkan hidupnya pada nasib buta tanpa harapan dan cita-cita.

Kepercayaan pada sang Ratu Adil sebegitu melekat dalam kehidupan masyarakat kita. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah “Satrio Piningit” (artinya sang juru selamat).

Kepercayaan pada juru selamat tak terlepas dari ramalam pujangga Jayabaya, syair-syair Ronggowarsito, hingga dokumen-dokumen klasik seperti Kalatidha dan Darmogandul. Dalam karya prosa, “Ramalan Sang Pujangga” (www.solopos.com) justru mengindikasikan para seniman senior yang banyak berkarya di masa Orde Baru, telah diselubungi mental khurafat dan takhayul untuk melumpuhkan para penulis muda yang dianggap “mengancam” status quo kepentingan mereka.

Ramalan yang menyebut-nyebut akan munculnya tujuh sastrawan muda yang naik daun, tak ubahnya dengan dokumen gaib tentang tujuh satrio piningit yang akan memimpin dan menguasai bekas wilayah Majapahit.

Konon, ketujuh penguasa itu adalah Satrio Kinunjara Murwa Kuncara, Satrio Mukti Wibawa Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumela Atur, Satrio Lelana Tapa Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapura, dan Satrio Pinandita Sinisihan Wahyu.

Sementara, keyakinan terhadap sang Ratu Adil di kalangan masyarakat Sunda, sangat terkait erat dengan mitos-mitos tetua Sunda di seputar Raja Siliwangi. Mitos itu seakan mengisyaratkan kehidupan masa depan yang terbebas dari masalah, terutama ketika munculnya sang Ratu Adil yang arif dan bijaksana, serta akan dijuluki sebagai “Bocah Angon” (Sang Penggembala).

Pemilu dan Ratu Adil

Tidak sedikit masyarakat yang meyakini bahwa Ratu Adil kelak akan memimpin negeri ini, serta akan muncul di antara para kandidat presiden RI menjelang pemilu 2024 ini. Di setiap pemilihan umum, sebagian masyarakat tidak hanya memilih melainkan juga mencari-cari sang juru selamat.

Fenomena ini sering dimanfaatkan kaum politisi, hingga menjadi komoditas empuk untuk membungkam dan meninabobokan masyarakat awam.

Secara historis, kepercayaan kepada sang Ratu Adil seakan mengejawantah sejak era Pangeran Diponegoro yang berani memimpin pemberontakan terhadap pendudukan Belanda.

Menyusul di awal abad ke-20 (tahun 1919) ketika seorang warga Jawa Timur (Jebrak) berambisi ingin mengembalikan kejayaan Majapahit. Di pertengahan abad ke-20 tak asing lagi, figur bapak bangsa Soekarno, yang juga digadang-gadang sebagai sang juru selamat (Satrio Piningit).

Meskipun sudah memasuki era milenial serta munculnya generasi AI (artificial intelligence), seakan tak menggerus kepercayaan sebagian masyarakat pada kedigdayaan Sang Ratu Adil.

Akhir-akhir ini, semakin marak kepercayaan sebagian masyarakat pada figur yang dianggap mumpuni. Fenomena ini, tak terlepas dari sistem pemerintahan kita yang mengacu pada kekuasaan raja-raja di berbagai daerah dan kepulauan.

Sang raja dianggap memiliki legitimasi politik sekaligus spiritual bagi para kawula. Ia dianggap sebagai “titisan” para dewata, hingga rakyat memberikan loyalitas penuh kepadanya.

Di sisi lain, seorang tokoh spiritual (ulama dan habaib) yang dianggap guru yang memiliki otoritas, serta dianggap mampu memberikan arahan dan bimbingan kepada masyarakat.

Bahkan di pusat ibukota Jakarta, kita masih menemukan orang-orang yang hidup-matinya dicurahkan sepenuhnya bagi perjuangan untuk membela sang raja, ulama maupun habaib, biar serendah apapun kualitas spiritual maupun wawasan kebangsaan dan kenegarawanannya.*

Dosen Pendidikan Kewarganegaraan pada fakultas Hukum dan Syariah, di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinepemiluratu adilSatrio Piningit
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menuju Rakernas, Pemuda Hidayatullah Silaturahmi ke Kemenag RI
Tulisan selanjutnya Hubungan Yahudi-Islam dan Penghianatanya di Masa Rasulullah ﷺ

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Berita
17 Juli 2026 15:23
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?