Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Biidznillah, dan Olok-olok Kaum Intoleran, Romo Benny pun Berpolitik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Februari 2021 11:51 11:51 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Februari 2021 11:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Satu kata dari narasi panjang yang disampaikan Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, itu menyentakkan kesadaran, bahwa manusia itu lemah di hadapan-Nya. Sebuah pengakuan diri yang tulus.

Anies menyampaikan itu di hadapan warga yang didatanginya, karena di daerahnya banjir bisa diatasi dengan waktu tidak kurang dari 24 jam. Biasanya di daerah itu, kawasan Rawa Buaya, banjir pada tahun-tahun sebelumnya akan surut dalam 4-5 hari.

Ikhtiar memang diupayakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menanggulangi banjir, atau setidaknya menangani banjir jika datang dengan langkah cepat dan meminimalisir dampak yang ditimbulkan. Itulah yang disebut kerja terukur.

Satu kata yang diucap Anies itu sungguh menyentakkan kesadaran, bahwa ikhtiar yang diupayakan dengan sungguh-sungguh, bahkan dengan basic sains segala, itu tidak pasti akan berhasil jika tidak atas izin Allah.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Baca: Rasisme, Anies Baswedan, dan Jejak Darah Kepahlawanan

Anies menyampaikan itu dengan bahasa agama, biidznillah, yang bermakna izin Allah. Lalu kata biidznillah itu menjadi pembahasan ramai. Satu pihak mayoritas senang mendengar kata itu diucapkan oleh pejabat yang masih menjabat.

Karena memang jarang kata itu dipilih untuk menyatakan sebuah pengakuan bahwa sejatinya manusia itu lemah, jika tanpa izin-Nya. Kata biidznillah itu sungguh berarti, jika kata itu diucap dari mulut pejabat atau pemimpin, dalam strata apa pun itu.

Kata biidznillah, itu pengakuan dari yang bersangkutan, bahwa sejatinya kata itu yang dibutuhkan dalam kerja-kerjanya. Tanpa biidznillah, mustahil keberhasilan itu bisa dicapai. Itulah bagian dari penyerahan diri total atas-Nya.

Kata biidznillah diucap Anies itu dengan rasa kesyukuran, bahwa ikhtiar yang selama ini diupayakan bersama jajaran pemerintah daerah, menemukan hasilnya dengan biidznillah. Itulah ucap syukur sekaligus pernyataan yang menekan ego manusiawi.

Tidak banyak yang bisa mengucap kata biidznillah itu, saat keberhasilan dicapai. Yang ada biasanya Tuhan dikesampingkan saat menuai keberhasilan. Maka, kata biidznillah yang diucap Anies, itu bentuk penyadaran diri, pengakuan diri yang serba terbatas.

Kata biidznillah ini, seharusnya diyakini, setidaknya bagi manusia beriman, dan itu tentu lintas agama, tidak monopoli agama tertentu. Tapi bagi mereka yang beragama sekadar beragama, agama cuma sampiran saja, maka kata biidznillah ini lalu jadi bahan olok-olok.

Bahan Olok-olok Kaum Intoleran

Saat Anies menyampaikan kata “biidznillah”, televisi menyiarkan itu, terbersit dalam pikiran pastilah kata itu akan digoreng mereka yang selama ini memilih berhadapan dengan Anies Baswedan. Mereka biasa disebut dengan buzzer, atau manusia berangka, karena semuanya dinilai dengan uang.

Mereka diupah dengan tugas untuk menyerang Anies dengan segala cara. Menyerang apa saja yang bisa diserang, bahkan jika tidak ada yang bisa diserang, karena tidak ditemukan kesalahan, maka menjadi “halal” menyerang pada unsur SARA sekalipun.

Baca: Tidak Sekadar Banjir Jakarta, Tapi Upaya Pembusukan Sistemik

Maka sikap intoleran buat mereka menjadi kelaziman. Memprihatinkan memang. Bangunan suasana inilah yang muncul seolah difasilitasi, sehingga apa yang dilakukan itu bisa menimbulkan gesekan keras di tengah masyarakat.

Andi Sinulingga, Aktivis Kolaborasi Warga Jakarta, yang prihatin melihatnya. Dan lalu menegur Ferdinand Hutahaean, yang bicara di luar batas kepatutan, dan itu menurutnya laku intoleran.

Ferdinand Hutahaean, lagi-lagi mencoba menghantam Anies, seperti petinju yang bertanding beda kelas. Lalu ia menyasar hal intoleran yang tabu untuk diusik. Ferdinand mengusik bukan saja pribadi Anies Baswedan, tapi umat Islam. Ferdinand mencoba menaikkan “tawaran” serangannya, melihat sejauh mana soliditas umat Islam itu ada. Ini sih gaya intelejen.

Tentu semua lalu bisa menilai, siapa Ferdinand Hutahaean itu, dan mustahil ia berani bicara nekat menyentuh hal-hal dasar keberagamaan, dan itu intoleran. Satu sikap yang dihindari diusik manusia beradab. Umat Islam pastilah akan sabar “dijuliti” manusia semacam Ferdinand ini, karena tahu muaranya akan ke mana.

Ferdinand mengomentari pemberitaan, dengan judul: “Atas Izin Allah Banjir 99,9% Surut pada Minggu, Hari Ini 100% Surut”. Judul itu merujuk pada sambutan Anies di hadapan warga.

“Atas izin Allah juga banjir itu terjadi. Makanya lu ga usah kerja, semua sudah diatur oleh Allah,” cuit Fedinand, seperti bicara tanpa nalar.

Baca: Anies Presiden, Jakarta Bebas Banjir, In Syaa Allah

Andi Sinulingga, yang lalu memperingatkan Ferdinand agar tidak sembarangan bicara, dalam hal ini bicara tentang Islam. Dalam prinsip Islam, istilah “insha Allah” itu dipakai ketika manusia ingin menundukkan kesombongan diri sendiri dan jauh dari perasaan takabur (23/2).

Tambahnya dengan geram, “Lalu kenapa ditafsirkan yang aneh-aneh sekehendak diri anda bung? Anda kan katanya toleran pada agama lain? Sehat bung? Lu bukan lagi mengkritik Anies, tapi sudah masuk menyinggung pada hal-hal yang prinsip di dalam Islam,” tegasnya.

Melihat Ferdinand itu tidaklah pas jika dilihat dari aspek manusia normal, yang jauh dari sikap rasisme dan intoleran, itu agar kita tidak terlalu nelangsa. Kata tanya dari Andi Sinulingga, “Sehat bung?”, itu tersirat karena kata intoleran tidak boleh keluar dari mulut orang waras.

RomPol Benny

Manusia macam Ferdinand Hutahaean ini akan terus menyemburkan kata-kata yang tidak saja akan melukai Anies Baswedan, tapi juga umat Islam dalam intensitas tinggi.

Jika umat terpancing, lalu terprovokasi, maka hancurlah bangunan kebangsaan ini jadi berkeping-keping. Ingin demikian?

Mestinya peran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu hadir dalam suasana negeri dalam kondisi masyarakat yang cenderung terbelah. Bukan hadir semacam Romo Benny Soesetyo, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP,  yang lalu ngocol bak buzzer menyerang Anies soal banjir Jakarta.

Tapi sayang ia diam membisu lihat fenomena buzzer yang cenderung merusak demokrasi, dan juga korupsi Bansos, yang semua itu menggerogoti sila-sila dalam Pancasila.

Baca: Anies Penghibur Jokowi yang Baik

Memangnya Romo Benny apa sih kepakarannya, apa pakar dalam hal penanggulangan banjir? Bicara semestinya dalam konteks kepakaran. Apa Romo Benny juga bicara lantang tentang banjir Jawa Tengah, yang hingga sebulan tidak kunjung bisa diatasi. Bicara cuma pada banjir Jakarta, itu sama saja  Romo Benny bagian dari gerombolan para buzzer.

Pantas saja lalu gelaran Romo, itu lalu dipelesetkan ekonom Rizal Ramli dengan RomPol = Romo Politik. Memang tampak nyata, bahwa Romo Benny sedang memainkan agenda lain dengan memframing, bahwa Ahok lebih baik dari Anies. Romo kok main politik, apalagi punya jabatan prestisius di BPIP, gak nyadar?

Soal banjir Jakarta yang biidznillah dapat teratasi dengan cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya, menjadi aneh kok malah Pak Anies diminta untuk mencontoh Pak Ahok saat menangani banjir Jakarta. Memangnya zaman Ahok memimpin DKI Jakarta, banjir bisa diatasi lebih baik saat Jakarta dipimpin Anies Baswedan? Romo Benny, sehat?! (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Anies BaswedanBanjir DKI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mohamed Bazoum Menang Pilpres Niger, Lawannya Tuding Ada Kecurangan
Tulisan selanjutnya Dr. Nashirul Haq: Inilah Kemenangan Dakwah Sesungguhnya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?