Hidayatullah.com– Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan kebahagiannya atas penghargaan Global Islamic Finance Report (GIFR) Award 2019 yang diraih Indonesia.
“Ini adalah suatu momen yang tentunya penting juga bersejarah bagi perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Penghargaan Award dari GIFR tahun 2019 ini menunjukkan perkembangan yang signifikan di Indonesia baik dalam keuangan syariah maupun di dalam ekonomi syariah,” jelas Bambang dalam Konferensi Pers Penyerahan GIFR 2019 Award, di Gedung Bappenas, Jakarta, Kamis (17/10/2019).
Ia memaparkan, di sisi keuangan baik dari Bank Indonesia, OJK, atau Kementerian Keuangan menunjukkan aset keuangan syariah Indonesia per Juni 2019 sudah hampir mencapai US 100 miliar dengan pangsa pasar 8,29 persen.
Selain itu, lanjutnya, total aset perbankan syariah di Indonesia tercatat mencapai Rp 499,34 triliun atau 5,95 persen dari total pangsa pasar keuangan syariah.
“Adapun sektor keuangan non bank syariah yang mencakup asuransi syariah, juga lembaga keuangan non bank syariah mencapai Rp 102,06 triliun. Di luar di sisi pasar modal Reksadana Syariah Rp 33,06 triliun. Sukuk negara dan sukuk korporasi, totalnya Rp 700,95 triliun,” katanya.
Baca juga: Indonesia Raih “Global Islamic Finance Report Award” 2019
Disebutkan, pada bulan Februari 2019, Indonesia kembali ke pasar sukuk global ketika berhasil mengumpulkan dua miliar dolar AS dari dual Tranche Global Green Sukuk dan sukuk Global Reguler. Dua penerbitan itu terdiri dari Green Sukuk US 750 juta dengan tenor 5,5 tahun yang jatuh tempo pada 20 Agustus 2024, dan sukuk reguler US 1,25 miliar dengan tenor 10 tahun yang jatuh tempo pada 20 Februari 2029.
Menurutnya, kapitalisasi saham syariah mencapai Rp 3.699,5 triliun pada akhir Juni 2019. Total aset yang dikelola oleh BMT diperkirakan sudah mencapai sekitar Rp 7,2 triliun.
“Di luar keuangan dan pasar modal tentunya tidak dilupakan fungsi sosial dari keuangan syariah, terutama zakat dan wakaf,” ujar Bambang yang juga menjadi Sekretaris Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) ini.
Bambang mengurai, total zakat yang terhimpun pada tahun 2018 berjumlah Rp 8,1 triliun, sedangkan potensi zakat diperkirakan mencapai US 26 miliar. Adapun jumlah wakaf tanah yang terhimpun sebanyak 366.700 lokasi (49.581,99 Ha) dan 61, 97 persen yang bersertifikat.
“Wakaf uang mencapai Rp 255 miliar dari 129 nazhir wakaf uang yang terdaftar periode 2011 sampai 2018 di Badan wakaf Indonesia,” jelasnya.
“Dari semua angka-angka itu menunjukkan bahwa Indonesia telah menjadi pemain penting dalam perkembangan keuangan syariah dalam skala nasional maupun internasional,” sebutnya.
Adapun yang menjadi tugas utama KNKS ialah mempercepat, memperluas, dan memajukan pengembangan ekonomi syariah untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional, tutup Bambang.* Azim Arrasyid