Hidayatullah.com–Puluhan ribu rakyat Mesir yang meminta turunnya Presiden Hosni Mubarak diserang oleh pasukan Garda Republik menggunakan gas air mata dan peluru karet.
Pada hari Jumat, para demonstran menyerbu gedung televisi nasional di Kairo, tetapi siaran tetap berlanjut seperti biasa.
Presiden Mubarak mengirimkan pasukan dan kendaraan lapis baja ke kota-kota di Mesir pada hari Jumat melawan para demonstran yang menuntutnya mengakhiri kekuasaan selama 30 tahun.
Meskipun jam malam telah diberlakukan di kota-kota seperti Kairo, Suez dan Alexandria, namun selama empat hari ini, ribuan orang tetap tumpah-ruah memenuhi jalanan untuk menentang pemerintah.
Korban meninggal dalam empat hari ini sudah mencapai 18 orang, termasuk dua pengunjuk rasa yang tewas di kota Mansoura pada Jumat Malam. Sadangkan 13 orang meninggal di Suez.
Pada umumnya, pengunjuk rasa mengaku muak melihat jumlah pengangguran, kemiskinan, korupsi, dan kurangnya kebebasan di bawah pemerintahan Mubarak. Para demonstran meneriakkan “Down, Down, Hosni Mubarak,” sebagian bahkan melemparkan batu ke arah polisi.
Selain itu, para demonstran juga membawa spanduk bertuliskan: “Ya untuk Persatuan Nasional”, “Tidak untuk Terorisme”, “Muslim dan Kristen adalah Satu”, dan
“Masjid dan Gereja adalah Satu,” tulis Reuters melaporkan.
Para pengunjuk rasa dikabarkan membakar pusat partai berkuasa Partai Demokratik Nasional (NDP) di Kairo. Bangunan ini terletak tepat di sebelah museum Mesir. Kantor cabang NDP di beberapa kota lainnya di seluruh negara itu tak luput jadi sasaran massa, kata saksi.
Massa yang mengamuk juga membakar sebuah bus polisi. Sumber-sumber medis Mesir mengatakan, hari Jumat pasukan keamanan menggunakan peluru karet, gas air mata dan water cannon untuk membubarkan massa, setidaknya lima pengunjuk rasa tewas dan 870 terluka.
Beberapa unit pasukan –menggunakan tank dan kendaraan militer– mengamankan museum dari kemungkinan penjarahan barang-barang antik kuno.
Aktivis utama Mohamed ElBaradei, pemenang Nobel Perdamaian, sempat ditahan polisi setelah ia sholat di salah satu masjid di Giza, tetapi kemudian ia terlihat ambil bagian dalam gerakan damai. *